Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Pengamat dan praktisi intelijen Sri Rajasa mengungkapkan pandangan mendalam terkait kasus mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Dalam pembahasannya, ia menegaskan bahwa perkara ini sejatinya bukan sekadar masalah korupsi, melainkan benturan kepentingan yang melibatkan persaingan antar kelompok kekuasaan.
Pembahasan turut menyoroti kejanggalan kematian Sutrimo, orang kepercayaan Febrie Adriansyah, yang ditemukan meninggal dengan kondisi mengeluarkan busa di mulut. Hal ini dinilai menyimpan banyak tanda tanya yang belum terjawab secara tuntas.
Advertisement
Selain itu, Sri Rajasa menguraikan dugaan peran Febrie yang disebut-sebut sebagai “algojo penguasa” yang memanfaatkan wewenang untuk menekan dan meneror pengusaha, khususnya di sektor kelapa sawit dan pertambangan emas. Disebutkan pula adanya temuan barang bukti berupa emas seberat 74 kilogram serta aset mewah yang memunculkan pertanyaan apakah barang tersebut disita atau justru dimanfaatkan pihak tertentu.
Pembahasan juga menyentuh dinamika pemindahan penanganan kasus dari KPK ke Kejaksaan Agung. Sebagian kalangan menilai langkah itu semata-mata bertujuan untuk mencabut jabatan Febrie, bukan menuntaskan perkara secara adil. Di sisi lain, muncul pula persaingan yang kian tajam antara Polri dan Kejaksaan yang saling berupaya memperkuat peran lembaganya masing-masing.
Kasus ini pun memunculkan kekhawatiran apakah penanganannya akan menguap seperti yang terjadi pada kasus mantan Ketua KPK Firli Bahuri sebelumnya. Sri Rajasa turut mengkritik praktik penegakan hukum di Indonesia yang kerap dinilai “tajam ke bawah, tumpul ke atas”, serta menyayangkan maraknya penyimpangan yang justru membuat investor enggan menanamkan modal di dalam negeri,dikutip dari tayangan Official iNews, Rabu (29/7/2026)
Advertisement
