Advertisement
GazanaPublika.com, Cianjur — Semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 berpadu dengan upaya menjaga warisan budaya Sunda melalui pagelaran Wayang Golek di Gedung Assakinah, Desa Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengenang perjalanan R. Endang Taryana, salah satu maestro dalang Sunda asal Cianjur yang telah dikenal luas sejak dekade 1950-an. Pagelaran ini juga menjadi bagian dari Temu Seniman Tradisional Cianjur, Tasikmalaya, Purwakarta, Sukabumi, dan Bandung yang dimotori Yayasan Giri Loka Cianjur.
Advertisement
Pagelaran berlangsung semarak dengan menghadirkan sejumlah pelaku seni tradisional lintas generasi. Salah satu penampilan yang mendapat perhatian adalah pesinden senior asal Tasikmalaya, Etty Ratna Suminar, yang dikenal dengan julukan Si Mata Roda. Di usianya yang telah mencapai 71 tahun, Etty masih tampil memukau di hadapan para penonton.
Tak hanya seniman senior, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi generasi muda. Dalang cilik, putra dari dalang milenial Wayang Golek Kodrat Taryana, S.Sn., turut tampil dalam pagelaran tersebut. Kehadiran generasi muda dinilai menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan seni tradisional Sunda.
Ketua Yayasan Giri Loka Cianjur, Iwa, S.Sn., menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia cq Kementerian Kebudayaan yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini, juga kepada para tamu undangan, sehingga kita semua dapat bersilaturahmi antara pegiat kesenian dan kebudayaan tradisional Kasundaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi para seniman dan pegiat kebudayaan tradisional dari sejumlah daerah di Jawa Barat.
Sementara itu, Kodrat Taryana, S.Sn., putra R. Endang Taryana, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemantik persatuan di kalangan seniman tradisional sekaligus sarana meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Ia menilai Wayang Golek memiliki posisi penting karena tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral dan ajaran kebaikan kepada masyarakat.
“Giat ini diharapkan menjadi pemantik persatuan para seniman tradisional dalam rangka menyebarkan kebaikan dan kedamaian dengan sesamanya, serta dapat menjadi estafet nilai-nilai kebudayaan untuk setiap generasi, karena wayang merupakan sarana atau media untuk menyosialisasikan ajaran kebaikan,” kata Kodrat.
Wayang Golek dan Semangat Kemerdekaan
Sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sekaligus pegiat Komunitas Adat Kasundaan, Tedi Subarkah, mengatakan kegiatan tersebut telah lama dinantikan oleh para pegiat seni tradisional. Menurutnya, pagelaran Wayang Golek memiliki keterkaitan erat dengan tradisi masyarakat Jawa Barat dalam merayakan momentum kemerdekaan.
“Kegiatan ini sangat dinanti oleh pegiat seni tradisional, serta bagian dari implementasi Pemajuan Kebudayaan di Indonesia,” ujarnya.
Tedi menambahkan, pelestarian kesenian tradisional bukan hanya berkaitan dengan mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional dan budi pekerti luhur yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, kesenian tradisional dapat menjadi sarana membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa di tengah berbagai tantangan kehidupan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarah perayaan kemerdekaan di Jawa Barat, pagelaran Wayang Golek dan berbagai kesenian tradisional kerap menjadi bagian dari rangkaian acara, bahkan sering ditempatkan sebagai salah satu puncak perayaan HUT Republik Indonesia.
Karena itu, menurut Tedi, menghadirkan kembali Wayang Golek dalam momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia memiliki makna tersendiri. Kesenian tradisional tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, identitas budaya, serta semangat persatuan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan pegiat kebudayaan, di antaranya Sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran dan Komunitas Adat Kasundaan Tedi Subarkah, Ketua Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Om Ben, Tokoh Pemuda Cianjur Dede Nasihin, Anggota DPRD Jawa Barat H. Dadan, perwakilan Disbudpar Cianjur Arga Sudirta, S.IP., Tenaga Ahli Cagar Budaya Saep Lukman, serta penari unggulan Cianjur Wina dari Yayasan Lokatmala.
Acara juga diawali dengan doa religi Islami yang dipimpin Ustad Sahli dan dihadiri para sesepuh dalang dari wilayah Cianjur Selatan.
Melalui pagelaran tersebut, sosok R. Endang Taryana tidak hanya dikenang sebagai dalang sepuh yang telah berkiprah sejak era 1950-an dan berdomisili di Bojongpicung, Cianjur, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang kesenian Wayang Golek Sunda yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Advertisement
