Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kompak, Guru dan Siswa Tolak Wacana Sekolah Enam Hari di Jateng

Kompak, Guru dan Siswa Tolak Wacana Sekolah Enam Hari di Jateng

Daerah Selasa, 25 November 2025 10:42 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Semarang — Polemik wacana penerapan sekolah enam hari dalam sepekan kembali mencuat di Jawa Tengah. Usulan ini langsung menuai penolakan dari kalangan guru hingga siswa di sejumlah daerah, termasuk Semarang. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak memiliki urgensi kuat dan justru berpotensi menambah tekanan bagi siswa, guru, maupun keluarga.

Ketua PGRI Jawa Tengah, Muhdi, menegaskan penambahan hari sekolah merupakan kemunduran kebijakan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa pemerintah sebelumnya justru mengurangi hari belajar dari enam menjadi lima hari dengan dasar pertimbangan yang matang.

Advertisement

“Tidak ada alasan yang cukup untuk mengubah. Dulu pemerintah sendiri yang mengubah enam hari menjadi lima hari karena alasan rasional, termasuk waktu anak bersama keluarga,” ujarnya, Minggu (23/11/2025).

Menurut Muhdi, wacana menambah hari sekolah hanya akan mempersempit kesempatan anak untuk bersosialisasi dan mengembangkan minat di luar sekolah. Ia menilai dua hari libur di akhir pekan merupakan ruang penting bagi anak untuk berinteraksi, belajar hidup bermasyarakat, dan melakukan kegiatan positif lainnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas sekolah yang belum sepenuhnya mampu menunjang kebutuhan pengembangan bakat siswa. “Kan sekolah tidak mampu menyediakan semua sarana untuk anak memilih skill atau hobinya. Dua hari libur itu waktu hidup mereka dengan masyarakatnya,” katanya.

PGRI menilai ritme lima hari kerja lebih sehat dan manusiawi, bukan hanya bagi siswa tetapi juga bagi tenaga pendidik. Guru, kata Muhdi, juga membutuhkan waktu berkumpul dengan keluarga, memulihkan kondisi fisik, sekaligus mengikuti kegiatan profesional seperti MGMP.

BACA JUGA:  Diskominfo Ingkar Janji, Abaikan Putusan KI Jabar, Tarmizi Menyebutnya Arogan

“Guru itu juga orang tua. Mereka butuh ruang untuk memulihkan fisik dan mental. Sabtu-Minggu biasanya dipakai untuk kegiatan profesi. Kalau ditambah jadi enam hari, bebannya makin berat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak siswa SMA/SMK berdomisili jauh dari sekolah. Penambahan satu hari masuk akan berdampak pada biaya dan waktu transportasi.

Muhdi bahkan mempertanyakan argumen bahwa sekolah enam hari dapat menekan kenakalan remaja. Menurutnya, hal tersebut tidak didukung kajian.

“Kalau alasannya menekan perilaku negatif, faktanya banyak kejadian justru terjadi setelah anak pulang sekolah karena mereka berkumpul,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tren global justru menuju pengurangan hari sekolah. Negara-negara Eropa hingga Amerika banyak menerapkan empat hingga lima hari sekolah.

Guru di Semarang: ‘Kami Punya Anak, Bukan Robot’

Penolakan juga datang dari para guru di lapangan. Salah satu guru SMAN 7 Semarang, Ashfi (32), menyebut kebijakan ini hanya akan mengorbankan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Kami juga manusia, punya anak, punya keluarga. Masa kami harus merawat anak orang lain sementara anak sendiri tak terurus?” ujarnya.

BACA JUGA:  Student Care Vocation Padukan Budaya Tradisional dan Literasi Digital untuk Generasi Muda

Ia juga mengkritik rencana bahwa pada hari Sabtu, guru fungsional tetap wajib masuk sementara pegawai struktural di dinas pendidikan justru libur. “Di mana letak keadilannya?” tegasnya.

Ashfi mengatakan sistem lima hari sekolah sebenarnya sudah berjalan efektif. Siswa pulang pukul 15.30 pada Senin–Kamis dan lebih cepat pada Jumat. Dengan waktu itu saja, anak masih memiliki kegiatan tambahan di luar sekolah.

“Guru juga butuh waktu untuk diri sendiri, untuk mengurus rumah, untuk beristirahat. Kalau hanya libur Minggu, kapan semuanya dikerjakan?” tambahnya.

Ia bahkan menyinggung aspek sederhana: guru yang biasanya mengantar anak bersekolah di hari Sabtu akan kehilangan kesempatan itu jika Sabtu dijadikan hari belajar.

Siswa Juga Menolak

Selain guru, sejumlah siswa di Semarang turut menyatakan keberatan terhadap wacana tersebut. Mereka menilai waktu istirahat dan ruang berekspresi di akhir pekan sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan sosial.

Hingga kini, PGRI Jateng menyebut belum pernah diajak berdiskusi terkait wacana tersebut. Mereka berharap pemerintah tidak membuat keputusan sepihak tanpa melibatkan organisasi profesi dan para pemangku kepentingan lainnya.

Wacana sekolah enam hari ini diperkirakan masih akan menjadi perdebatan panjang. Namun, suara penolakan dari lapangan semakin menguat, dengan guru dan siswa kompak menyatakan satu hal: ritme lima hari sekolah sudah paling ideal.

Advertisement

Aksi Kesehatan Pendidikan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Daerah

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Daerah

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Rapat Paripurna ke-27 Bahas Raperda Perubahan SOTK

Daerah

Kamonesan NJP Cianjur Himpun 110 Seniman, Siapkan Kolaborasi Kolosal ‘Sasakala Gunung Padang’

Daerah

KPK Tetapkan 8 Tersangka dalam Kasus Dugaan Suap Pengurusan HGB Summarecon di Bogor

BERITA TERBARU

Hudi Nurhudiyat: Menguatkan Kearifan Lokal dan Tasawuf

Majelis Al Ma’arijul Wathon Bahas Kekeliruan Kebatinan, Tekankan Integrasi Syariat dan Hakikat

Prabowo Ungkap Alasan Koalisi Gemuk: Indonesia Sebesar Eropa, tapi Hanya Punya Satu Kabinet

KPK Surati Panglima TNI soal Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Korupsi Dana Bencana BNPB

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version