Advertisement
GazanaPublika.com, Serang — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang menggelar peringatan Hari Santri Nasional yang dirangkai dengan Istighatsah Kebangsaan di halaman Masjid Agung Ats-Tsauroh, Jalan Veteran 31 A, Kota Serang, pada Selasa (21/10/2025).
Acara tersebut dihadiri jajaran pemerintah, tokoh masyarakat, dan sekitar 800 santri dari berbagai pesantren di Kota Serang.
Hadir dalam kegiatan ini Wali Kota Serang Budi Rustandi, Ketua DPRD Kota Serang H. Muji Rohman, utusan Kapolresta Serang, utusan Dandim 0602 Kota Serang, serta sejumlah ulama dan pimpinan NU di tingkat wilayah dan cabang.
Advertisement
Turut hadir pula Mustasyar PCNU Kota Serang Drs. KH. Matin Syarkowi, Rois Syuriah KH. Khaeroni, NS, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang KH. Saifun Nawasi, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Banten KH. Nafis Gunawan dan juga Pengasuh Jam’iyah Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadizliyah, H. Hudi Nurhudiyat dan seluruh tokoh masyarakat.
Acara Hari Santri Nasional itu pun diisi penceramah KH. Gofur yang memberikan semangat dan suasana humor dalam ceramahnya..Santri pun banyak yang tertawa mendengar ceramahnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Serang H. Budi Rustandi menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terselenggaranya acara ini.
“Saya sangat bangga bisa diundang di sini. Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan Hari Santri ini. Saya mengajak untuk merenungkan maknanya: santri tidak hanya identik dengan kitab kuning, tetapi juga menjaga kelestarian NKRI,” ungkap Budi Rustandi.
Sementara sambutan KH. Matin Syarkowi, Mustasar PCNU Serang dan penggagas Hari Santri menegaskan bahwa pesantren memiliki peran fundamental dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia. “Sebelum negara ini ada, santri sudah ada,” ujarnya disambut tepuk tangan para hadirin.
Ia juga menyoroti tayangan salah satu stasiun televisi, yakni Trans7 yang dinilai melecehkan pesantren dengan menyebut pengabdian di dalamnya sebagai bentuk perbudakan.

“Sebuah pengabdian dikatakan perbudakan. Itu bentuk pelecehan terhadap pesantren,” tegas KH. Matin.
Menurutnya, pesantren adalah pilar kebangsaan yang memiliki dua model: pesantren khalaf (modern) dan pesantren salaf (tradisional). Keduanya, kata dia, memiliki peran masing-masing dalam membangun karakter bangsa. “Kalau ada yang mengabaikan keberadaan pesantren, itu keliru besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, KH. Matin menegaskan bahwa pesantren salafiyah memiliki kekhasan budaya Nusantara dan menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Indonesia. “Pesantren pertama kali berdiri di Banten, dan ketenarannya sampai ke Baghdad,” ungkapnya.
KH. Matin juga mengingatkan bahwa pada masa lalu, negara hampir tidak hadir di pesantren. Namun para santri tetap berjuang dan mengabdi tanpa pamrih.
“Dulu pesantren tidak dilirik negara, tapi pengabdiannya terus 24 jam. Tidak pernah minta gaji dari pemerintah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, dari keprihatinan itulah muncul gagasan untuk memperjuangkan Hari Santri Nasional agar diakui sebagaimana hari besar nasional lainnya.
“Akhirnya disetujui dan ditandatangani pada 5 Juli 2015,” ujarnya.
KH. Matin juga mengingatkan para elit politik agar tidak hanya datang ke pesantren saat masa kampanye. “Elit politik jangan cuma datang ke ulama dan pesantren saat butuh suara. Hadirkan kebijakan nyata untuk kesejahteraan santri,” tegasnya.
Apresiasi terhadap peringatan Hari Santri Nasional juga datang dari KH. Hudi Nurhudiyat, Pengasuh Jam’iyah Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah sekaligus Ketua DPW I TTKKBI Banten. Dalam sambutannya, KH. Hudi menegaskan bahwa santri memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah bangsa, jauh sebelum berdirinya negara, sejak masa Walisongo hingga Syekh Nawawi Al-Bantani.
“Kita bangga dengan Nusantara. Dengan adanya Walisongo dan Syekh Nawawi, di situlah akar sejarah dan jati diri Nusantara,” ujarnya.
KH. Hudi menjelaskan, santri bukan hanya pewaris tradisi keilmuan Islam, tetapi juga simbol pemersatu bangsa.
“Dulu ulama dan jawara itu bersatu. Hakikatnya, ulama adalah santri. Dahulu, para jawara, tentara, dan seluruh unsur masyarakat berjuang bersama para santri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan santri sebagai penyejuk kehidupan bangsa dan penjaga moralitas masyarakat.
“Santri itu yang menanam, sedangkan jawara yang memberantas hamanya. Jawara bukan centeng atau preman, tetapi pendekar yang menegakkan nilai-nilai moral,” tegas KH. Hudi.
Menurutnya, hakikat seorang santri adalah semangat belajar yang tiada henti. “Ulama pun berasal dari santri. Tidak mungkin seseorang menjadi ulama kalau tidak pernah menjadi santri,” tuturnya.
Menutup pesannya, KH. Hudi mengajak seluruh unsur masyarakat, terutama kalangan santri, agar tidak terpecah belah dan tetap bersatu menjaga keutuhan bangsa.
“Jangan sampai kita terpecah. Semua harus bersatu menjaga Nusantara, baik dari ancaman luar maupun dari dalam. Jika santri terpecah, maka negara pun akan terpecah,” pungkasnya.
Advertisement
Advertisement
