Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Di tengah gejolak pasar keuangan yang memperlihatkan nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus angka Rp17.706 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, dinamika pembahasan mengenai mata uang asing tersebut kian meluas di ruang publik. Situasi ini memicu munculnya berbagai tanggapan dari kalangan legislatif di Senayan terkait stabilitas sosial dan politik nasional.
Politikus Partai Golkar yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, membeberkan sudut pandangnya mengenai arah kebijakan komunikasi yang dilemparkan oleh pihak Istana. Dirinya mengonfirmasi bahwa dampak penurunan nilai kurs pada dasarnya pasti akan tetap menjalar ke seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk warga yang bermukim di wilayah pedesaan.
Advertisement
Kendati demikian, Misbakhun menggarisbawahi bahwa pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala Negara merupakan bentuk sinyal politik terarah bagi otoritas moneter. Menurutnya, ucapan tersebut menjadi sebuah instruksi tersirat agar Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah cepat guna mengatasi depresiasi mata uang garuda. Beruntung, BI sendiri telah memberikan kepastian bahwa pondasi dasar ekonomi domestik masih kokoh, sehingga performa saat ini tidak dapat disamakan dengan situasi genting pada krisis finansial 1998 silam akibat adanya perbedaan fundamental pada tata susunan ekonomi Indonesia.
Oleh sebab itu, parlemen menilai rangkaian kalimat yang dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebelumnya terkait absensi penggunaan mata uang asing oleh masyarakat desa murni merupakan sebuah langkah taktis untuk meredam kegaduhan masif di kalangan masyarakat bawah.
“Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” demikian petikan penegasan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto guna menegaskan ketahanan nasional pada pemenuhan sektor logistik pokok dan daya energi di tengah guncangan global.
Secara lebih terperinci, pihak parlemen menilai pesan tersebut sengaja disebarkan demi mengontrol atmosfer psikologis publik agar tidak terseret ke dalam kepanikan kolektif yang tidak perlu, terutama ketika isu moneter mulai mendominasi perbincangan harian masyarakat luas.
Untuk melihat penjelasan langsung dari parlemen terkait maksud dari pernyataan kepala negara di tengah fluktuasi nilai tukar ini, Anda dapat menyimak tanggapan lengkapnya melalui tautan Ketua Komisi XI DPR Bela Prabowo soal Orang Desa Tak Pakai Dolar AS. Video ini menyajikan analisis mendalam dari pihak legislatif mengenai upaya menjaga stabilitas psikologis masyarakat di tengah dinamika ekonomi global saat ini.
Advertisement
