Advertisement
GazanaPublika.com, Washington— Sebuah insiden berdarah melanda Pusat Islam San Diego (ICSD), California, Amerika Serikat pada Senin waktu setempat. Kejadian yang mengejutkan publik ini bermula sekitar pukul 11:40 pagi, ketika dua remaja bersenjata tiba-tiba melepaskan tembakan di dalam kompleks rumah ibadah terbesar di wilayah tersebut.
Laporan awal mengonfirmasi bahwa aksi brutal ini menyebabkan tiga orang pria tewas di lokasi kejadian. Menyusul rentetan tembakan tersebut, unit kepolisian setempat langsung mengaktifkan status pengepungan berskala besar dengan menerjunkan sekitar 50 hingga 100 personel taktis bersenjata lengkap ke lokasi. Petugas langsung menyebar guna mengamankan area luar, menyisir kompleks tanah, hingga berjaga di atap bangunan dekat kubah masjid.
Advertisement
Meski demikian, pihak kepolisian setempat memastikan bahwa tidak ada satu pun peluru yang dilepaskan oleh aparat penegak hukum selama proses sterilisasi area berlangsung.
“Para penembak ditemukan tewas di dalam sebuah kendaraan yang berhenti di tengah jalan di dekatnya, tewas akibat luka tembak yang tampaknya dilakukan sendiri,” kata Kepala Wahl, yakni Kepala Polisi San Diego, Scott Wahl, dalam menerangkan akhir dari pelarian kedua pelaku remaja tersebut.
Penyelamatan Anak-Anak Sekolah dan Korban Lainnya
Di tengah kepanikan akibat penetapan status ‘penjebak aktif’ tersebut, prioritas utama petugas di lapangan diarahkan untuk mengevakuasi belasan anak-anak yang tengah mengikuti kegiatan belajar di sekolah swasta di dalam kawasan pusat Islam tersebut saat serangan pecah. Melalui rekaman udara dari stasiun televisi, tampak anak-anak tersebut saling memegang tangan saat dituntun keluar melewati kepungan puluhan mobil patroli menuju titik aman. Seluruh anak dipastikan berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat tanpa luka fisik.
Selain itu, laporan lapangan mencatat seorang tukang kebun sempat ikut menjadi sasaran tembak beberapa blok dari tempat kejadian perkara, namun ia dilaporkan tidak mengalami cedera sama sekali.
Peran Heroik Petugas Keamanan Melawan Kebencian
Hingga saat ini, lembaga investigasi federal (FBI) telah turun tangan guna membantu melangsungkan proses penyelidikan menyeluruh. Pihak berwenang menetapkan kasus penembakan maut ini sebagai bentuk ‘kejahatan kebencian’, menyusul adanya temuan catatan anti-Islam yang melekat pada identitas tersangka.
Jumlah korban jiwa berhasil diredam berkat adanya tindakan berani dari pihak internal rumah ibadah. Pihak kepolisian menyatakan bahwa salah satu korban tewas dalam insiden tersebut merupakan seorang penjaga keamanan masjid. Petugas keamanan itu disebut-sebut mengambil tindakan krusial di saat-saat genting demi membendung dampak destruktif dari skenario awal pelaku.
Menurut keterangan tertulis kepolisian, sosok penjaga tersebut diakui “memainkan peran penting” dalam mencegah serangan tersebut menjadi “jauh lebih buruk”.
Advertisement
