Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Peristiwa Berdarah Mencoreng Kota Bandung, Begini Komentar AMS

Peristiwa Berdarah Mencoreng Kota Bandung, Begini Komentar AMS

Daerah Jumat, 4 Juli 2025 20:38 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Sumber Foto: detik.com

Advertisement

GazanaPublika.com, Bandung – Kota yang selama ini lekat dengan citra teduh, ramah, dan penuh harmoni kini diguncang. Dalam dua hari terakhir, suasana damai Kota Bandung tercabik oleh bentrok berdarah di Kebun Binatang Bandung—atau yang lebih dikenal warga lokal sebagai Derenten.

Insiden kekerasan antar kelompok yang meledak di area konservasi tersebut bukan sekadar perkelahian jalanan biasa. Ia membekas dalam memori kolektif warga Bandung, seolah mencoreng wajah kota yang dulu dijuluki Paris van Java. Lebih dari sekadar luka fisik, bentrokan ini menguak retakan dalam pengelolaan ruang publik bersejarah.

Advertisement

Di tengah kekacauan itu, Angkatan Muda Siliwangi (AMS) tampil mengambil sikap tegas. Organisasi yang dikenal sebagai penjaga nilai-nilai budaya Sunda itu tidak tinggal diam. Mereka menilai bahwa peristiwa di Derenten adalah alarm keras tentang krisis identitas dan pengabaian sejarah oleh elite penguasa.

“Kami prihatin atas peristiwa yang terjadi di Derenten. Ini mencoreng wajah Kota Bandung yang dikenal ramah dan kondusif. Sudah ada korban luka berdarah. Ini tak bisa dibiarkan,”
— Ruli Alfiady, Ketua Umum AMS Pusat, Jumat (4/7/2025), dilansir dari BandungOke.com.

BACA JUGA:  Bandung Darurat Begal, Negara Tidak Boleh Kalah oleh Penjahat Jalanan

Menurut AMS, akar masalah ini bukan sekadar soal keamanan atau sengketa antar kelompok. Lebih dalam dari itu, mereka mempertanyakan legitimasi pihak-pihak yang secara sepihak memberikan mandat pengelolaan Kebun Binatang Bandung, padahal status hukumnya masih sebagai aset sitaan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

“Siapapun yang memberi hak kelola atas aset sitaan itu harus bertanggung jawab. Dialah pemicu konflik yang mengorbankan masyarakat,” tegas Ruli.

AMS menegaskan, Derenten bukan sekadar tempat wisata atau konservasi satwa, melainkan situs historis dan kultural yang melekat erat pada jati diri masyarakat Sunda. Sejak didirikan pada 1933, kebun binatang ini menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam dalam budaya Sunda.

“Sebagai penjaga marwah Sunda, AMS berkepentingan mempertahankan Derenten. Ini bukan soal lahan, tapi soal jati diri. Orang Bandung dan Sunda punya hak historis dan kultural atasnya,” ujarnya penuh semangat.

BACA JUGA:  Student Care Priangan Barat Gelar Diklat Jurnalistik dan Digitalisasi Informasi di Cianjur

AMS juga menyampaikan penghormatan kepada keluarga besar Rd. Ema Brata Kusumah, tokoh penting dalam pendirian Kebun Binatang Bandung, dan menegaskan bahwa warisan sejarah seperti ini harus tetap dalam penguasaan masyarakat Sunda.

“Kami akan konsisten menjaga kekayaan sejarah Sunda agar tetap dalam penguasaan masyarakat Sunda sendiri,” tutup Ruli, menegaskan tekadnya.

Di balik aroma wangi mawar dan anggrek yang mekar di Taman Sari, Bandung tengah berjuang mempertahankan warisan sejarahnya. Derenten bukan hanya ruang terbuka hijau, bukan hanya tempat rekreasi anak-anak. Ia adalah penjaga ingatan kolektif, saksi bisu kecintaan orang Sunda terhadap alam dan nilai-nilai leluhur.

Ketika kepentingan elite mulai merebut ruang publik yang sarat makna, satu pertanyaan menggantung di udara Kota Kembang:

Advertisement

Bandung
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Daerah

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Rapat Paripurna ke-27 Bahas Raperda Perubahan SOTK

Daerah

Kamonesan NJP Cianjur Himpun 110 Seniman, Siapkan Kolaborasi Kolosal ‘Sasakala Gunung Padang’

Daerah

KPK Tetapkan 8 Tersangka dalam Kasus Dugaan Suap Pengurusan HGB Summarecon di Bogor

Daerah

Sherly Tjoanda Keluhkan 16 Ribu Hektare TORA Tak Kunjung Dibagikan ke Petani

BERITA TERBARU

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Rapat Paripurna ke-27 Bahas Raperda Perubahan SOTK

MK Putuskan Prajurit Terlibat Pidana Umum Diadili Peradilan Umum, TNI Sebut Hukum Militer Lebih Tegas

Pantura Terancam Tenggelam, AHY Soroti Penggunaan Air Tanah Industri

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version