Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Salah satu pelaksanaan nafsiyah adalah di gunung. Sebagaimana yang pernah disebutkan, pemilihan tempat ini berpengaruh terhadap tujuan tertentu, seperti laut, darat, dan gunung. Hal ini merupakan bagian dari pemahaman keilmuan mengenai penempatan suatu aktivitas. Aktivitas yang dilaksanakan di gunung bertujuan untuk meningkatkan derajat. Namun, pelaksanaan rahasia tersebut hanya dapat dipahami oleh orang yang mengerti.
Advertisement
Metode nafsiyah di gunung dilakukan dengan merefleksikan unsur-unsur penderitaan. Dengan cara ini, peserta dibuat menderita melalui penggojlokan fisik, latihan bertahan hidup, dan aksi semi kekerasan tanpa melukai atau mencelakakan. Itulah makna semi kekerasan, yang dapat dipahami dari praktiknya.
Apa yang akan diraih dari pelaksanaan nafsiyah tersebut? Tujuannya adalah menumbuhkan semangat, daya juang, kekuatan jiwa, ketahanan mental, ketahanan terhadap rasa sakit dan penderitaan, serta keberanian menghadapi cobaan hidup. Sepintas, ini hanya melibatkan fisik, tetapi tekanan-tekanan yang dilakukan merupakan konsep pembalikan keadaan. Secara alamiah, manusia cenderung mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan. Dalam metode nafsiyah ini, diajarkan bahwa manusia harus ‘jangan lari’ dari kenyataan. Penderitaan dan kesengsaraan adalah ‘bumbu hidup’ yang harus diterima dengan ikhlas dan ridho. Manusia harus ‘gentle’ menghadapi risiko apa pun.
Kita diajarkan untuk menerima keadaan hidup, baik dalam kesenangan maupun kesulitan. Tidak selamanya hidup itu enak. Banyak orang juga tidak pernah merasakan kesenangan.
Semua kesenangan dan kepahitan hidup hanyalah mindset, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Orang yang terlihat senang belum tentu bahagia, dan orang yang terlihat menderita mungkin sebenarnya bahagia. Semua seperti fatamorgana atau dalam bahasa Jawa disebut ‘Sawang Sinawang’.
Di balik kepahitan ada kebahagiaan, dan di balik kebahagiaan ada kepahitan. Kita tidak mengetahui bahwa orang yang terlihat menderita mungkin tidak merasakan penderitaan. Orang-orang yang hidupnya berada di jalanan, yang menurut pandangan kita mereka menderita, mungkin sebenarnya mereka menyukai kehidupannya.
Penderitaan hanyalah konsep semu seperti halnya kebahagiaan. Dikatakan semu, karena semuanya terjadi hanya sesaat. Tidak selamanya manusia kelaparan karena pada waktunya akan makan juga. Ya, betul, hanya sesaat. Kemiskinan bukanlah penderitaan. Penderitaan bukanlah persoalan ekonomi selama kita masih bisa menyikapinya dan menerimanya. Mungkin yang disebut penderitaan adalah seperti sakit, teraniaya jiwa karena difitnah, dan berbagai macam ujian perasaan yang dialami. Namun, bukan kemiskinan. Kemiskinan adalah keadaan di mana orang sebetulnya masih bisa makan dan hal itu harus disyukuri. Kadang-kadang pun mereka masih bisa makan enak.
Kalau seandainya orang sudah tidak bisa menikmati sisi hidup yang baik, sakit menahun, sebuah daerah dilanda kelaparan yang menyebabkan banyak di antara mereka meninggal, atau peperangan panjang yang membuat banyak orang tewas, sehingga dari semua kondisi itu kita tidak bisa lagi menikmati kehidupan yang layak dan senang, hal seperti ini boleh disebut sebagai penderitaan. Namun, Allah tetap memberikan rumus lain, yakni bersabar. Kehidupan ini hanya perantara menuju kehidupan abadi dan semua akan diberikan ganjaran atas kesengsaraan hidup. Ada surga yang menunggu manusia beriman dan bertakwa dengan selalu taat kepada Allah dalam kondisi apa pun.
Kita hidup di Indonesia yang damai dan nyaman ini, sebenarnya masih banyak yang harus kita sadari bahwa kita harus bersyukur. Kehidupan belum berakhir dan artinya dalam nafsiyah kita harus memiliki daya juang dan tahan terhadap kepahitan sehingga kita tidak lagi merasakannya sebagai kepahitan. Selanjutnya, kita harus membesarkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Besarkan jiwamu dibandingkan beban hdiupmu.
Advertisement
