GazanaPublika.com, Cilegon — Sebuah langkah besar dalam menjaga eksistensi pencak silat tradisional kembali ditunjukkan di tanah Banten. Struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon resmi dikukuhkan. Berbeda dari biasanya, prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat dan meriah ini digelar terbuka di tepi Pantai Mabak pada Sabtu (10/06/2026) siang.
Acara sakral ini langsung dibuka dengan gebrakan bertenaga dari para pesilat muda. Lapangan upacara dibuat bergemuruh oleh pertunjukan kolosal jurus ‘khas’ TTKKBI ‘Tapak Karuhun’ yang diperagakan secara kompak oleh generasi muda putri TTKKBI Pulomerak, mencuri perhatian seluruh tamu undangan yang hadir di pesisir pantai.
Agenda pengukuhan ini dihadiri langsung oleh barisan pimpinan tertinggi organisasi, di antaranya Ketua Umum TTKKBI H. Tubagus Arif Hidayat, Ketua DPW I Provinsi Banten H. Hudi Nurhudiyat, serta Ketua DPW II Cilegon H. Hundusin Adistara. Hadir pula utusan TTKKBI dari DKI Jakarta dan Lampung, perwakilan ormas Pemuda Pancasila, serta jajaran unsur TNI-Polri setempat seperti Kapolsek Pulomerak Kompol D.P. Ambarita, PM Pulomerak Kapt. Cpm Ahmad Sumengkar, dan Danlanal Palas Pulomerak.
Nakhoda baru DPC TTKKBI Pulomerak yang resmi dilantik, Sutari, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kerja keras seluruh komponen panitia internal yang berhasil menyukseskan acara.
“Saya sangat bangga atas kekompakan tim panitia yang alhamdulillah acara ini dapat terlaksana dengan sukses,” jelas Sutari.
Di balik mandat baru yang diembannya, Sutari menyimpan kisah unik. Ia mengaku terkejut karena mandat ketua tersebut jatuh ke tangannya, mengingat namanya bukan merupakan sosok yang diusulkan sejak awal pembentukan kepengurusan.
“Saya tidak menyangka. Tetapi alhamdulillah saya bangga bisa bergabung dengan TTKKBI. Dan ketika sudah terpilih, harapan saya, TTKKBI Pulomerak akan lebih maju,” ujarnya.
Momen pelantikan ini juga menandai bersatunya kekuatan seni bela diri tradisional di Pulomerak. Sutari mengungkapkan bahwa bersamaan dengan hari pengangkatannya, ada 10 padepokan silat lokal yang menyatakan ikrar untuk melebur ke dalam naungan keluarga besar TTKKBI.
“Hubungan saya dengan mereka sangat baik. Saya sejak dulu sangat menyukai budaya, dan mengenal tokoh budaya di sini,” jelas Sutari mengenai kedekatannya dengan para penggiat seni akar rumput.
Perluasan jaringan ini disambut hangat oleh Ketua DPW II Cilegon, H. Hundusin Adistara. Pengukuhan ini memperkuat barisan pelestari tradisi cimande yang kini kian tersebar luas di wilayah Kota Cilegon.
“Kita bisa bersilaturahmi di sini, kami mengapresiasi sebesar-besarnya. Dan ini adalah adalah DPC yang ke empat dari 8 kecamatan,” kata Hundusin.
Hundusin memberikan catatan khusus mengenai posisi strategis Cilegon sebagai kawasan industri yang rentan terhadap percampuran budaya luar. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak termasuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) untuk memperkuat benteng kearifan lokal tanpa melupakan pencapaian prestasi yang telah diukir selama ini.
“Kami selalu berkomitmen dan konsisten untuk melestarikan seni budaya dan konsisten. Ayo kita sama sama melestarikan seni dan budaya. Kita perlu mengingat bahwa Cilegon kota industri, karenanya keberadaan budaya harus dikuatkan, sangat berpotensi terjadi bercampuran budaya. Lalu saya juga mohon dukungan juga dari IPSI untuk memperhatikan seni dan budaya. Dan perlu diingat TTKKBI ini sudah terbukti memberikan dukungan prestasi di dalam IPSI ketika Kami mengirimkan atlet ke Jakarta dalam kejuaraan di bawah yang diselenggarakan di bawah menteri kebudayaan,” paparnya secara luas.
Hundusin juga menyelipkan wejangan penting agar seluruh pendekar tetap memegang teguh nilai moral dan senantiasa mengedepankan etika dalam melestarikan seni dan budaya.
Apresiasi terhadap kepemimpinan pusat turut disuarakan oleh Ketua DPW I Banten, H. Hudi Nurhudiyat, yang memandang pimpinan tertinggi mereka sebagai jangkar tradisi di tanah jawara.
“Bapak H. Arif Hidayat kita pandang sebagai penjaga adat istiadat di Banten. Beliau tidak henti dalam memberikan motivasi bagi kita semua,” komentar Hudi Nurhudiyat.
Hudi mengingatkan agar seluruh budayawan dan pesilat terus menjaga marwah kebudayaan lokal agar tidak tergilas zaman. Ia juga memaknai kehadiran instansi militer dan kepolisian dalam acara tersebut sebagai modal penting dalam memperkokoh ketahanan nasional lewat jalur kebudayaan.
“Dengan adanya kehadiran dari TNI dan Kepolisian, sebagai simbol integrasi untuk menguatkan NKRI dalam menguatkan budaya,” pungkas Hudi di akhir jalannya prosesi pelantikan.
