GazanaPublika.com – Pernahkah Anda menyadari bahwa ketika Anda menyebut kata seperti meja, agama, iman, atau komputer, Anda sedang meminjam ucapan orang asing? Bahasa Indonesia adalah medan tempat pertemuan beragam budaya, sejarah, dan peradaban. Ia tumbuh dari tanah Nusantara, namun juga menampung suara dari India, Arab, Eropa, Tiongkok, bahkan dari ratusan bahasa daerahnya sendiri.
Dari sinilah muncul perbedaan mencolok antara bahasa asli dan bahasa serapan.
Kata-kata asli dalam bahasa Indonesia biasanya sangat dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan alam dan kegiatan dasar. Misalnya, kita menemukan kata-kata seperti makan, minum, tidur, lari, air, api, batu, tanah, kayu, daun, pohon, matahari, bulan, laut, dan ikan.
Bahasa asli biasanya berhubungan dengan aktivitas kerja dan nama-nama benda dan alam yang masih bebas dari pengaruh teknologi dan ajaran agama. Kosakata yang mengandung teknologi umumnya dipengaruhi oleh Belanda dan Inggris. Sedangkan agama di nusantara diawali dari agama Hindu dan Budha lalu Islam dan Kristen yang sangat banyak memberikan sumbangan kosakata di dalam bahasa Indonesia terkait hubungannya dengan agama.
Sedangkan kosakata asli Nusantara adalah kosa kata yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara sebelum mengenal dunia luar. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya bahasa kita dibentuk oleh kebutuhan praktis dan hubungan langsung manusia dengan alam.
Namun, seiring masuknya pengaruh luar, bahasa Indonesia menyerap ribuan kata dari berbagai bahasa asing—dan itu bukan sekadar pinjaman, melainkan proses adaptasi budaya. Bahasa pertama yang menginfiltrasi bahasa di Nusamtara adalah bahasa Sanskerta, yang datang melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha sejak abad awal Masehi. Ia membawa serta istilah-istilah seperti agama, dharma, raja, negara, pustaka, batara, manusia, dewa, naskah, sabda, pustaka, karya, surga, bhakti, dan candi. Kata-kata ini bukan hanya menambah kosakata, tapi juga memperkenalkan konsep-konsep spiritual dan sistem nilai.
Fase kedua datang pengaruh bahasa Arab melalui penyebaran Islam. Kita mengenal kata-kata seperti iman, amal, ruh, doa, sabar, syukur, adil, hak, makna, haram, halal, jemaah, musyawarah, amanah, dan hikmah. Bahasa Arab tidak hanya memperkaya aspek religi, tetapi juga mulai masuk ke ranah sosial dan politik.
Ketika Nusantara memasuki masa kolonialisme, pengaruh bahasa Belanda sangat dominan. Ia meninggalkan jejak kuat di bidang administrasi, pendidikan, teknologi, dan kehidupan rumah tangga. Kata-kata seperti kantor, insinyur, notulen, rel, truk, pompa, kompor, asbak, handuk, spanduk, gratis, oven, resleting, polisi, kartu, dan lemari kini terdengar sangat biasa dalam keseharian kita, padahal semuanya datang dari bahasa Belanda.
Sebelum Belanda, bangsa Portugis lebih dulu menginjakkan kaki di Nusantara. Dari mereka kita mewarisi kata-kata seperti gereja, meja, jendela, pintu, bendera, sepatu, boneka, keju, mentega, sabun, serbet, pesta, lemari, kereta, garpu, dan mentimun. Meski tidak sebanyak pengaruh Belanda, warisan Portugis tetap hidup terutama dalam istilah rumah tangga dan agama.
Nah, di era modern, bahasa Inggris datang sebagai tsunami pengaruh globalisasi, datang memberondong hampir mewarnai bahasa Indonesia khususnya di dunia teknologi seperti digital, dan hiburan membawa kata-kata seperti komputer, internet, software, printer, file, update, login, upload, chat, streaming, browser, scanner, mouse, klik, dan zoom atau bentuk-bentuk kata kerja seperti aktivitas, minimalisasi, normalisasi, korupsi dan sebagainya. Tak hanya istilah, tapi juga cara berpikir pun ikut berubah karena dominasi bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari dan profesional.
Sementara itu, bahasa Cina, khususnya dari dialek Hokkien dan Hakka, memperkaya kosakata kita lewat jalur perdagangan dan kuliner. Kata-kata seperti mie, tahu, kecap, angpau, bakpau, bakso, taoge, cawan, teko, lumpia, kuli, samsu, kuaci, lonceng, dan loteng adalah bukti betapa dalamnya interaksi Tionghoa dengan budaya lokal.
Menariknya, kita sering lupa bahwa bahasa Indonesia juga menyerap dari bahasa daerah, terutama karena asal-muasalnya dari bahasa Melayu. Kata-kata seperti jamu, nyong, ceuceu, ambo, lumbung, lauk, bocah, apak, doro, moke, cak, awak, gadang, mangga, dan nini menunjukkan kontribusi bahasa daerah yang terus hidup, bahkan dalam bahasa formal dan tulisan populer.
Semua kosakata ini, baik dari dalam maupun luar, membentuk bahasa Indonesia seperti sekarang—dinamis, adaptif, dan penuh lapisan sejarah. Dalam setiap percakapan kita, kita bukan hanya menyampaikan makna, tapi juga menghidupkan kembali jejak perjalanan panjang peradaban.
