Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Tradisi Rimpu, Identitas Wanita Bima yang Hampir Punah

Tradisi Rimpu, Identitas Wanita Bima yang Hampir Punah

Ragam Jumat, 29 November 2024 23:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: IDNTimes.com

GazanaPublika.com – Rimpu adalah salah satu tradisi unik masyarakat Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal. Tradisi ini berupa cara wanita menutup aurat menggunakan sarung khas Bima, mencerminkan identitas budaya yang kuat sekaligus kesadaran spiritual. Lebih dari sekadar busana, Rimpu mengandung makna mendalam sebagai simbol kesopanan, penghormatan terhadap ajaran agama, dan warisan leluhur.

Tradisi Rimpu mulai muncul setelah Islam masuk ke Kesultanan Bima. Dalam upaya untuk menyesuaikan budaya lokal dengan ajaran Islam, masyarakat menciptakan cara berpakaian yang memenuhi kewajiban menutup aurat tanpa meninggalkan akar budaya mereka. Kata “rimpu” sendiri berasal dari bahasa Bima yang berarti “penutup kepala.” Dalam penggunaannya, Rimpu menggunakan dua lembar sarung. Satu sarung melingkari kepala hingga tubuh bagian atas, sedangkan sarung lainnya digunakan sebagai pengganti rok. Pemakaian ini menciptakan kesan anggun dan sederhana, namun tetap menunjukkan kesopanan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Kain sarung yang digunakan untuk Rimpu sering kali berasal dari tenunan tradisional khas Bima, seperti Tembe Nggoli, yang terkenal dengan motifnya yang kaya makna. Kain ini dibuat secara manual menggunakan alat tenun tradisional, mencerminkan keahlian lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Motif-motif pada Tembe Nggoli sering kali mengandung pesan-pesan budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Bima.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Membaca: Ini Cara Menyerap Ilmu Paling Ampuh Menurut Sains, Metafisika, dan Mistis

Secara umum, Rimpu terdiri atas dua jenis, yaitu Rimpu Biasa dan Rimpu Mpida. Rimpu Biasa dikenakan oleh wanita yang sudah menikah, dengan wajah yang dibiarkan terbuka seperti penggunaan jilbab modern. Sementara itu, Rimpu Mpida digunakan oleh perempuan muda yang belum menikah, di mana hanya bagian mata yang terlihat, memberikan kesan lebih tertutup dan sopan. Perbedaan ini mencerminkan norma adat yang berlaku di masyarakat, yang menempatkan nilai-nilai kesopanan dan kesucian pada posisi yang penting.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi Rimpu mulai mengalami kemunduran. Kehadiran jilbab modern atau kerudung biasa yang lebih praktis dan beragam dalam gaya, perlahan-lahan menggantikan penggunaan Rimpu di kalangan generasi muda. Rimpu yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Bima kini jarang terlihat, terutama di kawasan perkotaan. Banyak perempuan Bima lebih memilih mengenakan hijab modern yang dianggap lebih sederhana dan sesuai dengan tren masa kini. Akibatnya, tradisi Rimpu mulai terpinggirkan, hanya dipakai pada acara-acara adat atau upacara budaya tertentu.

BACA JUGA:  ‘The Celestine Prophecy’ dan Pencarian Makna di Balik Kehidupan

Fenomena ini menjadi tantangan besar dalam pelestarian Rimpu. Budaya ini berisiko hilang jika tidak ada upaya serius untuk mempertahankannya. Salah satu budayawan Bima, Alan Malingi, menekankan pentingnya menarik minat generasi muda untuk kembali mengenakan Rimpu, bukan hanya sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya. Sosialisasi tentang makna dan nilai-nilai Rimpu perlu terus dilakukan, baik melalui pendidikan, media sosial, maupun kegiatan budaya. Selain itu, inovasi dalam desain Rimpu dapat menjadi solusi untuk menjembatani tradisi dengan kebutuhan modern, sehingga generasi muda tetap tertarik mengenakannya.

Rimpu adalah warisan budaya yang kaya akan nilai dan makna. Hilangnya tradisi ini tidak hanya akan merugikan masyarakat Bima secara budaya, tetapi juga menghilangkan salah satu jejak sejarah yang menggambarkan kemampuan masyarakat lokal dalam menyelaraskan nilai agama dengan kearifan lokal. Pelestarian Rimpu tidak hanya tentang menjaga tradisi berpakaian, tetapi juga mempertahankan identitas dan kebanggaan masyarakat Bima di tengah arus globalisasi. Dengan upaya bersama, tradisi ini diharapkan dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Ragam

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Ragam

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Ragam

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Ragam

Bukan Sekadar Membaca: Ini Cara Menyerap Ilmu Paling Ampuh Menurut Sains, Metafisika, dan Mistis

BERITA TERBARU

Tren Sengketa Informasi di Jabar Bergeser ke Sektor Pendidikan, Dipicu Alokasi Dana BOS

Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Copot Jabatan Pimpinan, Diduga Terkait Kasus Jual Beli Titik ‘SPPG’

Kasus Korupsi BGN: Eks Kepala dan Dua Mantan Wakil Resmi Menyandang Status Tersangka

Polda Banten Meringkus Debt Collector Yang Melakukan Perampasan dan Penganiayaan Terhadap Personel Brimob

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

Kritik dan Dialektika Kebijakan Alokasi Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.