Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Media Asing Soroti Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto dan Gus Dur

Media Asing Soroti Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto dan Gus Dur

Berita Utama Senin, 10 November 2025 21:29 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta — Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto kepada sepuluh tokoh bangsa, termasuk Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menarik perhatian luas media internasional.

Sebagian besar pemberitaan luar negeri menyoroti keputusan pemerintah Indonesia memberikan gelar kehormatan kepada Soeharto, yang dikenal memimpin selama lebih dari tiga dekade dengan catatan panjang pembangunan ekonomi sekaligus tudingan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Advertisement

Media Al Jazeera yang berbasis di Qatar menulis artikel berjudul “Indonesia makes former president Soeharto posthumous national hero.” Dalam laporannya, Al Jazeera menyoroti bahwa langkah ini dilakukan meski ada tuduhan pelanggaran HAM pada masa kekuasaan Orde Baru.

“Indonesia telah menobatkan mantan presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional, meskipun ada tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rezimnya,” dikutip dari Al Jazeera.

BACA JUGA:  Kesepuhan Adat Ingatkan Dampak Ekologi dan Sosial Terkait Menteri ESDM Tetapkan 528 Hektare Wilayah Pertambangan Rakyat di Lebak

“Aktivis mengecam penghargaan yang diberikan oleh mantan menantunya, Presiden Subianto, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap korban Soeharto dan demokrasi,” lanjut media itu.
Sementara itu, BBC News dalam artikelnya berjudul “Indonesia names ex-dictator Suharto a ‘national hero’” menyebut bahwa keputusan tersebut memicu reaksi publik yang terbelah.

“Indonesia telah menobatkan mantan presiden Suharto sebagai pahlawan nasional, meskipun warisan kontroversialnya sebagai diktator telah memicu protes keras terhadap langkah tersebut,” dikutip dari BBC.

Media Reuters juga menyoroti aspek politik dalam penganugerahan ini, menilai bahwa langkah Prabowo dapat dibaca sebagai “upaya rekonsiliasi simbolik” untuk menggabungkan warisan para pemimpin dari berbagai era politik Indonesia. Dalam laporannya, Reuters menulis:

“The decision underscores Prabowo’s effort to unite the nation’s diverse political legacies — from Suharto’s authoritarian stability to Gus Dur’s pluralist democracy.”

BACA JUGA:  Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Sementara The Guardian menilai keputusan tersebut “memicu perdebatan moral tentang ingatan sejarah dan keadilan bagi korban rezim militer.” Media Inggris itu mencatat bahwa sebagian aktivis HAM menganggap langkah tersebut sebagai bentuk “penghapusan luka sejarah yang belum sembuh.”

Penganugerahan gelar pahlawan nasional ini diumumkan di Istana Negara pada Jumat (7/11/2025), bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Selain Soeharto dan Gus Dur, tokoh lain yang turut dianugerahi gelar tersebut antara lain Buya Hamka, R. P. Soeroso, dan Idham Chalid.

Pemerintah menyebut langkah ini sebagai bagian dari penghargaan terhadap jasa-jasa besar para tokoh yang berkontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Namun di sisi lain, keputusan ini membuka kembali perdebatan publik tentang cara bangsa Indonesia menilai dan menulis ulang sejarahnya sendiri. ***

Advertisement

Aksi Politik Sejarah
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Nasional

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Nasional

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Nasional

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

BERITA TERBARU

Dua Polisi Gadungan di Malingping Culik dan Siksa Warga, Uang Jutaan Rupiah Turut Dirampas

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version