Advertisement
“Ibadah dari kelalaian merupakan kebiasaan, sedangkan kebiasaan dari kesadaran adalah ibadah.” – AOA
GazanaPublika.com – Sesuatu yang berulang dan disengaja, lama-lama tidak terasa lagi seperti sebuah kesengajaan. Lambat laun, kesengajaan itu menjadi kebiasaan dan akhirnya tidak disadari lagi; kesengajaan itu pun terasa seperti sesuatu yang tidak disengaja. Pada akhirnya, segala perilaku tersebut menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan dalam keseharian.
Advertisement
Bayangkan apabila hal ini terjadi dalam ibadah. Di antara kita mungkin ada yang merasakan bahwa terkadang kita lalai dalam beribadah, misalnya mengalami keterlambatan. Banyak di antara kita yang kadang malas melaksanakan ibadah tepat waktu. Seringkali salat ditunda, hingga lambat laun, melaksanakan salat pun sering terlupakan, dan keterlambatan itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dalam hal ibadah, apa pun itu, tidak boleh ditunda, melainkan harus disegerakan.
Apabila kelalaian dibalik maknanya, maka ia menjadi sebuah kesadaran. Oleh karenanya, ibadah harus dibangun di atas kesadaran, dan kesadaran itu sendiri merupakan bagian dari ibadah. Dalam hal apa pun, dibutuhkan sebuah kesadaran. Bagi orang-orang yang telah sadar, ibadah tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, di mana ibadah itu lahir dari keinginan hati sendiri tanpa paksaan dari siapa pun.
Advertisement
