Advertisement
GazanaPublika.com – Tatar Sunda menyimpan banyak kisah tentang tokoh-tokoh legendaris yang mewarnai perjalanan sejarahnya. Dua di antaranya adalah Rakeyan Sancang dan Kian Santang, dua sosok dari zaman yang berbeda, namun sering kali menjadi simbol awal mula penyebaran Islam di tanah Sunda. Kisah keduanya melibatkan perjalanan spiritual, pencarian kebenaran, dan perjuangan menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah budaya yang telah mengakar.
Rakeyan Sancang, putra Prabu Kertawarman dari Kerajaan Tarumanagara, membawa kisah tentang perjalanan dari lembah-lembah hutan Sancang menuju pertemuan dengan Sayyidina Ali di Timur Tengah. Ia, yang dikisahkan lahir pada abad ke-6, menjadi simbol awal syiar Islam sebelum masa Wali Songo. Kisahnya dipenuhi pergulatan—baik secara spiritual maupun fisik—melawan tantangan zamannya, termasuk konflik dengan keluarga kerajaannya sendiri.
Advertisement
Berbeda zaman, Kian Santang, putra Prabu Siliwangi dari Pakuan Pajajaran, hadir sebagai tokoh Islam dari abad ke-15. Perjalanannya ke Mekah dan pertemuannya dengan Sayyidina Ali dalam cerita rakyat menjadi tonggak penting dalam tradisi Islam Sunda.
Dua kisah ini menggambarkan bagaimana Islam masuk dan berkembang di Tatar Sunda dari dua era yang berbeda. Rakeyan Sancang, yang diklaim hidup berabad-abad lebih awal, dianggap meletakkan fondasi penyebaran Islam sebelum kisah Wali Songo mulai dikenal. Sementara itu, Kian Santang menjadi representasi integrasi Islam ke dalam tatanan budaya dan kekuasaan Pajajaran. Keduanya, dalam bayangan cerita rakyat dan naskah-naskah kuno, menjadi saksi atas bagaimana Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang Sunda.
Namun, pernahkah terpikir secara mendalam tentang dua kisah tersebut yang memiliki kemiripan? Adakah keaslian di antara salah satu kisah tersebut? Kedua sosok itu memiliki kemiripan artikulasi antara “Sancang” dan “Santang”. Kisah Rakeyan Sancang dijelaskan dalam Naskah Wangsakerta, sementara Kian Santang diceritakan melalui tradisi lisan yang telah masyhur di kalangan masyarakat.
Kisah Singkat Rakean Sancang
Keberadaan Rakeyan Sancang dijelaskan di dalam Naskah Wangsakerta dan Babad Sancang, yang naskahnya pun belum dipastikan keberadaannya. Rakean Sancang adalah tokoh legendaris dari Tatar Sunda yang dikisahkan sebagai putra Raja Kertawarman, raja kedelapan Kerajaan Tarumanagara (561–618 M). Rakeyan Sancang sendiri dilahirkan pada tahun 591 Masehi menurut Naskah Wangsakerta.
Kisah ini berawal dari kehidupan Prabu Kertawarman, Raja Galuh ke-8. Dikisahkan bahwa Prabu Kertawarman memiliki dua orang istri resmi, yakni istri pertama berasal dari Calankayana, dan istri kedua adalah seorang janda beranak satu dari Svarnadvipa. Dari pernikahan tersebut, Kertawarman tidak memiliki anak kandung. Oleh karena itu, ia mengangkat anak dari istri keduanya yang bernama Brajagiri sebagai anaknya sendiri. Menyadari bahwa dirinya tidak memiliki anak kandung, Kertawarman menyerahkan kekuasaannya kepada adiknya, yakni Sudhawarman, yang kemudian menjadi raja ke-9 Kerajaan Galuh.
Suatu hari, Prabu Kertawarman pergi ke hutan dan bertemu dengan seorang perempuan bernama Setyawati Sancang di tepi Sungai Cikaengan, pesisir pantai selatan Garut. Setyawati adalah anak seorang pencari kayu bakar bernama Ki Prangdami dengan istrinya, Nyi Sambada. Prabu Kertawarman menggauli Setyawati selama sepuluh hari sebelum meninggalkan perempuan tersebut tanpa pernah bertemu lagi. Tanpa diketahuinya, Setyawati ternyata mengandung seorang anak laki-laki yang kelak dinamai Rakeyan Sancang.
Ketika Rakeyan Sancang telah dewasa, ibunya menceritakan masa lalu dan hubungannya dengan Prabu Kertawarman. Rakeyan Sancang kemudian menemui Prabu Kertawarman di istana untuk menuntut pengakuan sebagai anaknya. Namun, Prabu Kertawarman menolak mengakui Rakeyan Sancang sebagai darah dagingnya.
Rakeyan Sancang kemudian bertapa di Hutan Sancang untuk meningkatkan kesaktiannya. Setelah itu, ia melakukan perjalanan ke Timur Tengah, tepatnya ke Mekah. Di sana, Rakeyan Sancang bertemu dengan Sayyidina Ali r.a. Ia berguru kepada Sayyidina Ali r.a. dan akhirnya memeluk Islam.
Setelah kembali ke tanah air, Rakeyan Sancang mendirikan tempat syiar Islam di Kadatuan Sura Mandiri di Gunung Nagara. Ia kemudian menyerang Prabu Sudhawarman, yang merupakan adik dari Prabu Kertawarman dan raja ke-9 Kerajaan Galuh. Dalam pertempuran tersebut, Prabu Sudhawarman kalah bahkan hampir tewas.
Rakeyan Sancang kemudian kembali ke Timur Tengah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Prabu Nagajayawarman, raja ke-10 Kerajaan Galuh, untuk menyerang Kadatuan Sura Mandiri di Gunung Nagara. Penyerangan tersebut menewaskan banyak murid Rakeyan Sancang.
Demikian kisah singkat Rakean Sancang, tokoh legendaris Tatar Sunda yang menyimpan jejak penyebaran Islam di tanah ini..
Kisah Prabu Kian Santang
Prabu Kian Santang, yang juga dikenal sebagai Raden Sanggara atau Syekh Sunan Rohmat Suci, adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pakuan Pajajaran, dan Nyi Subang Larang. Lahir pada 1427 M, Kian Santang merupakan salah satu dari tiga anak pasangan ini, bersama dengan Walangsungsang dan Rara Santang. Kian Santang dikenal sebagai tokoh yang memeluk Islam sejak kecil dan turut serta dalam meresmikan Kadipaten Cirebon di bawah kekuasaan abangnya, Raden Walangsungsang.
Pada usia 22 tahun, Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke-2 dan terlibat dalam upacara penyerahan tongkat pusaka Kerajaan Pajajaran.
Dalam cerita rakyat, dikisahkan bahwa Kian Santang merasa dirinya paling sakti. Karena perasaan tersebut, ia mencari orang yang lebih sakti untuk menguji kemampuannya. Ia kemudian pergi ke Mekah dan bertemu dengan seorang kakek. Ia menantang kakek tersebut untuk adu kesaktian. Kakek itu lalu menancapkan sebuah tongkat dan meminta Kian Santang mencabutnya. Namun, tongkat itu tidak dapat dicabut oleh Kian Santang. Akhirnya, ia mengakui kekalahannya dan berniat berguru kepada kakek tersebut. Ternyata, kakek itu adalah Sayyidina Ali r.a. bin Abi Thalib.
Selama berada di Mekah, Kian Santang menuntut ilmu dan menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad. Meskipun kisah keturunannya tidak tercatat secara resmi, hal ini menjadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat.
Tradisi masyarakat menyebutkan bahwa Kian Santang berselisih paham dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, mengenai agama. Kian Santang mengajak ayahnya untuk memeluk Islam, tetapi Prabu Siliwangi menolak. Pada akhirnya, keduanya sepakat memberi keleluasaan kepada Kian Santang untuk menyebarkan Islam di Kerajaan Pajajaran.
Petilasan yang terkait dengan Kian Santang dapat ditemukan di beberapa tempat, termasuk Godog Garut, Gunung Nagara, dan Cilauteureun.
Kisah Rakeyan Sancang dan Kian Santang sama-sama menekankan sejarah syiar Islam di Tatar Sunda. Namun, klaim tentang Rakeyan Sancang dianggap lebih tua dibandingkan kisah Kian Santang yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi. Dengan demikian, kisah Rakeyan Sancang dianggap menggambarkan penyebaran Islam yang mendahului era Wali Songo.
Kritik Teks Cerita
Kisah pertemuan Rakeyan Sancang atau Kian Santang dengan Sayyidina Ali hingga kini masih menjadi perdebatan. Secara kronologis, Rakeyan Sancang memiliki peluang lebih besar untuk dianggap valid, karena ia hidup sezaman dengan Sayyidina Ali atau berada di masa yang berdekatan. Jika ditinjau dari aspek waktu, maka keberadaan kisah Rakeyan Sancang lebih logis dibandingkan dengan kisah Kian Santang, yang berbeda waktu beberapa abad dengan Sayyidina Ali.
Sebaliknya, narasi tentang Kian Santang lebih sulit dijelaskan secara historis. Sebagai figur yang hidup di abad ke-15, pertemuan langsungnya dengan Sayyidina Ali yang hidup pada abad ke-7 sangat mustahil. Namun, kisah ini dianggap tetap relevan sebagai cerita rakyat yang kaya akan dimensi spiritual dan simbolis. Perbedaannya terletak pada latar historis kedua tokoh. Kian Santang adalah sosok yang keberadaannya lebih terkonfirmasi melalui naskah-naskah yang akurat, karena ia adalah putra Prabu Siliwangi, seorang raja besar yang tercatat dalam sejarah.
Kisah Kian Santang mungkin dianggap berada di luar nalar, tetapi keberadaannya tervalidasi. Sedangkan keberadaan Rakeyan Sancang bergantung pada Naskah Wangsakerta, yang keabsahannya masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Banyak sejarawan yang meragukan validitas Naskah Wangsakerta, seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya.
Jika Naskah Wangsakerta dianggap tidak valid, maka sebagian besar kisah di dalamnya, termasuk Rakeyan Sancang, dianggap lebih mirip fiksi. Artinya, keberadaan Rakeyan Sancang pun masih dianggap fiksi hingga terkonfirmasi melalui bukti sejarah yang lebih kuat. Sebaliknya, meskipun kisah Kian Santang memiliki kelemahan dalam aspek naskah, validitasnya didukung oleh kuatnya tradisi cerita rakyat.
Namun, pertemuan Kian Santang dengan Sayyidina Ali, yang merupakan dua sosok yang tidak sezaman, dianggap irasional. Dalam ruang pemahaman lain, seperti mistisisme, pertemuan semacam ini mungkin dijelaskan sebagai pengalaman spiritual, sebagaimana kisah bertemunya Imam Ghazali dengan Nabi Musa a.s. Kisah seperti ini hanya dapat dipandang dalam aspek keyakinan dan tidak memenuhi syarat sebagai sejarah.
Di sisi lain, ada pandangan yang mempersoalkan kisah Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali. Mereka berangkat dari asumsi bahwa Kian Santang sudah beragama Islam karena ibunya, Nyi Subang Larang, telah lebih dahulu memeluk Islam. Menurut versi ini, pernikahan antara Nyi Subang Larang dan Prabu Siliwangi dilakukan secara Islam, karena Prabu Siliwangi telah memeluk Islam sebagai syarat pernikahan.
Versi ini berimplikasi pada penyangkalan dua penggalan kisah:
1. Tidak mungkin Kian Santang, yang telah Islam, harus bertarung dengan Sayyidina Ali seandainya kisah itu benar dan mereka sezaman.
2. Tidak mungkin Kian Santang mengislamkan Prabu Siliwangi yang, menurut versi ini, sudah lebih dahulu memeluk Islam.
Namun, pandangan ini sering dianggap berangkat dari analisis kelompok pengamat cerita rakyat terkait Prabu Siliwangi, yang mendasari premisnya pada keyakinan bahwa Prabu Siliwangi sudah beragama Islam. Premis ini mencerminkan harapan bahwa sosok yang dipuja masyarakat adalah Muslim. Padahal, selama berabad-abad, cerita rakyat yang berkembang justru mengisahkan Kian Santang berupaya mengislamkan Prabu Siliwangi, yang pada akhirnya menolaknya. Keduanya kemudian bersepakat untuk memilih jalan keyakinan masing-masing. (red)
Advertisement
