Advertisement
GazanaPublika.com – Dalam tradisi Jawa, ada konsep yang dikenal sebagai munggah turunan, yaitu urutan generasi keluarga yang dimulai dari orang tua hingga ke leluhur paling jauh. Konsep ini tidak hanya menggambarkan hubungan kekerabatan, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap leluhur yang telah memberikan kehidupan kepada generasi penerusnya.
Dalam budaya Jawa, silsilah keluarga memiliki makna mendalam. Tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai pengingat asal-usul serta bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Setiap nama dalam urutan munggah turunan memiliki istilah khusus yang menggambarkan posisi seseorang dalam struktur generasi.
Advertisement
Urutan ini dimulai dari orang tua (yang kita kenal langsung) hingga kepada leluhur yang keberadaannya sudah menjadi bagian dari cerita turun-temurun. Penamaan setiap generasi memiliki filosofi dan simbolisme, memperlihatkan pentingnya hubungan kekeluargaan dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan adat. Berikut adalah urutan munggah turunan dalam tradisi Jawa:
Berikut susunan munggah turunan tersebut:
1. Wong tuwo (orang tua): bapak dan ibu.
2. Embah: kakek dan nenek, orang tua dari bapak dan ibu.
3. Buyut: kakek dan nenek buyut, orang tua dari embah.
4. Canggah: kakek dan nenek dari embah.
5. Wareng: orang tua dari canggah.
6. Udheg-udheg: orang tua dari wareng.
7. Gantung siwur: orang tua dari udheg-udheg.
8. Grepak senthe: orang tua dari gantung siwur.
9. Debok bosok: orang tua dari grepak senthe.
10. Galih asem: orang tua dari debok bosok.
11. Gropak waton: orang tua dari galih asem.
12. Mbah cendheng: orang tua dari gropak waton.
13. Mbah giyeng: orang tua dari mbah cendheng.
14. Mbah cumpleng: orang tua dari mbah giyeng.
15. Mbah ampleng: orang tua dari mbah cumpleng.
16. Mbah menyaman: orang tua dari mbah ampleng.
17. Mbah menya-menya: orang tua dari mbah menyaman.
Dalam urutan tersebut, sebaliknya munggah turunan urutan ke bawah:
1. Wong tuwo (orang tua): bapak dan ibu.
2. Anak
3. Cucu
4. Buyut: kakek dan nenek buyut, orang tua dari embah.
5. Canggah: kakek dan nenek dari embah.
6. Wareng: orang tua dari canggah.
7. Udheg-udheg: orang tua dari wareng.
8. Gantung siwur: orang tua dari udheg-udheg.
9. Grepak senthe: orang tua dari gantung siwur.
10. Debok bosok: orang tua dari grepak senthe.
11. Galih asem: orang tua dari debok bosok.
12. Gropak waton: orang tua dari galih asem.
13. Mbah cendheng: orang tua dari gropak waton.
14. Mbah giyeng: orang tua dari mbah cendheng.
15. Mbah cumpleng: orang tua dari mbah giyeng.
16. Mbah ampleng: orang tua dari mbah cumpleng.
17. Mbah menyaman: orang tua dari mbah ampleng.
18. Mbah menya-menya: orang tua dari mbah menyaman.
Advertisement
