Advertisement
GazanaPublika.com,Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya kembali angkat bicara terkait polemik ijazah sarjana Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Pihak kampus menegaskan bahwa ijazah Jokowi, sama seperti seluruh alumni UGM lainnya, hanya dicetak satu kali dan langsung diserahkan kepada pemiliknya pada prosesi wisuda.
Klarifikasi ini disampaikan untuk merespons kembali maraknya spekulasi di ruang publik mengenai keaslian dokumen kelulusan Jokowi. Foto-foto yang diklaim sebagai ijazah sarjana Jokowi sempat beredar luas di media sosial dalam beberapa pekan terakhir, menimbulkan perdebatan sengit antara pihak yang meragukan otentisitasnya dengan mereka yang menilai isu ini hanyalah pengulangan dari tuduhan lama.
Hanya Dicetak Sekali
Advertisement
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, melalui tayangan video bertajuk #UGMMENJAWAB Ijazah Joko Widodo yang diunggah di kanal YouTube UGM pada Jumat (22/8), menegaskan bahwa dokumen ijazah di kampus itu tidak pernah digandakan lebih dari sekali.
“Kalau ijazah itu kan dicetak sekali, kemudian diberikan kepada yang bersangkutan. Jadi ijazah itu hanya satu. Yang ada di tangan Pak Jokowi adalah dokumen asli. Sedangkan di kampus, yang kami miliki hanya berupa salinan arsip,” tegas Sigit.
Sigit menambahkan bahwa kampus tidak memiliki wewenang untuk menyimpan dokumen asli para alumni. “Kami hanya menyimpan salinan untuk arsip. Kalau ijazah aslinya ya pasti ada di pemiliknya, dalam hal ini Pak Jokowi sejak beliau diwisuda pada November 1985,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Sigit menjelaskan bahwa salinan ijazah Jokowi beserta berkas akademik lain saat ini telah diserahkan kepada pihak kepolisian. Langkah ini diambil karena dokumen tersebut masuk kategori data pribadi dan hanya dapat diperlihatkan kepada lembaga resmi yang berwenang.
“Semua dokumen yang berkaitan dengan itu sekarang ada pada kepolisian. Di universitas maupun fakultas, kami tidak akan menyebarkan ke pihak mana pun karena itu data pribadi,” terang Sigit.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM, Wening Udasmoro, menegaskan bahwa pihak kampus tidak memiliki kewajiban maupun kapasitas untuk menilai keaslian foto-foto ijazah yang beredar di media sosial.
“UGM tidak melakukan verifikasi terhadap apa yang beredar di media sosial. Kami hanya berpegang pada data resmi yang kami punya. Jadi meski pertanyaan itu diajukan berulang kali, jawaban kami tetap sama karena dasarnya juga sama,” kata Wening.
Menurut Wening, tanggung jawab untuk membuktikan status alumni ada pada pemilik ijazah sendiri. “Kalau ada yang ingin memastikan seseorang lulusan UGM atau tidak, prosedurnya sederhana: orang itu harus menunjukkan sendiri ijazahnya. Kampus tidak bisa memberikan klarifikasi atas dokumen pribadi yang bukan hak publik,” ujarnya.
Perdebatan mengenai keaslian ijazah sarjana Jokowi sejatinya bukan hal baru. Sejak masa Pilpres 2019, isu serupa beberapa kali mencuat, terutama di media sosial. Foto-foto dan dokumen yang diklaim sebagai bukti seringkali dijadikan bahan analisa oleh pihak-pihak yang meragukan latar belakang akademis Jokowi.
Namun, setiap kali isu ini kembali mengemuka, UGM konsisten memberikan jawaban yang sama: ijazah hanya dicetak sekali, diserahkan langsung kepada pemiliknya, dan universitas hanya menyimpan salinan arsip. Sikap ini ditegaskan kembali melalui pernyataan terbaru pihak fakultas dan rektorat.
Meski sudah berulang kali diklarifikasi, pernyataan terbaru dari UGM tetap dianggap penting untuk meredam kabar simpang siur di publik. Dengan status Jokowi sebagai presiden aktif sekaligus alumnus salah satu universitas ternama di Indonesia, segala polemik terkait dokumen akademiknya tak bisa dihindarkan dari sorotan publik.
Namun bagi pihak kampus, penegasan ini diharapkan bisa mengakhiri spekulasi yang berulang.
“Kami percaya bahwa dasar yang kami miliki sudah jelas. Data akademik UGM tersimpan baik, dan prosedur kami konsisten sejak lama,” pungkas Wening.
Advertisement
