Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » ‘Rasain’ Takut Sama Pocong

‘Rasain’ Takut Sama Pocong

Tasawuf Elegan Minggu, 26 Mei 2024 16:14 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto Ilustrasi (solopos.com)

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Dalam proses pendidikan nafsiyah, terkadang ada seorang salik yang melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, pelanggar tersebut harus diberikan sanksi. Sanksi tersebut memiliki berbagai ragam dan cara penerapannya, salah satunya adalah membawa seorang salik ke pemakaman atau kuburan. Di Banten, tempat ini disebut Kramat.

Advertisement

Sontak seorang salik akan merasa ketakutan, namun di sisi lain tidak bisa menolak sanksi tersebut karena diperintahkan dari guru. Dengan perasaan ketakutan, salik yang melakukan pelanggaran tersebut akhirnya dibawa ke Kramat. Di Kramat tersebut, salik tidak bisa pergi ke mana-mana dan harus duduk di suatu tempat. Kegelapan terasa mengancam, melahirkan imajinasi yang muncul di baliknya, seperti “Pocong”. Pikiran menjadi mencekam, takut pada Pocong. Rasa cemas dan takut pun datang di antara kegelapan malam. Jantung berdebar-debar, kaki rasanya lemas. Keinginannya untuk segera pergi dari tempat itu muncul, namun sekali lagi ia takut kepada gurunya. Di sisi lain, ia ingin belajar taat walaupun hatinya belum sepenuhnya bisa taat.

Ini hanya gambaran dari proses pendidikan nafsiyah. Secara kultur, orang Indonesia sangat takut dengan kuburan dan hantu yang muncul di area tersebut, apalagi pocong.

Cara ini adalah salah satu metode penanaman keimanan. Dalam pendidikan ini, kita tidak diajarkan untuk mengimani pocong, tetapi untuk mempercayai hal-hal yang gaib. Allah adalah Maha Gaib. Allah pun menciptakan alam dan makhluk gaib. Kekuasaan Allah atas hal-hal yang gaib tersebut menjadi dasar keimanan. Dalam fenomena modern dengan berkembangnya rasionalitas, banyak orang berangsur-angsur tidak mempercayai yang gaib, apalagi mereka yang memiliki kecenderungan pemikiran materialis dan atheis. Hantu dianggap angin lalu.

Pocong adalah fenomena kultural dan kearifan lokal. Kepercayaan atasnya adalah realitas yang harus dipelihara sebagai penjagaan dan pemeliharaan budaya. Sekali lagi, kita tidak diajarkan untuk takut kepada pocong atau hantu lainnya. Malah, seorang sufi harus berani menghadapinya. Realitas kultural menunjukkan bahwa banyak di antara kita masih takut, itu berarti budaya masih terpelihara. Terpeliharanya budaya adalah tanda keberadaan keimanan yang masih kuat di masyarakat, walaupun erosi budaya dengan keberadaan rasionalitas menjadi ancaman keberlangsungan budaya. Di antara kita mungkin tidak menyadari bahwa budaya menjadi salah satu ukuran penguat keimanan.

Hal tersebut menjadi gambaran sisi lain dalam pendidikan nafsiyah. Pesan utamanya adalah “lepaskan rasa ketakutan kepada apa pun” sebab rasa takut itu hanya kepada Allah. Takut yang dimaksud adalah takut dengan rasa pengagungan kepada Allah. Keimanan yang paling dasar itu adalah ketakutan. Hingga kita mencapai rasa takut yang tiada terkira hingga akhirnya kita hanya berpasrah kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.