Advertisement
GazanaPublika.com, Nuuk, Greenland — Salju turun hampir tanpa jeda di Nuuk. Pegunungan terjal yang mengelilingi ibu kota Greenland itu kerap menghilang di balik kabut abu-abu, seolah alam sendiri ikut menyamarkan kecemasan yang kini menyelimuti pulau Arktik tersebut. Namun bagi warga Greenland, badai terbesar saat ini bukan berasal dari cuaca ekstrem, melainkan dari Washington.
Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland—baik dengan ‘cara mudah’ maupun ‘cara sulit’—telah memicu kegelisahan luas di kalangan penduduk wilayah semi-otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark itu. Retorika Trump dianggap bukan sekadar pernyataan politik, melainkan sinyal serius yang mengusik rasa aman, martabat, dan masa depan identitas Greenland.
Advertisement
“Greenland bukan milik Denmark untuk diberikan, dan jelas bukan milik Amerika untuk diambil,” ujar Simone Bagai, seorang guru sekolah menengah di Nuuk, dikutip dari CNN.com.
Berdiri di tengah suhu beku, Bagai menilai pernyataan Trump menunjukkan ‘ketiadaan pemahaman terhadap hak konstitusional dan integritas moral’ rakyat Greenland.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Greenland telah berkali-kali menyatakan penolakan terhadap gagasan menjadi bagian dari Amerika Serikat. “Kami sudah mengatakan tidak, dengan cara yang sopan dan bermartabat. Tapi kesopanan itu seolah diinjak-injak,” katanya.
Nada serupa terdengar dari Ludvig Petersen, seorang insinyur kota yang mengaku tidak pernah merasa setakut ini terhadap masa depan tanah kelahirannya. Menurutnya, ide bergabung dengan Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran mendalam, terutama soal privatisasi layanan dasar.
“Saya tidak ingin hidup di sistem di mana kesehatan dan pendidikan sepenuhnya dikomersialkan,” ujarnya. Petersen bahkan percaya ancaman Trump bukan sekadar gertakan. “Saya khawatir dia benar-benar akan melakukannya,” kata dia.
Meski demikian, Petersen mempertanyakan logika di balik ambisi Trump. Amerika Serikat, katanya, telah lama memiliki kehadiran militer di Greenland dan hak strategis atas sejumlah pangkalan. “Mengapa tidak memperkuat kerja sama itu saja? Mengapa harus mengambil alih seluruh negeri?” ujarnya.
Di balik kekhawatiran geopolitik, tekanan ini juga menyentuh lapisan terdalam kehidupan sosial Greenland. Seorang sopir taksi Inuit menceritakan bagaimana perubahan iklim telah memutus hubungannya dengan tradisi leluhur berburu anjing laut. Dari kehidupan di desa terpencil dengan 38 anjing penarik kereta salju, kini ia bergantung pada taksi tua di kota.
“Trump tidak memahami kehidupan kami,” katanya singkat, lalu menambahkan dengan nada getir, “Dia menganggap dirinya besar, tapi bagi kami dia kecil.”
Penolakan terhadap pengambilalihan AS terdengar nyaris bulat. Setiap kali pertanyaan itu diajukan—apakah mereka ingin Amerika menguasai Greenland—jawabannya konsisten: tidak.
Kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya juga disuarakan Mia Chemnitz, pengusaha lokal yang mengelola bisnis pakaian tradisional dari kulit anjing laut. Baginya, isu Greenland bukan sekadar soal tanah atau sumber daya.
“Ketika kami berbicara tentang Greenland, kami berbicara tentang manusia, keluarga, dan kehidupan sehari-hari,” katanya. “Tetapi dunia luar hanya melihat wilayah dan kekayaan alam. Itu dua hal yang sangat berbeda.”
Chemnitz mengakui posisi Greenland sangat rentan. Mereka adalah masyarakat damai tanpa militer, hidup di tengah perebutan kepentingan kekuatan besar dunia. “Kami tidak akan pernah mampu melawan militer Amerika,” ujarnya lirih.
Ironisnya, ia mengatakan tidak menolak bekerja sama secara ekonomi dengan Amerika Serikat. Namun ancaman sepihak justru menciptakan jarak. “Alih-alih mendekatkan, Trump justru menjauhkan kami,” katanya.
Mayoritas warga Greenland memang mendukung kemerdekaan dari Denmark dalam jangka panjang. Namun mereka juga sadar bahwa kemandirian membutuhkan sekutu yang dapat dipercaya, bukan tekanan. Dalam jajak pendapat terbaru, lebih dari 85 persen warga menolak menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Bagi Chemnitz, trauma kolonial masa lalu membuat situasi ini terasa semakin berat. “Ada suara kecil dalam diri saya yang bertanya: apa lagi yang mereka inginkan dari kami? Sampai kapan kami hanya dianggap berharga karena tanah kami?”
Di tengah dinginnya Arktik, ancaman Trump telah menciptakan suasana yang jauh lebih menusuk daripada angin musim dingin. Dan bagi warga Greenland, badai ini bukan sesuatu yang bisa dihadapi hanya dengan jaket tebal—melainkan dengan perjuangan mempertahankan hak menentukan nasib sendiri.
Advertisement
