Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Membedakan Bahasa Asli dan Bahasa Serapan

Membedakan Bahasa Asli dan Bahasa Serapan

Ragam Jumat, 1 Agustus 2025 20:36 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Sumber Foto: Islam.co

GazanaPublika.com –  Pernahkah Anda menyadari bahwa ketika Anda menyebut kata seperti meja, agama, iman, atau komputer, Anda sedang meminjam ucapan orang asing? Bahasa Indonesia adalah medan tempat pertemuan beragam budaya, sejarah, dan peradaban. Ia tumbuh dari tanah Nusantara, namun juga menampung suara dari India, Arab, Eropa, Tiongkok, bahkan dari ratusan bahasa daerahnya sendiri.

Dari sinilah muncul perbedaan mencolok antara bahasa asli dan bahasa serapan.
Kata-kata asli dalam bahasa Indonesia biasanya sangat dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan alam dan kegiatan dasar. Misalnya, kita menemukan kata-kata seperti makan, minum, tidur, lari, air, api, batu, tanah, kayu, daun, pohon, matahari, bulan, laut, dan ikan.

Bahasa asli biasanya berhubungan dengan aktivitas kerja dan nama-nama benda dan alam yang masih bebas dari pengaruh teknologi dan ajaran agama. Kosakata yang mengandung teknologi umumnya dipengaruhi oleh Belanda dan Inggris. Sedangkan agama di nusantara diawali dari agama Hindu dan Budha lalu Islam dan Kristen yang sangat banyak memberikan sumbangan kosakata di dalam bahasa Indonesia terkait hubungannya dengan agama.

Sedangkan kosakata asli Nusantara adalah kosa kata yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara sebelum mengenal dunia luar. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya bahasa kita dibentuk oleh kebutuhan praktis dan hubungan langsung manusia dengan alam.

Namun, seiring masuknya pengaruh luar, bahasa Indonesia menyerap ribuan kata dari berbagai bahasa asing—dan itu bukan sekadar pinjaman, melainkan proses adaptasi budaya. Bahasa pertama yang menginfiltrasi bahasa di Nusamtara adalah bahasa Sanskerta, yang datang melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha sejak abad awal Masehi. Ia membawa serta istilah-istilah seperti agama, dharma, raja, negara, pustaka, batara, manusia, dewa, naskah, sabda, pustaka, karya, surga, bhakti, dan candi. Kata-kata ini bukan hanya menambah kosakata, tapi juga memperkenalkan konsep-konsep spiritual dan sistem nilai.

BACA JUGA:  Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Fase kedua datang pengaruh bahasa Arab melalui penyebaran Islam. Kita mengenal kata-kata seperti iman, amal, ruh, doa, sabar, syukur, adil, hak, makna, haram, halal, jemaah, musyawarah, amanah, dan hikmah. Bahasa Arab tidak hanya memperkaya aspek religi, tetapi juga mulai masuk ke ranah sosial dan politik.

Ketika Nusantara memasuki masa kolonialisme, pengaruh bahasa Belanda sangat dominan. Ia meninggalkan jejak kuat di bidang administrasi, pendidikan, teknologi, dan kehidupan rumah tangga. Kata-kata seperti kantor, insinyur, notulen, rel, truk, pompa, kompor, asbak, handuk, spanduk, gratis, oven, resleting, polisi, kartu, dan lemari kini terdengar sangat biasa dalam keseharian kita, padahal semuanya datang dari bahasa Belanda.

Sebelum Belanda, bangsa Portugis lebih dulu menginjakkan kaki di Nusantara. Dari mereka kita mewarisi kata-kata seperti gereja, meja, jendela, pintu, bendera, sepatu, boneka, keju, mentega, sabun, serbet, pesta, lemari, kereta, garpu, dan mentimun. Meski tidak sebanyak pengaruh Belanda, warisan Portugis tetap hidup terutama dalam istilah rumah tangga dan agama.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Membaca: Ini Cara Menyerap Ilmu Paling Ampuh Menurut Sains, Metafisika, dan Mistis

Nah, di era modern, bahasa Inggris datang sebagai tsunami pengaruh globalisasi, datang memberondong hampir mewarnai bahasa Indonesia khususnya di dunia teknologi seperti digital, dan hiburan membawa kata-kata seperti komputer, internet, software, printer, file, update, login, upload, chat, streaming, browser, scanner, mouse, klik, dan zoom atau bentuk-bentuk kata kerja seperti aktivitas, minimalisasi, normalisasi, korupsi dan sebagainya. Tak hanya istilah, tapi juga cara berpikir pun ikut berubah karena dominasi bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari dan profesional.

Sementara itu, bahasa Cina, khususnya dari dialek Hokkien dan Hakka, memperkaya kosakata kita lewat jalur perdagangan dan kuliner. Kata-kata seperti mie, tahu, kecap, angpau, bakpau, bakso, taoge, cawan, teko, lumpia, kuli, samsu, kuaci, lonceng, dan loteng adalah bukti betapa dalamnya interaksi Tionghoa dengan budaya lokal.

Menariknya, kita sering lupa bahwa bahasa Indonesia juga menyerap dari bahasa daerah, terutama karena asal-muasalnya dari bahasa Melayu. Kata-kata seperti jamu, nyong, ceuceu, ambo, lumbung, lauk, bocah, apak, doro, moke, cak, awak, gadang, mangga, dan nini menunjukkan kontribusi bahasa daerah yang terus hidup, bahkan dalam bahasa formal dan tulisan populer.

Semua kosakata ini, baik dari dalam maupun luar, membentuk bahasa Indonesia seperti sekarang—dinamis, adaptif, dan penuh lapisan sejarah. Dalam setiap percakapan kita, kita bukan hanya menyampaikan makna, tapi juga menghidupkan kembali jejak perjalanan panjang peradaban.

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Ragam

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Ragam

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Ragam

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Ragam

Bukan Sekadar Membaca: Ini Cara Menyerap Ilmu Paling Ampuh Menurut Sains, Metafisika, dan Mistis

BERITA TERBARU

Tren Sengketa Informasi di Jabar Bergeser ke Sektor Pendidikan, Dipicu Alokasi Dana BOS

Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Copot Jabatan Pimpinan, Diduga Terkait Kasus Jual Beli Titik ‘SPPG’

Kasus Korupsi BGN: Eks Kepala dan Dua Mantan Wakil Resmi Menyandang Status Tersangka

Polda Banten Meringkus Debt Collector Yang Melakukan Perampasan dan Penganiayaan Terhadap Personel Brimob

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

Kritik dan Dialektika Kebijakan Alokasi Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.