Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Aksi demonstrasi menolak kenaikan gaji anggota DPR RI yang berlangsung sejak 28 hingga 30 Agustus 2025 di berbagai daerah berujung pada gelombang kericuhan. Tidak hanya menimbulkan kerugian material, aksi yang melibatkan ribuan massa ini juga merenggut korban jiwa, termasuk seorang pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta.
Di ibu kota, aksi massa berpusat di kawasan Senayan hingga Kwitang. Data yang dihimpun, satu pengemudi ojol tewas, 57 pendemo luka-luka (14 di antaranya dirawat di RS Pelni), serta 31 anggota Polri terluka, termasuk satu dalam kondisi kritis. Kerusakan fasilitas publik pun meluas: tujuh halte TransJakarta dibakar, Stasiun MRT Istora dirusak, hingga pusat perbelanjaan besar seperti Sarinah, Atrium Senen, dan Senayan Park terpaksa menutup operasional lebih awal. Di sisi lain, 33 kendaraan—termasuk mobil dinas Polri—hangus dibakar massa.
Advertisement
Gelombang amarah rakyat juga meluas ke Makassar, Sulawesi Selatan. Aksi demonstrasi di sana memicu kebakaran di gedung DPRD Kota Makassar dan DPRD Provinsi Sulsel. Tiga orang dilaporkan tewas, lima lainnya luka akibat insiden tersebut. Selain itu, tiga halte bus, dua pos polisi, serta beberapa kendaraan ikut menjadi sasaran amuk massa.
Situasi serupa terjadi di Jawa Barat. Gedung DPRD Jabar di Bandung mengalami kerusakan parah, sementara Wisma MPR dibakar. Aparat mencatat 203 pendemo mengalami luka ringan, tiga polwan terluka, dan 11 orang ditangkap. Di Tasikmalaya, gedung DPR juga tidak luput dari perusakan.
Di Jawa Tengah, amukan massa berujung pada pembakaran Gedung DPRD Solo, dua halte bus, serta tiga pos polisi. Sepuluh warga dirawat di rumah sakit, sementara seorang anggota Polri ikut terluka.
Sementara di Yogyakarta, Gedung SPKT Polresta dibakar, pagar Mapolda DIY dirusak, dan dua mobil di halaman Mapolda dibakar massa. Sembilan orang dilarikan ke rumah sakit, empat polisi terluka, serta delapan pendemo sempat ditangkap. Namun, setelah Sultan Hamengkubuwono X turun tangan, kedelapan pendemo akhirnya dibebaskan.
Kerusuhan juga mengguncang Surabaya. Gedung Negara Grahadi terbakar, lima pos polisi rusak, serta kantor Gubernur Jawa Timur menjadi sasaran perusakan. Sedikitnya 26 pendemo dan tiga polisi terluka.
Di Jambi, kediaman Wakil Gubernur rusak, Gedung DPRD Provinsi ikut jadi sasaran, dan satu mobil sekretariat DPRD dibakar. Tujuh anggota Polri dilaporkan terluka.
Pontianak tak luput dari amuk massa. Satu pos polisi dan satu pos mobile dibakar, fasilitas umum di Bundaran Tugu Digulis rusak, serta 28 mahasiswa terluka, termasuk satu luka parah. Sebanyak 15 pendemo juga diamankan oleh polisi.
Sementara di Medan, Sumatra Utara, dua pos polisi dibakar. Tiga belas pendemo terluka—satu di antaranya akibat pemukulan aparat—serta lima polisi juga mengalami luka. Enam belas orang diamankan di Polresta Medan.
Gelombang unjuk rasa ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar pasca-reformasi, dengan eskalasi kekerasan yang meluas di berbagai daerah. Tuntutan utama massa ialah menolak kenaikan gaji DPR, sekaligus menyoroti ketidakadilan sosial dan maraknya praktik politik transaksional.
Advertisement
