Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Minat masyarakat untuk menjalani pola spiritual semakin meningkat, terutama dalam mempelajari ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf sangat dikenal pada generasi Islam awal, yaitu sejak zaman sahabat dan tabi’in. Sejalan dengan hal tersebut, perkembangan ilmu fiqih yang diwarnai oleh pemahaman mazhab semakin menguat. Oleh karena itu, sejak awal, ilmu syari’at dan fiqih saling melengkapi satu sama lain. Agama Islam adalah ilmu berbasis hukum, yang merupakan suatu keniscayaan sebagai wujud nyata ketaatan manusia kepada Allah. Sedangkan ilmu tasawuf menyempurnakan agama dengan menekankan perilaku pribadi untuk pribadi, perilaku pribadi terhadap sosial, dan perilaku pribadi terhadap Allah hingga mencapai mujalasah dan wushul kepada Allah.
Advertisement
Salah satu tarekat yang banyak mendapatkan perhatian dari penganut tasawuf adalah Tarekat Asy-Syadziliyah. Tarekat ini dipandang menarik karena banyak menghasilkan pandangan-pandangan tasawuf yang melengkapi pandangan tasawuf generasi sebelumnya seperti Imam Al-Ghazali maupun Ibnu Arabi. Tarekat Asy-Syadziliyah banyak melahirkan tokoh-tokoh tasawuf dan karya-karya tasawuf. Beberapa tokohnya antara lain Syekh Abu Abbas Al-Mursi, Syekh Yaquth, Syekh Ibnu Aththa’illah, dan Syekh Al-Bushiri. Ketiganya memiliki karya-karya fenomenal yang menjadi rujukan dalam ilmu tasawuf. Syekh Ibnu Aththa’illah, misalnya, melahirkan karya Al-Hikam yang menjadi rujukan pelaksanaan ilmu tasawuf.
Bagaimana sebenarnya sejarah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili meletakkan fondasi tasawuf yang begitu kokoh bagi para pengikutnya, sehingga mereka bukan hanya ahli dalam ilmu tasawuf tetapi juga cerdas menciptakan karya dalam bidangnya.
Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili lahir di Ghumarah, dekat Sabtah (sekarang Ceuta), Maroko. Beliau dilahirkan pada 10 Syawal 593 Hijriyah atau 1197 Masehi. Maroko, yang dahulu disebut negeri Maghrib karena letaknya di sebelah barat Arab, adalah tempat lahirnya banyak tokoh tasawuf pada masa itu, salah satunya adalah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Bagaimana sebenarnya kehidupan pribadi beliau?
Sejak kecil, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tumbuh dengan kepribadian yang unik dan menarik. Saat remaja, kepribadiannya sangat menonjol dalam hal sosial. Ia disukai oleh teman-temannya. Bahkan, beberapa temannya mengikuti jejaknya untuk berguru kepadanya. Teman-teman yang lebih muda, sebaya, dan bahkan yang lebih tua darinya semua mengikuti Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili.
Bahkan Syekh Ahmad Kabir Rifai terus mengikutinya karena ingin berguru kepadanya. Meskipun Syekh Ahmad Kabir Rifai jauh lebih tua darinya, ketika Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili lahir, Syekh Ahmad Kabir Rifai telah berusia sekitar 80-an. Syekh Ahmad Rifai tampaknya telah mengenal Syekh Abul Hasan meskipun masih usia remaja. Syekh Ahmad Rifai melihat ada mutiara yang berharga dalam dirinya.
Dalam pergaulan di masa mudanya, teman-teman Syekh Abul Hasan telah banyak melihat keanehan pada gurunya. Salah satunya adalah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili selalu memiliki uang di sakunya. Teman-temannya merasa heran atas keajaiban itu. Syekh Abul Hasan sering mengajak mereka jajan atau membeli makanan tertentu untuk menyenangkan teman-temannya.
Suatu saat, teman-temannya meminta amalan untuk mendapatkan uang. Syekh Abul Hasan pun memberikan amalan tersebut dan menyuruh mereka untuk beritikaf di suatu tempat. Namun, tidak satu pun dari mereka yang berhasil mengamalkannya.
Suatu saat, ada seseorang yang memfitnah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dengan tuduhan bahwa ia dapat menghasilkan emas dan diduga sebagai pengusaha yang didukung oleh kekuatan jin. Seorang pelayan raja melaporkan tuduhan tersebut, dan raja pun berniat menghukum mati Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili.
Pelayan raja tersebut melarikan diri ke tempat Syekh Abul Hasan. Sementara itu, tentara istana Raja Iskandariyah mengejarnya. Ketika mereka bertemu dengan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, ia membawa pelayan tersebut ke belakang rumah.
Begini kutipan manakibnya:
Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, “Kau merusak budakku”.
Lalu Syekh Abul Hasan Asy Syadzili menjawab, ”Saya adalah orang membuat kebaikan bukan kerusakan.”
Kemudian Syekh Abul Hasan Asy Syadzili mengeluarkan budak tersebut dari persembunyiannya dan berkata,”Kencinglah di atas batu ini” maka ketika budak itu mengekencingi batu tersebut, seketika berubahlah (batu itu) menjadi emas kira-kira 5 qintor (kurang lebih 5.000 Dinnar).
Mendengar hal tersebut, Raja Iskandariyah pun penasaran dan mendatangi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dengan membawa budaknya. Raja meminta agar budaknya diberikan kesempatan untuk mengencingi batu, seperti yang dilakukan oleh budak sebelumnya. Namun, apa jawaban Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili?
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berkata, ‘Yang pokok adalah izin Allah.’
Demikianlah sepenggal kisah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang menunjukkan bahwa dalam diri beliau terdapat suri tauladan sebagai ulama warasatul anbiya yang memiliki banyak karomah. Beliau tidak mau menghamba kepada dunia karena dunia telah melayaninya. Harta hanyalah fatamorgana dan tidak mampu menguasai seorang yang berzuhud kepada Allah.
Syekh Abul Hasan berkata, ‘Dunia cukup di genggamanku dan tidak punya ruang di hatiku.”
Advertisement
