Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Audensi TTKKBI dan Dindikbud: Banten Bakal Punya Gedung Kesenian hingga Pembentukan Dewan Kebudayaan

Audensi TTKKBI dan Dindikbud: Banten Bakal Punya Gedung Kesenian hingga Pembentukan Dewan Kebudayaan

Banten Rabu, 29 April 2026 14:51 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Serang — Komitmen untuk memperkuat posisi kebudayaan dalam pembangunan daerah mengemuka dalam pertemuan antara DPW I Banten Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) dengan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten pada Rabu (29/4/2026).

Audiensi yang berlangsung dalam suasana cair namun penuh gagasan itu berkembang menjadi forum diskusi strategis mengenai masa depan kebudayaan Banten—mulai dari kebutuhan ruang pertunjukan, penguatan kurikulum lokal, hingga lahirnya kelembagaan budaya yang lebih representatif.

Advertisement

Rombongan TTKKBI dipimpin Ketua DPW I Banten, H. Hudi Nurhudiyat, bersama Sekretaris Wilayah II, Uyeng Saepulrohman, serta jajaran pengurus lainnya. Mereka diterima langsung Sekretaris Disdikbud Banten, Rahmat Tamam, dan Kepala Bidang Kebudayaan, Rohaendi.

Salah satu pokok pembahasan yang mengemuka adalah minimnya infrastruktur kebudayaan di Banten, terutama belum tersedianya gedung kesenian yang dapat menjadi pusat pertunjukan, ekspresi, sekaligus ruang konsolidasi para pelaku budaya.

Dalam dialog tersebut, Uyeng Saepulrohman menyampaikan kegelisahan yang selama ini dirasakan banyak komunitas budaya di Banten.

“Kami sebetulnya ingin menyampaikan banyak hal terkait budaya ini. Ya salah satunya terkait keberadaan gedung kesenian, apa itu ada atau tidak ya?” ungkap Uyeng.

Pertanyaan itu dijawab terbuka oleh Rahmat. Ia mengakui bahwa hingga saat ini Banten memang belum memiliki gedung kesenian yang ideal sebagai rumah besar bagi aktivitas kebudayaan. Namun pemerintah, kata dia, telah menyiapkan skenario sementara agar kegiatan seni dan budaya tetap memiliki ruang tampil.

BACA JUGA:  Polda Banten Imbau Orang Tua Awasi Anak agar Tak Terjebak Kericuhan Saat Penyampaian Aspirasi

“Kami mengakui secara ideal belum ada gedung itu. Tetapi apabila memang membutuhkan gedung untuk pertunjukan, kami bisa fasilitasi untuk menggunakan Gedung Plaza Aspirasi. Ya selama bisa dipakai, bisa gunakan itu,” ujarnya.

Sementara itu, Rohaendi menambahkan bahwa pembangunan gedung kesenian sejatinya telah masuk dalam agenda perencanaan. Tantangan saat ini berada pada sisi pembiayaan, termasuk penjajakan skema pendanaan alternatif melalui CSR.

“Ya sedang mengusahakan anggarannya, salah satunya dengan menggunakan dana CSR,” jelasnya.

Tak hanya menyentuh persoalan fasilitas fisik, audiensi juga bergerak pada pembahasan yang lebih substantif: bagaimana kebudayaan diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan. TTKKBI mendorong agar unsur budaya lokal mendapatkan tempat yang lebih kuat dalam kurikulum muatan lokal, sehingga generasi muda Banten tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Merespons hal itu, Rohaendi menjelaskan bahwa beberapa elemen budaya daerah sejatinya telah mulai diakomodasi, seperti penggunaan batik sebagai identitas, pengenalan seni rapak bedug, hingga pencak silat sebagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Namun, untuk pelajaran bahasa daerah, ia mengakui implementasinya masih dalam tahap penggodokan.

BACA JUGA:  Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

“Namun memang kami belum memasukan secara khususnya untuk penerapan pelajaran bahasa daerah. Namun sedang diupayakan. Kita tahu di Banten ini ada tiga bahasa, sunda, jawa dan betawi. Tentu penerapannya sesuai wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Di penghujung audiensi, muncul kabar yang memberi harapan baru bagi pelaku budaya. Menjawab aspirasi mengenai perlunya lembaga adat atau forum kebudayaan yang dapat menjadi mitra resmi pemerintah, Rohaendi mengungkapkan bahwa Pemprov Banten saat ini tengah memfinalisasi Pergub ‘Pemajuan Kebudayaan’.

Regulasi itu nantinya akan menjadi pijakan penting dalam penataan ekosistem budaya di Banten, termasuk membuka jalan bagi pembentukan Dewan Kebudayaan sebagai wadah representatif yang menjembatani suara komunitas budaya dengan kebijakan pemerintah.

“Terus terang, hal itu bukan lagi kami pikirkan tetapi sudah kami persiapkan. Kebetulan saat ini pemerintah Banten sedang menggodok Pergub ‘Pemajuan Kebudayaan’. Dan tampaknya sudah mulai final. Nanti kalau sudah final TTKKBI akan kami undang,” ungkap Rohaendi.

Pertemuan itu menegaskan satu hal: kebudayaan Banten bukan sedang dibicarakan sebagai pelengkap seremoni, melainkan mulai ditempatkan sebagai agenda pembangunan yang serius. Ketika komunitas budaya dan pemerintah duduk dalam satu meja, yang lahir bukan sekadar wacana, tetapi kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan identitas Banten.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Banten

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Banten

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

Banten

Lari dari Proses Hukum, Kakak Ipar Pemerkosa Adik di Binuang Serang Jadi Buronan Polisi

Banten

Dua Polisi Gadungan di Malingping Culik dan Siksa Warga, Uang Jutaan Rupiah Turut Dirampas

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version