Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kontroversi Penutupan Pameran Yos Suprapto Jadi Sorotan, DPR Kritik Kebijakan Galeri Nasional

Kontroversi Penutupan Pameran Yos Suprapto Jadi Sorotan, DPR Kritik Kebijakan Galeri Nasional

Berita Utama Sabtu, 21 Desember 2024 21:39 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Gambar ilustrasi

GazanaPublika.com, Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDIP, Bonnie Triyana, mengkritik keras keputusan penutupan pameran lukisan seniman senior Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia. Menurut Bonnie, langkah ini mencerminkan buruknya penghormatan terhadap kebebasan berekspresi di era pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Galeri Nasional, yang berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, memutuskan membatalkan pameran dengan alasan adanya ketidaksesuaian dalam penataan karya. Namun, Bonnie menilai ini sebagai bentuk sensor yang tidak seharusnya terjadi dalam negara demokrasi.

“Negara seharusnya memberikan jaminan kebebasan berekspresi kepada seniman. Tindakan sensor ini adalah preseden buruk bagi pemerintah,” ujar Bonnie dalam pernyataan pers pada Sabtu (21/12/2024).

BACA JUGA:  Polda Metro Jaya Siap Buka Kembali Penyidikan Kasus Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus

Bonnie juga menekankan pentingnya ruang diskusi yang terbuka dan kritis antara seniman, kurator, dan publik. Menurutnya, langkah penutupan pameran dan penyensoran dua karya Yos Suprapto mencerminkan sikap alergi pemerintah terhadap kebebasan seni.

Lukisan Yos Suprapto yang dilarang di Galeri Nasional. (foto/istimewa Tirto.id)

“Seni adalah ruang bebas untuk interpretasi publik. Negara tidak boleh mengintervensi kebebasan tersebut,” tambahnya.

Keputusan Galeri Nasional ini semakin memicu kontroversi setelah pihak kurator meminta dua lukisan Yos berjudul Konoha I dan Konoha II ditutup dengan kain hitam. Permintaan ini dianggap sebagai bentuk sensor, yang akhirnya membuat sang kurator, Suwarno Wisetrotomo, mengundurkan diri dari jabatannya.

Sementara itu, Yos Suprapto mengungkapkan kekecewaannya dan berencana menarik kembali seluruh karyanya dari Galeri Nasional untuk dibawa pulang ke Yogyakarta.

BACA JUGA:  AS Pertimbangkan Lanjutkan Operasi Militer ke Iran dengan Nama Baru

Bonnie menyatakan, seni seharusnya bebas dinikmati semua kalangan tanpa pembatasan. “Publik harus diberi kebebasan untuk menilai karya seni sesuai perspektif masing-masing. Tidak ada alasan untuk mengekang kebebasan berkarya seniman,” tegasnya.

Galeri Nasional sendiri berdalih bahwa pembatalan pameran ini disebabkan oleh adanya beberapa karya yang tidak sesuai kesepakatan antara seniman dan kurator. Namun, alasan tersebut dinilai tidak cukup untuk membenarkan keputusan yang kontroversial ini.

Penutupan pameran ini mencerminkan dilema kebebasan seni di Indonesia, sekaligus menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmennya terhadap demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Sumber: Tirto.id

DPR
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Kejagung Bongkar Modus ‘Markup’ dan Aliran Dana Haram Dadan cs di Program ‘MBG’

Nasional

Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Copot Jabatan Pimpinan, Diduga Terkait Kasus Jual Beli Titik ‘SPPG’

Berita Utama

Kasus Korupsi BGN: Eks Kepala dan Dua Mantan Wakil Resmi Menyandang Status Tersangka

Nasional

Evolusi Kurikulum Kampus: Di Balik Fakta Penutupan Ratusan Program Studi Sepanjang 2026

BERITA TERBARU

Pelajar SMPN 1 Wanasalam Tewas Laka Lantas Setelah Motor Diserempet Dump Truk

Ditsamapta Polda Banten Perbaiki Jembatan Merah Putih, Wujud Nyata Kepedulian Polri terhadap Masyarakat

Ketua MPC PP Lebak Beri Apresiasi Tinggi, Penangkapan Kepala BGN Pusat

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.