Advertisement
Lebak, GazanaPublika.com – Pembukaan acara Milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili ke-852 dimeriahkan oleh pagelaran Seni dan Budaya Banten, termasuk pertunjukan Seni Pencak Silat Cimande dan Seni Debus.
Ketua DPC Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), Ujek, menyatakan bahwa dirinya merasa terhormat telah diundang dalam acara Milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang diselenggarakan di Desa Cikeusik Timur, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, (8/4/2024)
Advertisement
“Terus terang, saya merasa terhormat diundang oleh teman-teman panitia,” ungkap Ujek, Ketua DPC TTKKBI Malingping.

Menurut Ujek, penting pada zaman ini untuk mengadakan acara-acara sosial yang melibatkan pelestarian budaya, terutama jika hal tersebut dipadukan dengan kegiatan keagamaan.
“Ini merupakan kebanggaan bagi kami untuk diundang berpartisipasi dalam acara Milad ini. Kami tidak menyangka acara keagamaan melibatkan kesenian. Fenomena ini sangat langka dan keren,” ujar Ujek.
Sementara wakil ketua DPC TTKKBI Malingping, Heri mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang dan antusias atas terlaksananya acara milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dan akan terus mensupport terus kegiatan semacam ini.
“Acara ini jangan sampai terhenti sampai di sini apalagi ini berkaitan dengan membangun budaya juga dan bukan hanya soal agama,” tutur Heri.
Acara Milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dimeriahkan oleh pertunjukan pencak silat dari Padepokan Maung Lugay. Anggota Maung Lugay menunjukkan keahlian mereka dalam menampilkan seni bela diri pencak silat Cimande. Semua anggota mengenakan seragam hitam yang rapi, mulai dari para pemuda Malingping yang muda hingga yang tua.

Setelah menunjukkan kebolehan mereka dalam bermain debus, anggota Maung Lugay memperagakan seni Debus dengan menggunakan peralatan senjata tajam dan ilmu kebal.
Padepokan Maung Lugay berada di bawah binaan TTKKBI. Pertunjukan ini sangat semangat, diiringi alunan musik pencak silat yang memicu semangat patriotis budaya Banten.
“Alhamdulillah, acara Milad Syekh Abul Hasan selalu menggelar seni tradisional pencak silat dan seni tradisional lainnya. Ini adalah ciri khas kami. Tasawuf selalu bersatu dengan silat, hubungan yang sangat kokoh. Tasawuf tidak boleh melupakan budaya,” tutur Uyeng Saipul Rohman, Penasehat Majelis Al Ma’arijul Wathon.
Uyeng menjelaskan bahwa tasawuf tidak memiliki jarak dengan tradisi lokal, dan pencak silat adalah sarana utama bagi penganut tasawuf untuk menjaga diri.
“Orang tasawuf tidak boleh cengeng, oleh karenanya mereka harus mampu menguasai ilmu bela diri,” ungkap Uyeng.
Advertisement
Advertisement
