GazanaPublika.com, Pandeglang — Di lereng Gunung Pulosari, ribuan orang berkumpul bukan sekadar untuk menanam pohon, tetapi menanam harapan. Kegiatan Reboisasi Pulosari Lestari kembali digelar sebagai bentuk komitmen nyata dalam memulihkan lingkungan dengan pendekatan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari Green Safety Initiative yang diinisiasi oleh Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia. Fokus utamanya tidak lagi sekadar menghitung jumlah pohon yang ditanam, melainkan memastikan keberagaman spesies melalui penanaman pohon kayu keras endemik lokal Indonesia—sebuah langkah strategis untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem hutan.
Di tengah laju deforestasi yang kian mengkhawatirkan, persoalan yang dihadapi tidak hanya hilangnya tutupan hutan, tetapi juga menyusutnya keanekaragaman hayati akibat praktik monokultur yang tidak terkendali. Dampaknya terasa luas: fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan perlahan melemah.
Menjawab kondisi tersebut, pendekatan biodiversity-based reforestation dijadikan landasan utama. Penanaman disesuaikan dengan karakteristik ekologis kawasan Gunung Pulosari, sehingga hutan tidak hanya kembali hijau, tetapi juga kembali ‘hidup’ sebagai habitat alami, sumber resapan air, dan sistem penyangga lingkungan.
Namun kegiatan ini tidak berhenti pada aspek lingkungan. Edukasi menjadi pilar penting. Para peserta—yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa—tidak hanya diajak menanam, tetapi juga memahami makna konservasi berbasis ekosistem. Dengan demikian, kegiatan ini menjelma menjadi ruang belajar yang berdampak jangka panjang, bukan sekadar agenda seremonial.
Green Safety Initiative sendiri dirancang sebagai program terpadu yang mengintegrasikan lima aspek penting: pendidikan, rekreasi, prestasi, konservasi, dan eksplorasi. Melalui pendekatan berbasis hobi, aktivitas pendakian dan kegiatan luar ruang diarahkan menjadi media pembinaan karakter sekaligus kampanye lingkungan hidup.
Rangkaian kegiatan edukatif telah dimulai sejak Januari 2026 melalui Coaching Clinic Keselamatan Pendakian. Materi yang diberikan mencakup etika pendakian hingga manajemen risiko. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan dari sekolah ke sekolah sebagai langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan serta meminimalisir kerusakan lingkungan akibat kurangnya pemahaman.
Inisiatif ini mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pattiro Banten sebagai mitra strategis dalam penguatan gerakan berbasis masyarakat.
Puncak kegiatan yang digelar pada Minggu, 19 April 2026 ini diikuti oleh 1.160 peserta dari berbagai komunitas di Provinsi Banten. Keterlibatan lintas elemen ini menjadi sinyal tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.
Koordinator Umum kegiatan, Daden Hilmansah, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ia mengajak peserta untuk tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga menjaga keseimbangannya.
Dukungan juga datang dari pihak kepolisian. Yoffy Trinova, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan konservasi seperti ini sejalan dengan kebijakan nasional dan mendapat perhatian pimpinan daerah. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) dalam setiap kegiatan berskala besar.
Sementara itu, penggagas program, Deni Ahmad Fanani, menekankan bahwa keberhasilan kegiatan tidak diukur dari jumlah pohon semata. Menurutnya, yang lebih penting adalah sejauh mana nilai kepedulian lingkungan tertanam dalam diri peserta, sehingga lahir generasi penggerak yang akan melanjutkan estafet pelestarian alam.
Apresiasi juga disampaikan oleh H. Jumroni, yang menyebut kegiatan ini sebagai langkah progresif dalam membangun kesadaran lingkungan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dirancang secara sistematis, mulai dari pembekalan teknis, pembagian zona tanam, hingga sistem pemantauan pasca kegiatan. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa reboisasi tidak berhenti di seremoni, tetapi berlanjut pada dampak nyata bagi ekosistem.
Lebih dari sekadar aksi tanam pohon, Reboisasi Pulosari Lestari telah berkembang menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas. Di sinilah gerakan bersama dibangun—sebuah upaya kolektif untuk menjaga alam dan merawat masa depan.
Pada akhirnya, program ini menegaskan satu hal penting: pelestarian lingkungan bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang menyiapkan generasi yang memiliki kesadaran, pengetahuan, dan tanggung jawab moral untuk menjaga bumi tetap lestari.
