Advertisement
GazanaPublika.com – Setelah rezim Bashar al-Assad tumbang pada Minggu lalu, kekuasaan di Suriah kini berada di tangan kelompok oposisi yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan Tentara Pembebasan Suriah (SFA). Namun, situasi ini diiringi oleh langkah agresif Israel yang meluncurkan invasi militer, mengambil alih wilayah Dataran Tinggi Golan yang sebelumnya ditinggalkan oleh pasukan Assad.
Dalam perkembangan ini, militer Israel telah melakukan lebih dari 480 serangan udara yang menargetkan situs-situs militer di Suriah. Selain mencaplok wilayah, serangan tersebut mempertegas ambisi Israel untuk memperluas kendali mereka di wilayah strategis tersebut.
Advertisement
Namun, sikap kelompok oposisi yang kini memegang kendali atas Suriah memunculkan tanda tanya besar. HTS, melalui juru bicaranya Obeida Arnaout, menolak memberikan pernyataan tegas mengenai invasi Israel. Dalam wawancara dengan Channel 4, Arnaout menyatakan bahwa prioritas mereka saat ini adalah memulihkan kehidupan masyarakat dan infrastruktur yang rusak, seperti pasokan listrik, air, dan layanan publik lainnya.
Ketika didesak lebih lanjut soal serangan Israel, Arnaout hanya menegaskan keinginan mereka agar kedaulatan Suriah dihormati, tanpa secara langsung mengkritik aksi Israel. Pernyataan ini memperkuat laporan sebelumnya bahwa HTS, di bawah pimpinan Abu Mohammad al-Julani, tidak berencana terlibat konflik dengan Israel dalam waktu dekat, dengan alasan Suriah belum siap menghadapi perang baru.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji jatuhnya pemerintahan Assad, mengklaim bahwa perubahan tersebut adalah hasil dari kampanye militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap sekutu-sekutu Assad, yakni Hizbullah dan Iran. Netanyahu menyebut peristiwa ini sebagai “hari bersejarah bagi Timur Tengah.”
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menjelaskan bahwa invasi dan serangan udara IDF bertujuan menciptakan “zona pertahanan steril” di Suriah. Langkah ini diklaim untuk mencegah terbentuknya ancaman baru dari kelompok-kelompok yang berpotensi melakukan terorisme di wilayah tersebut.
Namun, sikap oposisi yang terkesan menghindari konfrontasi dengan Israel menuai kritik dari sejumlah pihak, mempertanyakan apakah mereka benar-benar mampu mempertahankan kedaulatan negara yang baru saja mereka kuasai.
Sumber: sindonews.com
Advertisement
