Advertisement
GazanaPublika.com, Serang — Memahami ilmu spiritual tidak cukup hanya dengan menguasai pengetahuan, tetapi juga menuntut ketepatan dalam menempatkan diri sesuai tahapan keilmuan. Kekeliruan dalam memahami dan mengamalkan ilmu dinilai dapat memengaruhi karakter seseorang, terutama ketika seseorang menempatkan dirinya tidak sesuai dengan posisi keilmuan yang semestinya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pengajian rutin ‘Lampah Genetika Enam Bulan Darul Qur’an (Lagenda) ke-XXI’ yang digelar Majelis Al Ma’arijul Wathon pada Senin (19/10/2026). Mengangkat tema ‘Integrasi Syariat dan Hakikat—Menyingkap Kekeliruan Kebatinan, Membangun Kearifan Spiritual Sejati’, kegiatan ini diikuti 56 salik dari berbagai daerah, terutama Banten, Jawa Barat, dan Jakarta. Acara ini akan diselenggarakan dari tanggal 19-24 Oktober 2026.
Advertisement
Pengajian tersebut diasuh langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Al Ma’arijul Wathon, KH Hudi Nurhudiyat, yang juga merupakan Mursyid Tarekat Asy-Syadziliyah.
Dalam pembukaan pengajian, KH Hudi Nurhudiyat, yang dikenal dengan sebutan Ki Banjar Agung, menguraikan tiga jenis ilmu secara umum, yakni ilmu diam, ilmu mengembara, dan ilmu mengabdi atau mengajar. Menurutnya, setiap posisi memiliki karakter dan tahapan tersendiri yang perlu dipahami oleh orang yang sedang menempuh perjalanan keilmuan.
Ia menjelaskan, posisi diam merupakan tahap dasar sebelum seseorang memasuki tahap pengembaraan untuk mempelajari dan memperluas pengetahuan. Setelah melalui tahapan tersebut, seseorang dapat mencapai posisi mengabdi atau mengajar. Namun, perpindahan dari satu posisi ke posisi lainnya harus disertai pemahaman yang tepat agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam menempatkan diri.
“Posisi awalnya itu adalah diam. Posisi diam adalah posisi dasar. Lalu barulah pengilmu itu belejar mengembara. Pada posisi akhir dia mengajar maka harus menyimpan semua ilmu tersebut, disimpan dulu,” tuturnya.
Menurut KH Hudi, ketiga posisi tersebut tidak sekadar menggambarkan tahapan dalam memperoleh pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter orang yang berilmu. Ketika seseorang bertukar posisi tanpa memahami kedudukan dan tanggung jawabnya, dapat muncul ketidaksesuaian antara ilmu yang dimiliki dengan sikap yang ditunjukkan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pemikiran Syekh Siti Jenar, termasuk karakter keilmuannya yang kerap dikaitkan dengan konsep Wahdatul Wujud. KH Hudi memberikan penjelasan berdasarkan pemahamannya mengenai ilmu papat kalima pancer.
“Sebenarnya itu hanya luapan ilmunya papat kalima pancer. Bukan wahdatul wujud,” jelasnya.
Melalui pengajian tersebut, Majelis Al Ma’arijul Wathon mengangkat pentingnya memahami perjalanan spiritual secara tepat, termasuk membedakan tahapan keilmuan dan menempatkan pengetahuan sesuai dengan tanggung jawabnya.
Tema integrasi syariat dan hakikat menjadi landasan pembahasan agar pemahaman kebatinan tidak dilepaskan dari kerangka keilmuan yang diyakini benar. Pengajian ini sekaligus menjadi ruang bagi para salik dari berbagai daerah untuk memperdalam pemahaman spiritual di bawah bimbingan mursyid.
Advertisement
