Advertisement
Penulis: Encep Syihabuddin
GazanaPublika.com – Seringkali ada yang salah memahami terkait tawasul. Banyak tuduhan tawasul itu diumpamakan seperti kaum jahiliyah yang menyembah Lata dan Uzza sebagai Tuhan selain Allah. Pada saat itu Bani Quraisy sudah mengenal Allah lalu mereka menyekutukan Allah kepada berhala-berhala tersebut. Lalu samakah praktik jahiliyah tersebut dengan tawasul? Tentu tidak akan sama sebagaimana Allah menurunkan ayatnya, Allah SWT berfirman:
Advertisement
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35)
Tawasul itu dari kata ‘wasilah’ sebagaimama ayat diatas.
Apa sebetulnya wasilah? Kita pelan-pelan membahasnya dari hal yang bawah saja. Contoh kita tidak punya uang, lalu minta tolong kepada teman pinjam uang. Teman tersebut memberikan pinjaman kepada kita maka kedudukan teman itu sebagai wasilah yang mewakili Allah, mewakili pertolongan Allah kepada kita.
Bentuk wasilah kepada Allah seperti ada orang mengeluh karena mengalami kesulitan, lalu kita berdoa kepada Allah SWT agar orang tersebut keluar dari kesulitannya, lalu seandainya doa kita terkabul maka doa kita itu yang menjadi wasilah. Jadi wasilah itu bukan pada orangnya tetapi doanya. Namun bukan berarti kita melupakan orang yang mendoakan, seyogyanya tetap adab kepada orang yang menolong, berteima kasih kepada manusia, hakikatnya bersyukur kepada Allah. Bukan berarti menyembah manusia.
Untuk mendapatkan bantuan dari orang, berwasilah tentu dengan adab, ucakan terima kasih atau bersedekah, atau memberikan Al fatihah. Bolehkah dengan surat al Fatihah? Boleh, sebab sebagaimana Sayyidina Ali memberikan mahar pun saat menikah dengan Siti Fatimah dengan Ayat Al Qur’an.
Tawasul kepada orang tua, apabila dipahami juga bahwa dengan membaca surat al Fatihah sebagai bentuk ungkapan doa kita kepada ahli kubur. Bukankah sesama muslim wajib mendoakan. Kelompok ahlu sunnah tentu memahami bahwa cara berdoa itu bukan saja dalam bentuk kalam doa tetapi dengan membaca salah satu ayat Al Quran, kalau perlu khatam, seminimalnya dengan membaca al Fatihah sebagai umul kitab, yakni surat yang paling utama.
Tawasul dalam arti khusus adalah “memberikan” hadiah kepada orang sudah meninggal. Apakah sampai? Ahlus sunnah meyakini bahwa orang yang beramal saleh, takwa akan selamat dari api neraka sebagaimana para syuhada. Keberadaan mereka sesungguhnya hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَا تٌ ۗ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 154)
Ayat tersebut akan dipahami bukan saja para syuhada tetapi kepada para waliyullah karena mereka adalah orang-orang yang ma’shum dari dosa.
Lalu bertawasul kepada waliyullah bukanlah dengan benruk meminta pertolongan kepada kepada mereka tetapi dipahaminya sebagai berikut:
1. Ungkapan doa agar Allah memberikan karunia kepada kita.
2. Pengganti ucapan assalamu ‘alaikum karena mereka tidak meninggal tetapi hidup di alam syuhada, yakni hidup di alam ‘Illiyin.
Sebab pintu syurga saat belum di buka. Dibukanya syurga adalah nanti setelah kiamat, maka orang-orang saleh dan syuhada telah di tempatkan dahulu di alam yang baik yakni di alam ‘illiyin, bukan di barzakh sebab alam barzakh adalah alam siksa.
3. Sebagai ungkapan rasa hormat, sebagaimana kita kepada orang tua, walau sudah meninggal harus memiliki rasa hormat misalkan amanat melaksanakan kebaikan dengan beribadah.
Seandainya orang tua masuk neraka maka kebaikan amal ibadah anak saleh (waladun shalih) mampu mengeluarkannya dari apa meraka karena sebagai wasilah datangnya syafaat Allah dan Nabi Muhammad SAW.
Advertisement
