Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Mempertahankan atau Melepaskan Rasa Malu?

Mempertahankan atau Melepaskan Rasa Malu?

Tasawuf Elegan Minggu, 28 Juli 2024 17:38 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Gengsi adalah perbuadakan diri sendiri dan malu adalah tegaknya marwah diri (sumber: sudutpandang.id)

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Malu memiliki dua jenis: pertama, malu yang muncul ketika melakukan kesalahan atau melanggar norma; kedua, malu yang disebabkan oleh gengsi. Malu dari jenis pertama harus dipertahankan karena berasal dari ruh. Banyak orang kehilangan rasa malu sehingga mereka mengabaikan eksistensi murni kemanusiaan yang bergantung pada norma dan nilai budaya. Ada yang berani memakai pakaian mini atau bahkan telanjang dan memamerkannya di khalayak umum atau media sosial. Padahal, aurat adalah suatu kehormatan dan seharusnya hanya diperlihatkan kepada orang tertentu, seperti aurat istri kepada suaminya. Bagian-bagian tertentu seperti alat vital tidak boleh diperlihatkan kepada anak, apalagi kepada orang lain yang bukan muhrimnya. Namun, karena hilangnya rasa malu, semua hal yang bersifat malu menjadi abstrak dan samar. Mereka menjadi terbiasa mempertontonkan aurat dan melakukan aib di hadapan orang lain, yang merupakan ciri hilangnya rasa malu.

Advertisement

Contohnya, seorang koruptor melakukan korupsi tanpa menyadari bahwa ia harus menjaga marwahnya kepada institusinya dan bawahannya. Kebiasaan buruk ini akhirnya dianggap lumrah, dan naasnya, jika tertangkap, mereka menghadapi konsekuensi hukum.

Seorang yang melakukan maksiat mungkin tidak menyadari dampaknya terhadap keluarga. Seandainya keluarganya mengetahui perbuatannya, rasa malu seharusnya mencegahnya dari perbuatan keji. Rasa malu menghasilkan adab dan perilaku seolah dia diawasi oleh norma dan lingkungan sekitar, yang akhirnya mencegah tindakan buruk. Terlebih lagi, seseorang yang memiliki guru harus berada dalam keadaan ‘tawajuh,’ seolah sedang bermuraqabah kepada Allah atau selalu merasa diawasi.

Oleh karena itu, rasa malu sangat penting untuk dipertahankan dan dipelihara oleh setiap individu. Malu adalah cerminan ruh yang terrefleksikan dalam tradisi dan budaya. Malu adalah bagian dari budaya dan fitrah manusia. Hilangnya rasa malu dapat menyebabkan kerusakan di bumi (fasad). Malu adalah elemen kehidupan yang menjadi ciri eksistensi manusia. Di mana pun dan dalam budaya apa pun, rasa malu dikenal dan dihargai.

Jenis malu kedua adalah gengsi, yang sebenarnya bukan jenis malu, tetapi terasa seperti malu. Gengsi adalah luapan hawa nafsu untuk mempertahankan eksistensi egoistik, sehingga eksistensi kedirian seseorang terjaga. Ini bukan soal prinsip atau harga diri, melainkan egoisme semata.

Gengsi adalah bentuk malu yang tidak pada tempatnya. Dulu, pada tahun 1980-an atau 1990-an, banyak orang yang gengsi untuk berdagang atau bekerja sebagai office boy. Mindset gengsi membalikkan keadaan yang seharusnya dianggap mulia menjadi sesuatu yang hina. Padahal, dengan mindset positif, profesi seperti pedagang atau tukang sapu memiliki kemuliaan selama dilakukan secara halal. Namun, beberapa orang menganggap profesi tersebut memalukan dan hina.

Kita harus melakukan normalisasi terhadap apa yang dianggap malu dan menghindari gengsi selama hal tersebut halal dan tidak merugikan orang lain. Banyak orang menjadi kaya dari usaha rongsokan atau barang bekas, bahkan ada yang menjadi pengusaha sukses. Orang yang awalnya menjadi pembantu kemudian sukses adalah contoh nyata. Kita boleh memilih profesi apapun, tetapi memilih profesi tidak boleh didasarkan pada menghindari gengsi.

Hal ini juga menjadi perhatian dalam pendidikan nafsiyah, karena salah satu fungsi nafsiyah adalah membentuk karakter dan kepribadian. Beberapa orang yang menjadi hamba Allah atau rizalul ghaib mungkin ditugaskan menjadi penyamar, seperti intelijen. Mereka harus siap dianggap hina menurut orang lain, demi tugas dan syaratnya harus bisa melepaskan gengsi.

Dalam pendidikan nafsiyah, ada latihan di mana seorang lelaki harus mengenakan pakaian perempuan dan berbelanja ke mall, meskipun dia adalah lelaki asli. Simulasi ini bertujuan untuk melepaskan rasa gengsi, bukan rasa malu. Meskipun tindakan tersebut terasa memalukan, sebenarnya itu adalah gengsi. Hamba Allah harus merdeka dari perasaan yang tidak pada tempatnya.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.