Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Ketika Cinta Kebablasan, dan Benci Kelewat Batas

Ketika Cinta Kebablasan, dan Benci Kelewat Batas

Genta Qalbu Minggu, 3 Agustus 2025 4:46 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

“Apabila kita terlalu cinta, takut orang yang dicintai jadi dewa, apabila kita terlalu benci kepada orang lain takut kita adalah iblis“. – AOA

GazanaPublika.com – Ungkapan AOA di atas bjsa dipertegas dengan kalimat: “Kalau kita terlalu cinta, bisa-bisa orang yang kita cintai kita tempatkan seperti dewa. Tapi kalau kita terlalu benci, jangan-jangan kita sendiri berubah menjadi seperti iblis.”

Advertisement

Kalimat ini menyentuh dua perasaan paling kuat yang ada dalam diri manusia: cinta dan benci. Dua-duanya sangat manusiawi, sangat wajar. Tapi keduanya juga bisa menjerumuskan kita kalau tidak dijaga dengan baik.

Cinta Itu Baik, Tapi Kalau Terlalu, Bisa Menyesatkan

Cinta adalah sesuatu yang alami. Semua orang pasti pernah merasakan cinta—kepada orang tua, sahabat, pasangan, guru, bahkan tokoh publik. Tapi saat cinta itu melebihi batas, kita bisa kehilangan arah. Bahkan tidak jarang, kita bisa kehilangan akal sehat.

Contohnya, seseorang yang terlalu mengidolakan tokoh agama, pemimpin, atau artis. Karena terlalu kagum, semua ucapan dan tindakannya dianggap benar. Padahal ketika ada kesalahan, ia tetap dibela habis-habisan, seolah-olah tokohnya tidak mungkin berbuat salah. Inilah yang disebut mendewakan manusia—menempatkan orang biasa di posisi yang seharusnya hanya layak bagi Tuhan. Sikap ini berbahaya, karena bisa membuat kita buta terhadap kebenaran.

Contoh lain terjadi dalam hubungan percintaan. Ada orang yang sudah berkali-kali disakiti oleh pasangannya, tapi tetap bertahan. Alasannya: karena cinta. Padahal dia sudah kehilangan harga diri, bahkan sampai menjauh dari keluarga atau mengorbankan prinsip hidupnya.
Cinta yang seperti ini bukan lagi ketulusan, melainkan bentuk ketergantungan yang merusak.

Benci juga sama. Ia muncul karena kecewa, tersakiti, atau merasa tidak adil. Tapi kalau dibiarkan tumbuh tanpa kendali, benci bisa berubah menjadi dendam dan kekejaman.

Iblis adalah contoh paling jelas. Ia membenci Nabi Adam bukan karena Adam menyakitinya, tapi karena merasa lebih tinggi derajatnya. Iblis tidak mau menerima kenyataan bahwa Tuhan memberikan kehormatan kepada makhluk lain. Dari situlah lahir permusuhan abadi. Benci yang tidak diredam bisa membuat seseorang lupa bagaimana caranya bersikap manusiawi.

Misalnya, karena terlalu benci terhadap lawan politik atau orang yang berbeda pendapat, seseorang bisa menyebarkan fitnah, menyerang kehidupan pribadi, bahkan menebar kebencian di media sosial.

Bentuk lainnya bisa kita lihat di dunia maya. Banyak orang menghujat tokoh publik karena satu kesalahan kecil. Komentar penuh kemarahan, hinaan, bahkan ancaman bisa muncul hanya karena kesalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan bijak.

Tanpa sadar, orang yang melakukan itu telah berubah menjadi pribadi yang keras, dingin, dan menyakitkan—persis seperti iblis yang tak mampu lagi mencintai sesama makhluk.

Maka berilah sedekah kepada orang yang kita benci untuk meluluhkan kebencian dalam pribadi kita.

Dari semua ini, kita belajar bahwa hidup memang butuh keseimbangan. Cinta dan benci sama-sama bisa berguna, tapi juga bisa menjerumuskan. Yang penting adalah bagaimana kita mengatur porsinya.
Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Cintailah orang yang kamu cintai secukupnya, karena mungkin suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci secukupnya, karena bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu cintai.” (HR. Tirmidzi)

Artinya, jangan terlalu larut dalam cinta, dan jangan terlalu dalam membenci. Karena hidup itu penuh kejutan. Orang bisa berubah. Kita juga bisa berubah. Dan yang kita anggap benar hari ini, belum tentu benar selamanya.

Cinta dan benci bukan musuh. Mereka bagian dari diri kita. Tapi kalau tidak diatur dengan akal sehat dan hati yang jernih, keduanya bisa berubah jadi jebakan.
Kalau kita terlalu cinta, kita bisa kehilangan logika.

Kalau kita terlalu benci, kita bisa kehilangan sisi kemanusiaan. Akhirnya, yang penting bukan siapa yang kita cintai atau benci, tapi bagaimana kita memperlakukan cinta dan benci itu sendiri. Maka, mari belajar menyeimbangkan perasaan.

Suatu ungkapan “Cintailah dengan bijak sehingga bisa mengendalikannya. Bencilah dengan sadar sehingga benci itu jadi lenyap.”

Advertisement

Cinta
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Genta Qalbu

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Genta Qalbu

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Genta Qalbu

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Genta Qalbu

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

BERITA TERBARU

Unjuk Rasa Tuntut Biaya Hidup di Prancis Meluas ke Sejumlah Negara Eropa

Rismon Sianipar Kritikal Jawaban Pemerintah dalam Sidang Uji Materi Praperadilan di MK

KMP Batu Mandi Terbakar di Perairan Merak, Proses Evakuasi Sedang Berlangsung

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version