Advertisement
GazanaPublika.com – Setelah melalui latihan intensif dalam pencak silat untuk membangun kekuatan mental dan karakter, mari kita eksplorasi konsep Usrah. Bagi sebagian kalangan muslim, istilah ini mungkin sudah akrab terdengar. Usrah, sering kali dihubungkan dengan Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin, tidak lah demikian.
Namun, yang sebenarnya menarik bahwa esensi dari konsep ini adalah suatu prilaku yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada para sahabat, sebagai bagian dari proses pembentukan karakter yang lebih mulia. Jadi, sebenarnya, istilah usrah ini adalah bagian dari tuntunan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak hanya terkait dengan Ikhwanul Muslimin.
Advertisement
Usrah sering dipahami sebagai pertemuan untuk membincangkan isu-isu keagamaan. Ini merujuk kepada lebih dari sekadar perbincangan saja; ia merupakan medium untuk pertemuan di tempat-tempat seperti masjid, rumah, atau dalam aktifitas luar.
Padahal substansi usrah sesungguhnya lebih dari itu. Usrah adalah landasan utama dalam membentuk kepribadian seorang muslim, menanamkan sifat-sifat mulia seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian dalam diri setiap individu yang terlibat dalam kelompok ini.
Jadi jauh sebelum usrah itu dikenal secara umum oleh kaum muslimin, usrah telah diterapkan oleh penganut tasawuf. Substansi usrah adalah membangun pengabdian kepada guru Mursyid, membangun kebersamaan dengan sesama salik serta menanamkan rasa tanggung jawab pada saling dalam hal pekerjaannya.
Usrah itu bukan liqa maupun halaqah tetapi suatu bentuk perbuatan-amaliyah yang baik yang diperuntukkan, substansinya untuk sendiri. Namun apabila hal itu tidak dipahami maka praktik itu kesannya seperti untuk membangun kepentingan dan kebutuhan guru. Hal seperti ini lain perkaranya sebab substansi tasawuf adalah efeknya tersebut dikembalikan kepada seorang salik.
Usrah mengandung substansi pengabdian atau bakti kepada guru. Dengan praktik ini, seorang salik akan mendapatkan ‘futuh’ sebagai hikmah batin yang diberikan mursyid kepada saliknya. Bentuk futuh adalah bisa derajat, martabat atau ilmu batiniyah yang didapatkannya. Derajat apabila dipahami secara ukhrawi dan ilahiyah sedangkan martabat adalah seorang salik mendapatkan kedudukannya di dunia.
Oleh karenanya usrah dalam pemahaman tasawuf berbeda dengan pemahaman pengamal syariat. Yang membedakanmya adalah pada persoalan futuh ini. Bahasa umumnya, dengan usrah upaya mendapatkan barakah.
Usrah itu sebagai cerminan kehidupan salik. Ketika suatu saat sudah berada di luar di lingkungan maka sebetulnya usrah itu dapat meningkatkan kualitas seseorang dan dengan tasbih (bergerak) sebetulnya ada unsur untuk menghidupkan kejiwaan ruh maupun hubungan ketuhanan. Di sana akan terbangunnya sejenis energi positif pada diri seseorang berupa karakter yang baik.
Hubungan dengan Tuhan itu bukan hanya sebatas ritual. Seandainya ritual demikian kepada Tuhan itu dilakukan maka bukan berarti melupakan hal di luar ritual. Allah benci kemalasan, Allah tidak suka kepada orang-orang yang tidak bekerja, hanya diam, pasif dan tidak mau berbuat apa-apa kepada Allah. Penyembahan yang berada di masjid saja atau saat ibadah shalat saja. Apa gunanya jadi manusia apabila dia memposisikan dirinya hanya berdiam diri atau pasif.
Hubungan kepada Allah itu adalah dengan wujud energi aktif seperti dengan gerak jiwa dan gerak ruh dan ketika keduanya pasif, mustahil seseorang bisa terhubung kepada Allah. Kalau manusia saja sangat tidak menyukai orang yang malas maka apalagi Allah. Maka gambaran kesukaan Allah kepada makhlukNya sebagaimana setiap manusia menyukai orang yang baik, rajin dan penuh semangat.
Orang yang berusrah, kualitas ibadahnya akan baik sedangkan orang yang tidak berusrah maka apapun ibadahnya masih dipertanyakan, apakah dia betul mengaharapkan keridhaan Allah.
Usrah sebagai upaya mendapatkan keridhaan guru dan dengan keridhaan guru atau mursyid sudah tentu Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Sebagaimana kepada orang tua, “Ridha oramg tua adalah ridha Allah.”
Janganlah usrah itu dilakukan seperti seseorang yang suka cari muka kepada atasannya maka orang tersebut selalu berbuat siasat untuk mendapatkan perhatian atasannya. Lakukan usrah dengan ikhlas dan bersyukur.
Penulis:
Ki Banjar Agung
Advertisement
