Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kisah Nabi Ibrahim AS Dalam Konsepsi Tasawuf

Kisah Nabi Ibrahim AS Dalam Konsepsi Tasawuf

Tasawuf Elegan Senin, 17 Juni 2024 11:48 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Gambar ilustrasi (sumber; jatman.or.id)

Advertisement

GazanaPublika.com – Apakah dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim dikenal oleh umatnya saat itu? Tidak ada satu pun kisah yang menceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS memiliki umat yang mengenalnya sebagai Nabiyyullah pada zamannya. Malah sebaliknya, Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada situasi dan masyarakat sebagai penyembah berhala dan mereka dipimpin oleh raja yang zalim bernama Namrud.

Namun, dari Nabi Ibrahim AS lahir keturunan-keturunan nabi berikutnya, dimulai dari kedua anaknya, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishak, banyak diantara keturunan selanjutnya menjadi Nabi Allah. Tidak heran bahwa beliau digelari sebagai Bapak para Nabi.

Advertisement

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim dikenal keras dalam memberantas kemusyrikan, bahkan dengan sengaja menghancurkan patung-patung Raja Namrud. Ia kemudian mengalungkan kapak, alat penghancur patung-patung tersebut, di leher salah satu patung yang sangat besar.

Ketika ditanya oleh Raja Namrud, “Wahai Ibrahim, apakah engkau yang menghancurkan patung-patung kami tersebut?”

Nabi Ibrahim AS menjawab, “Mengapa engkau menuduh aku sebagai orang yang menghancurkan patung-patungmu? Mengapa engkau tidak bertanya kepada patung yang besar itu? Sebab di lehernya ada kapak, pasti dia yang menghancurkannya.”

Raja Namrud menjawab, “Gila kau, Ibrahim. Mengapa engkau menuduh patungku yang besar itu menghancurkan patung-patung lainnya? Bagaimana dia bisa melakukannya, sedangkan dia hanya sebuah patung?”

Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Raja Namrud, apabila engkau paham bahwa patungmu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap patung lainnya, mengapa engkau menyembahnya padahal tidak sedikit pun keinginanmu yang bisa dikabulkan oleh patung-patung tersebut?”

Dari peristiwa itu, singkatnya Nabi Ibrahim pun dibakar oleh Raja Namrud dengan api yang sangat besar. Namun, Allah SWT menolongnya sehingga api tersebut tidak bisa menyentuh Nabi Ibrahim AS. Lalu, Nabi Ibrahim AS mengembara ke Mesir dengan membawa istrinya Sarah dan kemudian menetap di Baitul Maqdis.

Ada sepenggal kisah menarik dari kehidupan Nabi Ibrahim AS yang apabila ditafsirkan dapat menimbulkan kontroversi. Siapa yang tahu bahwa Nabi Ibrahim sebenarnya adalah seorang nabi pada zamannya? Ketika Allah memerintahkan kepadanya untuk membawa istrinya ke sebuah negeri yang tandus, yaitu Negeri Bakkah (penyebutan kuno untuk Mekkah), istrinya Siti Hajar baru saja melahirkan seorang bayi bernama Ismail. Ke negeri Bakkah itu, Nabi Ibrahim membawa istri dan anaknya lalu Nabi Ibrahim AS meninggalkan anak dan istrinya di tempat tersebut. Seandainya saja tetangganya melihat apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, mereka mungkin bertanya, “Mengapa engkau tinggalkan istrimu dan anakmu yang masih bayi di suatu tempat yang tandus?” Namun seandainya pertanyaan itu ada, tidak akan mempengaruhi keyakinan dan keteguhan hati nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Beliau salah satu diantara Nabi Ulul Azmi.

Peristiwa kedua adalah ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS melalui mimpinya untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Meskipun pada akhirnya Nabi Ismail tidak jadi disembelih karena Allah menggantinya dengan seekor domba, proses sebelumnya menunjukkan keteguhan hati seorang bapak yang rela melaksanakan perintah Allah.

Namun, Nabi Ibrahim AS memiliki keteguhan dan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Meskipun orang lain mungkin tidak mengetahui bahwa perintah tersebut datang dari Allah, Nabi Ibrahim yakin dengan sepenuh hati bahwa itulah perintah dari Allah. Keyakinan ini bukan sekadar dugaan atau perasaan, tetapi sebuah kepastian yang kokoh bahwa yang memerintahnya adalah Allah SWT. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim dijuluki sebagai Bapak Tauhid, karena setelah masa fatrah yang panjang, dialah yang membangkitkan kembali semangat ketuhanan hingga manusia mampu mengenal Allah dengan lebih baik.

Jika kedua peristiwa tersebut dihubungkan dengan ilmu tasawuf, maka dapat dijadikan penegasan bahwa mukasyafah (pembukaan tabir batin) bukan sesuatu yang didapat secara gratis atau hanya melalui keasyikan berdzikir. Hubungan dengan Allah itu penuh dengan ujian agar seseorang bisa naik derajatnya. Tanpa ujian, seperti halnya orang yang bersekolah tanpa kenaikan kelas, kehidupan rohani akan stagnan. Untuk naik ke kelas berikutnya, harus ada ujian yang dihadapi.

Ujian itu sering kali bukan sesuatu yang menyenangkan, melainkan hal-hal yang tidak mengenakkan yang harus diterima dengan lapang hati. Sepintas menurut logika manusia biasa, apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim terasa sangat perih, meskipun berakhir dengan manis, yaitu menjadi seorang nabi dan dikaruniai keturunan-keturunan yang berderajat nabi. Perjuangannya untuk meraih derajat yang lebih tinggi melalui ujian-ujian Allah disebut sebagai mujahadah (perjuangan spiritual).

Dalam tasawuf, mukasyafah memerlukan pengorbanan dan perjuangan, termasuk ‘korban perasaan’. Korban perasaan ini hanyalah proses awal ketika seseorang belum merasakan nikmatnya keikhlasan. Ketika seseorang telah mencapai ikhlas dan ridho kepada Allah, apa yang sebelumnya dirasakan sebagai perih dan penderitaan sebenarnya hanya pandangan dari orang lain yang tidak mengalaminya. Orang yang telah dekat dengan Allah tidak lagi merasakan perih dan menderita, melainkan melihatnya sebagai kebahagiaan dan karunia yang perlu disyukuri dengan segala pujian kepada Allah SWT.

Kurban itu semestinya dimaknai secara maknawi juga, yaitu bahwa dalam setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Apalagi dalam urusan agama sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Perjuangan substansinya untuk diri sendiri dalam menaikkan derajat kepada Allah SWT, dan yang utama diselamatkan adalah diri sendiri dan keluarga, lalu orang lain.

Mukasyafah memerlukan perjalanan spiritual untuk menaikkan maqam dan derajat. Mukasyafah melalui proses mujahadah. Mujahadah memerlukan pengorbanan dengan jiwa dan harta.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَا جَرُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَا لَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْۤا اُولٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يُهَا جِرُوْا مَا لَـكُمْ مِّنْ وَّلَايَتِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ حَتّٰى يُهَا جِرُوْا ۚ وَاِ نِ اسْتَـنْصَرُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ اِلَّا عَلٰى قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَا قٌ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 72)

Advertisement

Kisah Tasawuf
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.