Advertisement
GazanaPublika.com, Lebak — Semangat gotong royong yang sudah lama tenggelam akhirnya kembali menyala di lingkungan Binglu, RT 007/004, Desa Sukaraja, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Untuk kesekian kalinya dalam sejarah desa itu, puluhan warga turun tangan memperbaiki jalan poros yang rusak parah secara swadaya—sebuah tindakan kolektif yang muncul bukan karena program pemerintah, melainkan karena kelelahan menunggu janji yang tak kunjung ditepati. Mereka sengaja melakukan hal tersebut karena untuk membantu pemerintah dalam melakukan pembangunan.
Jalan poros desa sepanjang kurang lebih 300 meter yang menghubungkan Desa Sukaraja dan Desa Kadujajar telah lama dalam kondisi memprihatinkan. Lubang menganga, permukaan tanah yang becek saat hujan, dan debu beterbangan saat kemarau menjadi pemandangan sehari-hari. Namun pada Kamis (1/4/2025), suasana berbeda tampak di lokasi. Suara cangkul, sekop, dan tawa warga yang bersatu menggantikan keluhan yang selama ini mereka pendam.
“Kami tidak terbiasa bergotong royong seperti ini. Tapi karena keadaan mendesak dan tidak ada kepastian dari pemerintah, kami putuskan untuk turun tangan sendiri,” ujar Suheri, salah satu tokoh masyarakat yang ikut mengawasi jalannya kegiatan.
Menurut Suheri, inisiatif ini bukan sekadar aksi perbaikan jalan, tetapi simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian.
“Bahkan ada warga yang menyumbang secara pribadi dalam jumlah cukup besar, meski enggan disebutkan namanya. Itu semua demi kemaslahatan bersama,” tambahnya.
Gotong royong ini bukan hanya tentang menambal jalan rusak, melainkan juga menambal kepercayaan yang mulai terkikis terhadap pemerintah desa. Eman Sudarman, tokoh masyarakat lainnya, mengaku bahwa aksi ini lahir dari kekecewaan mendalam.
“Sudah bertahun-tahun kami ajukan lewat Musrenbangdes, tapi tak pernah menjadi prioritas. Pemerintah lambat merespons, padahal ini jalan utama yang digunakan setiap hari,” kata Eman.
Ketua RT 007, Deni, menegaskan bahwa warga sebenarnya berharap ada campur tangan pemerintah, tetapi karena tak kunjung ada realisasi, masyarakat akhirnya menyatukan tenaga dan dana.
“Ini bukan sekadar soal jalan, ini soal harga diri dan kekompakan warga. Baru kali ini kami bergerak bersama seperti ini, dan mudah-mudahan ini jadi awal kesadaran kolektif,” ucap Deni.
Gotong royong ini menjadi momentum penting bagi Desa Sukaraja. Sebuah peristiwa langka yang mungkin sederhana secara teknis, namun penuh makna sosial.
Di tengah keterbatasan, warga membuktikan bahwa kepedulian bisa menjadi bahan bakar perubahan—sekaligus pengingat bagi pemerintah bahwa suara rakyat tak selamanya akan diam jika tak didengar. ***
Advertisement
