Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Sebuah video youtube di Tribun Semsel yang menunjukkan polisi berjabat tangan dengan sekelompok orang yang diduga preman yang sebelumnya melakukan penyerangan dan pembubaran diskusi kebangsaan yang digelar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada (28/9/2024)
Pengamat Kebijakan Publik, Gigin Praginanto, menegaskan bahwa kelompok yang menyerbu hotel tempat diskusi berlangsung bukan preman. Dalam pernyataannya melalui aplikasi X, @giginrpraginanto, Gigin menyebut bahwa mereka adalah aparat yang bergerak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Advertisement
“Yang menyerbu hotel Grand Kemang jelas bukan preman,” ungkap Gigin pada Sabtu malam (28/9/2024). Menurutnya, tindakan kelompok tersebut menunjukkan koordinasi dan perintah yang jelas, sehingga ketika diperintahkan mundur, mereka segera menghilang dari lokasi.
Selain itu, Ferdinand Hutahean juga mengungkapkan kecurigaannya terkait keterlibatan pihak istana dalam pembubaran diskusi tersebut. Diskusi kebangsaan itu dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Din Syamsuddin, Refly Harun, dan Said Didu, yang membahas sejumlah isu sensitif.
Ferdinand menyebut bahwa pembubaran acara itu kemungkinan terkait dengan beberapa isu besar yang tengah mencuat, termasuk dugaan gratifikasi Kaesang terkait penggunaan jet pribadi, serta kasus Blok Medan di Maluku Utara yang melibatkan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu.
“Saya menduga ini adalah order dari pihak istana,” ujar Ferdinand, menambahkan bahwa aparat kepolisian yang hadir di lapangan mungkin sengaja membiarkan pembubaran itu terjadi untuk menghentikan diskusi yang dinilai berpotensi merugikan pihak tertentu.
Meskipun begitu, sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian maupun istana terkait tuduhan-tuduhan tersebut. Kasus ini pun semakin menarik perhatian publik dan memicu perdebatan tentang kebebasan berpendapat di Indonesia.
Advertisement
