Nietzsche akan berkata: “Cintailah, tetapi jangan biarkan cintamu menjadikanmu budak. Jika kau mencintai untuk diterima, maka kau telah kalah bahkan sebelum berjuang.”
GazanaPublika.com – Cinta, bagi sebagian lelaki, bukan sekadar getaran jiwa atau lirih rindu yang samar. Ia adalah medan pertempuran diam antara keinginan memberi dan rasa takut tidak cukup. Dalam banyak relasi cinta, terutama yang dibentuk dalam bingkai sosial dan ekonomi kontemporer, lelaki sering memaknai cinta sebagai tanggung jawab untuk memenuhi. Cinta tidak lagi dimulai dari rasa, tetapi dari peran: peran sebagai pemberi, pelindung, dan penyedia.
Di sinilah muncul satu pertanyaan reflektif yang sering tak terucap: apakah lelaki benar-benar dicintai, atau hanya digunakan sejauh ia berguna?
1. Dimensi Psikologis: Cinta sebagai Validasi Diri Lelaki
Secara psikologis, lelaki cenderung belajar sejak dini bahwa harga dirinya terletak pada kemampuannya untuk menjadi provider (penyedia). Dalam banyak kultur, mereka diajarkan untuk tidak terlalu mengekspresikan perasaan, tetapi fokus pada tanggung jawab, keberhasilan, dan kekuatan. Maka saat lelaki mencintai, cinta itu jarang verbal—ia hadir dalam tindakan: membayar tagihan, menyelesaikan masalah, memperjuangkan stabilitas.
Namun, di balik tindakan-tindakan itu tersembunyi kerentanan. Banyak lelaki mencintai bukan karena dia ingin, tapi karena dia butuh merasa cukup. Self-worth mereka melekat erat pada seberapa jauh mereka bisa membuat pasangannya bahagia. Dan ketika upaya itu tidak cukup—ketika cinta dibalas dengan tuntutan, bukan penerimaan—lelaki bisa kehilangan rasa dirinya sendiri.
Dalam psikologi eksistensial, Viktor Frankl menekankan bahwa makna hidup ditemukan dalam pengabdian kepada sesuatu di luar diri. Tapi bagaimana jika pengabdian itu tak diakui? Cinta bisa menjadi jebakan sunyi yang menyakitkan.
2. Dimensi Sosiologis: Relasi Gender dan Cinta Sebagai Peran Sosial
Secara sosiologis, cinta tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh norma, harapan, dan struktur kekuasaan yang sering tak disadari. Dalam masyarakat patriarkal, cinta antara lelaki dan perempuan kerap dibingkai sebagai relasi antara “yang memberi” dan “yang menerima”.
Lelaki dicintai karena kegunaannya, bukan karena keberadaannya. Hal ini tercermin dalam nasihat-nasihat populer: “Pilih lelaki yang mapan”, “Perempuan butuh kepastian”, atau “Cinta tak bisa menghidupi”. Semua ini menyiratkan satu pesan laten: kasih sayang harus dibayar lunas dengan bukti konkret—terutama bukti ekonomi. Simone de Beauvoir dalam The Second Sex mengkritik pandangan ini sebagai cara halus sistem untuk menundukkan perempuan ke dalam posisi pasif.
Namun dalam proses yang sama, lelaki justru dipaksa menjadi mesin pemberi. Ia tidak pernah benar-benar menjadi dirinya sendiri dalam cinta, karena cintanya harus selalu berfungsi. Akibatnya, cinta kehilangan makna spiritualnya. Ia menjadi struktur sosial yang dingin: tempat perempuan mencari keamanan dan lelaki membuktikan kelayakan.
3. Dimensi Ekonomi: Kapitalisme Emosional dan Komodifikasi Cinta
Kapitalisme modern tak hanya menjual barang dan jasa, tetapi juga perasaan. Cinta dikomodifikasi: dibentuk oleh standar gaya hidup, hadiah, liburan mewah, dan gestur romantis yang bisa dihitung nilainya. Dalam dunia seperti ini, lelaki tak hanya bersaing soal cinta, tapi juga soal kapasitas konsumsi.
Lelaki yang miskin cenderung dianggap “tidak layak dicintai”, seberapa pun tulus perasaannya. Sementara lelaki yang mapan sering dikelilingi oleh cinta yang ambigu: apakah ini benar-benar cinta, atau hanya kebutuhan akan keamanan?
Zygmunt Bauman dalam Liquid Love menjelaskan bahwa cinta hari ini bersifat sementara, dangkal, dan mudah tergantikan. Relasi personal tidak lagi dibangun dengan komitmen, melainkan dengan efisiensi: siapa yang paling berguna, dia yang paling dicintai. Dan lelaki? Ia menjadi seperti kartu kredit perasaan: bisa digunakan, dipuji, tapi mudah dibuang saat gagal membayar.
Refleksi: Lelaki yang Mencintai, Tapi Tak Pernah Dicintai
Dalam relasi semacam ini, cinta menjadi ruang yang tidak adil bagi lelaki. Ia mencintai dalam diam, memberi tanpa syarat, namun sering merasa bahwa dirinya sendiri tidak dicintai. Ia dicintai karena memberi, bukan sebelum memberi.
Pertanyaan eksistensial pun muncul:
“Jika aku tak mampu memberi, apakah aku tetap layak dicintai?”
Ini bukan sekadar pertanyaan personal, tetapi gugatan atas struktur sosial yang mengatur cara kita memahami cinta. Cinta, dalam makna sejatinya, adalah pengakuan terhadap keberadaan orang lain—bukan fungsi mereka. Cinta adalah tempat di mana seseorang boleh lemah, gagal, dan tetap diterima.
Menuju Cinta yang Setara
Sudah waktunya kita membongkar asumsi bahwa cinta lelaki harus dibuktikan dengan kekuatan dan pemberian. Lelaki bukan mesin pemenuh kebutuhan. Ia adalah manusia yang juga butuh dikasihi, didengar, dan direngkuh bukan karena fungsinya, tetapi karena keberadaannya.
Cinta yang sejati bukanlah pertukaran nilai, tapi pertemuan dua eksistensi yang saling mengakui dan memberi ruang untuk menjadi. Dan hingga cinta bisa dipahami seperti itu, banyak lelaki akan terus mencintai dalam diam—takut bahwa cintanya hanya akan dianggap ada selama ia berguna.
