Penulis: Uwa Suwung
GazanaPublika.com, Menuju berakhirnya bulan suci Ramadan, perhitungan astronomi Islam atau ilmu falak kembali menjadi rujukan awal dalam memprediksi datangnya Hari Raya Idulfitri. Melalui metode hisab falak taqribi klasik, sejumlah perhitungan dilakukan untuk memperkirakan posisi hilal penanda awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Perhitungan ini dilakukan dengan markaz pengamatan di Ciparahu, Cihara, Kabupaten Lebak, dengan koordinat 06°49’ Lintang Selatan dan 106°11’ Bujur Timur pada ketinggian 165 meter di atas permukaan laut.
,Berdasarkan berbagai metode hisab yang bersumber dari sejumlah kitab falak klasik, muncul dua kemungkinan prediksi awal Syawal. Sebagian metode memperkirakan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara sebagian lainnya memprediksi Sabtu, 21 Maret 2026. Perbedaan ini dipengaruhi oleh variasi hasil perhitungan tinggi hilal, elongasi bulan, serta lama keberadaan hilal setelah matahari terbenam.
Meski demikian, dalam tradisi penentuan kalender hijriah di Indonesia, hasil hisab tersebut pada dasarnya hanya berfungsi sebagai informasi awal dan pendorong untuk pelaksanaan rukyatul hilal. Keputusan resmi penetapan awal Syawal tetap menjadi kewenangan pemerintah melalui sidang isbat yang mempertimbangkan hasil rukyat serta kaidah fiqih yang berlaku.

Prediksi Hisab Tanggal 1 Syawal 1447 H
Lokasi (Markaz): Ciparahu, Cihara
Koordinat: 06°49’ LS – 106°11’ BT
Ketinggian: 165 mdpl
Standar Imkan Rukyat:
Irtifa’ 3° dan elongasi 6,4° (Neo MABIMS)
A. Versi Sulamunnairoin
Syawal 1447 H
1. Ijtima’
a. Waktu Ghurubiyah
• Hari : Kamis (05)
• Pukul : 13:16:04 GRB
b. Waktu Zawaliyah
• Hari : Kamis (05)
• Pukul : 07:16:04 WIS
c. Waktu Dairiyah (WIB/WITA/WIT)
• Hari : Kamis (05)
• Pukul : 07:19:26 WIB
• KWD : -00°03’22”
Ijtima’ Kontemporer
• Hari : Kamis Kliwon
• Tanggal : 19 Maret 2026
• Pukul : 08:26:16 WIB
Terbenam Matahari: 18:08:51 WIB
Data Hilal
• Tinggi Hilal : 05°21’58”
• Lama Hilal : 21 menit
• Qous Nur Hilal : 00°23’16”
• Keadaan Hilal : Miring ke utara
• Letak Matahari : 00°44’ Selatan titik Barat
• Letak Hilal : Utara markaz
• Besar Cahaya Hilal : 0,39 jari
Kesimpulan: Prediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.
B. Versi Fathurrauf
Ijtima’
• Hari : Kamis (05)
• Pukul Ghurubiyah : 13°50’47”
• Pukul Zawaliyah : 07°50’47”
Ijtima’ Kontemporer
• Hari : Kamis Kliwon
• Tanggal : 19 Maret 2026
• Pukul : 08:26:16 WIB
Terbenam Matahari: 18:08:51 WIB
Data Hilal
• Tinggi Hilal : 05°04’37”
• Lama Hilal : 20 menit
• Qous Nur Hilal : 00°27’16”
• Keadaan Hilal : Miring ke utara
• Letak Matahari : 00°45’ Selatan titik Barat
• Letak Hilal : Utara markaz
• Besar Cahaya Hilal : 0,45 jari
Kesimpulan: Prediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.
C. Versi Badi’atul Mitsal
Ijtima’
• Hari : Kamis Kliwon
• Tanggal : 19 Maret 2026
• Pukul : 08:26:16 WIB
Irtifa’ Hilal: 04°19’15”
Ta’liqot Badi’ah
• Tinggi Hilal Hakiki : 02°13’18”
• Upper : 02°11’54”
• Center : 01°55’56”
• Lower : 01°39’57”
• Topo : 01°14’50”
• Elongasi Geosentris : 05°45’03”
• Elongasi Toposentris : 05°13’36”
Kesimpulan: Prediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026
(Keterangan hisab: Istikmal)
D. Versi Nurul Ihsan
Ijtima’ akhir Ramadan 1447 H
• Hari : Kamis Kliwon
• Tanggal : 19 Maret 2026
• Pukul : 08:30 WIB
Terbenam Matahari: 18:08 WIB
Terbenam Hilal: 18:15 WIB
Data Hilal
• Tinggi Hilal Hakiki : 02°00’
• Tinggi Hilal Mar’i : 01°32’
• Elongasi Geosentris : 05°28’
• Elongasi Toposentris : 04°57’
Lama Hilal: 6 menit
Kesimpulan: Prediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
Ringkasan Hasil Hisab
Dari berbagai metode hisab falak klasik yang digunakan, terdapat dua kemungkinan penentuan awal Syawal 1447 H, yaitu:
• Jumat Legi, 20 Maret 2026
(Sulamunnairoin, Fathurrauf, Fadhlul Karim, Risalatul Qomaroin, Muntaha Nataiji al-Aqwal)
• Sabtu Pahing, 21 Maret 2026
(Badi’atul Mitsal, Nurul Ihsan, Irsyadul Murid, Nuru al-Anwar, Tadzkirotul Ikhwan, Tsimarul Murid)
Perbedaan ini terjadi karena variasi hasil perhitungan tinggi hilal, elongasi, dan kemungkinan terlihatnya hilal.

Catatan Penting
Perlu dipahami bahwa hisab hanyalah informasi dan alat bantu untuk pelaksanaan rukyatul hilal. Hisab bukan penentu mutlak awal Ramadan maupun Syawal. Dalam pelaksanaan ibadah, umat Islam tetap mengikuti kaidah fiqih dan keputusan otoritas yang berwenang.
Sebagaimana disebutkan oleh Sahl bin Abdullah At-Tustari dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi Juz 5 halaman 249:
“Taatilah pemimpin dalam tujuh perkara: pencetakan uang, takaran, timbangan, hukum, haji, Jumat, hari raya, dan jihad.”
Penetapan awal Ramadan dan Syawal melalui sidang isbat merupakan kewenangan pemerintah. Selama keputusan tersebut diambil dengan metode yang sesuai syariat, maka umat Islam dianjurkan untuk mengikutinya.
Kaidah fiqih menyebutkan:
حكم الحاكم يرفع الخلاف
“Keputusan pemerintah menghilangkan perbedaan pendapat.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Apabila kalian melihat perselisihan, maka ikutilah golongan yang paling banyak (mayoritas).” (HR. Ibnu Majah No. 3950)
