Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Suasana Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/1/2026), mendadak dipenuhi bisik-bisik ketika Immanuel Ebenezer alias Noel melontarkan satu huruf yang langsung memantik tanda tanya. Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan itu menyebut adanya satu partai politik berinisial “K” yang, menurutnya, terlibat dalam kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikat K3 yang kini menyeret namanya ke meja hijau.
Noel memilih berhenti pada inisial. Ia enggan melangkah lebih jauh untuk mengungkap identitas partai yang dimaksud, bahkan ketika pertanyaan mengarah pada kemungkinan keterkaitan dengan parlemen.
Advertisement
“Tadi kan sudah ada K-nya kan, enggak mau saya, enggak mau bilang ada parlemen atau enggak,” kata Noel, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/1/2026).
Sikap tertutup itu kembali ia tunjukkan saat ditanya soal ciri khas partai, termasuk warna yang biasa melekat pada identitas politik.
“Partainya ada K-nya, Nah. Cukup itu saja dulu,” lanjut dia.
Pernyataan tersebut sebenarnya bukan hal baru di ruang sidang. Pada persidangan sebelumnya, Noel juga sempat melempar isyarat tentang keterlibatan aktor politik dalam perkara yang sedang bergulir.
Baca juga: OTT Pj Wali Kota Pekanbaru Dipicu Informasi Upaya Menghancurkan Tanda Bukti Transfer
“Yang jelas ada 1 partai dan 1 ormas yang terlibat langsung dalam permainan ini,” ujar Noel, saat menghadap sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Dalam dakwaan jaksa, Noel dan komplotannya disebut menerima uang sebesar Rp 6,5 miliar dari hasil pemerasan terhadap para pemohon sertifikat dan lisensi K3. Uraian tersebut dibacakan dalam sidang perdana perkara korupsi pemerasan pengurusan sertifikat K3 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Seiring sidang yang terus berjalan, sorotan publik kini tidak hanya tertuju pada aliran dana dan peran para terdakwa, tetapi juga pada satu huruf yang dilempar Noel—‘K’—yang seolah membuka bab baru dalam kisah panjang perkara ini.
Advertisement
