Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Berbagai edisi sebelumnya telah membahas mengenai mengenal diri, termasuk sifat-sifat yang melekat pada manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, cara mengenali diri dimulai dengan memahami sifat-sifat yang ada di dalam diri. Dalam rangka muhasabah, penting untuk mengidentifikasi sifat-sifat buruk yang memerlukan perbaikan. Sifat-sifat ini bisa berasal dari dalam kalbu maupun nafs.
Pada bagian ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai sifat ‘berhitung-hitung.’. Apakah sifat ini ada dalam diri kita? Pembahasan ini melampaui sekadar sifat kikir. Sifat kikir sendiri merupakan bagian besar dari sifat berhitung-hitung. Namun, bahkan seseorang yang sudah tidak kikir sekalipun terkadang masih memelihara sifat berhitung-hitung dalam interaksinya.
Kami sengaja menggunakan istilah “berhitung-hitung” alih-alih “perhitungan,” karena istilah perhitungan kerap diasosiasikan dengan menghitung angka, seperti dalam aktivitas perdagangan. Dalam konteks berdagang, sifat perhitungan adalah hal yang wajar dan bahkan diperlukan untuk menghindari kerugian. Namun, akan menjadi masalah jika sifat perhitungan ini diterapkan secara berlebihan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hubungan antar sesama manusia—terlebih kepada saudara, sahabat, atau teman.
Sangat disayangkan jika seseorang memandang segala aspek kehidupan seperti praktik berdagang. Kehidupan sosial tidak seharusnya dipenuhi sifat berhitung-hitung yang mengutamakan keuntungan pribadi semata. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memelihara sifat dermawan. Selama kita mampu, kita harus berkontribusi untuk kehidupan sosial. Oleh karena itu, agama mengajarkan kita untuk melazimkan sedekah, sekecil apa pun itu. Sebagaimana firman Allah SWT:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَا رَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَا بٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَ مْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ ۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui,” (QS. As-Saff 61: Ayat 10-11)
Dengan melatih diri untuk lebih dermawan dan meninggalkan sifat berhitung-hitung dalam kehidupan, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan penuh keberkahan.
Jual beli yang paling mulia di hadapan Allah adalah bersedekah. Oleh karena itu, sifat yang bertentangan dengan sedekah adalah sifat kikir. Namun, meskipun seseorang sudah terbebas dari sifat kikir, tidak jarang masih ada yang memelihara sifat “berhitung-hitung” dalam dirinya.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara sifat kikir dan sifat berhitung-hitung? Orang yang kikir sudah pasti memiliki sifat berhitung-hitung, enggan mengeluarkan sesuatu untuk orang lain, dan cenderung tidak mau bersedekah. Sedangkan sifat berhitung-hitung terdapat pada orang yang sebenarnya sudah tidak kikir, tetapi masih memperhitungkan dengan sangat hati-hati setiap pengeluaran yang semestinya dikeluarkan, terutama dalam konteks tertentu.
Kenapa perlu ada konteks? Karena berhemat adalah anjuran dalam agama, sebab Allah tidak menyukai sifat boros. Namun, berhitung-hitung dalam hal yang semestinya dilakukan—seperti bersedekah atau membantu orang lain—bisa menjadi penghalang dalam melaksanakan kebaikan. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara berhemat dan berderma sesuai ajaran agama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَا نُوْۤا اِخْوَا نَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَا نَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 27)
Jual beli yang paling mulia di hadapan Allah adalah bersedekah. Sebaliknya, sifat yang bertentangan dengan sedekah adalah sifat kikir. Namun, meskipun seseorang telah berhasil menghilangkan sifat kikir, terkadang sifat ‘berhitung-hitung’ masih melekat dalam dirinya.
Orang yang boros itu adalah orang yang mengeluarkan sesuatu tanpa memperhatikan manfaat untuk dirinya, salah satunya adalah perilaku berfoya-foya atau membeli kebutuhan yang sementara dia sendiri tidak membutuhkan itu dengan sebenar-benarnya.
Apa sebenarnya perbedaan antara sifat kikir dan sifat berhitung-hitung? Orang yang kikir cenderung selalu berhitung-hitung, enggan berbagi, dan hampir tidak pernah bersedekah. Sementara itu, sifat berhitung-hitung sering ditemukan pada orang yang sebenarnya tidak lagi kikir, tetapi masih terlalu hati-hati dalam mengeluarkan sesuatu, bahkan dalam hal-hal yang seharusnya dilakukan, terutama pada situasi tertentu.
Mengapa konteks menjadi penting dalam pembahasan ini? Karena berhemat adalah ajaran agama—Allah tidak menyukai sifat boros. Namun, jika sikap berhitung-hitung diterapkan dalam urusan seperti bersedekah atau membantu sesama, sifat ini dapat menjadi penghalang untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itu, sangat penting menjaga keseimbangan antara hidup hemat dan kedermawanan, sebagaimana diajarkan dalam agama.
Intinya, kita harus memahami kapan perlu berhemat dan kapan harus memberikan sesuatu kepada orang lain, terutama dalam konteks yang memang menuntut kebaikan. Misalnya, menjamu tamu atau membantu orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Meskipun dalam situasi tersebut kita mungkin dihadapkan pada dilema antara menjaga kebutuhan pribadi dan membantu orang lain, keputusan untuk berbagi dalam konteks tertentu justru merupakan bentuk ibadah yang sangat dianjurkan.
Masih banyak situasi lain yang perlu dipahami, diterapkan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, jika kita terus memelihara sifat berhitung-hitung, hal ini dapat menghambat kita dalam menjalankan penghambaan kepada Allah dan menunaikan kebaikan sebagaimana yang Dia perintahkan kepada umatnya.
Advertisement
