Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Silence Art Stories, Jejak Jiwa Gebar Sasmita

Silence Art Stories, Jejak Jiwa Gebar Sasmita

Opini Rabu, 11 Juni 2025 20:41 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Bung Eko Supriatno

GazanaPublika.com – Dalam sejarah peradaban manusia, seni tak pernah hadir sekadar sebagai ornamen. Ia adalah denyut nadi masyarakat, refleksi jujur dari zaman, ruang, dan batin manusia.

Advertisement

Dari lukisan gua purba hingga teater jalanan, dari syair klasik hingga film kontemporer, seni senantiasa menjadi medium yang merekam, menyampaikan, bahkan merawat narasi-narasi terdalam yang kerap luput dari pembacaan sejarah formal.

Dalam konteks ini, Silence Art Stories (SAS), film fiksi karya Denri Nurachman, tampil sebagai ikhtiar artistik yang tak hanya memotret kisah personal seorang seniman, melainkan juga menyentuh lapisan sosial, politik, dan eksistensial bangsa ini. Film ini mengangkat sosok Gebar Sasmita, seniman asal Pandeglang, Banten. Ia bukan figur yang sering muncul dalam buku sejarah atau diskursus populer, namun justru karena itulah, penting untuk disimak. Ia bagian dari barisan yang terlupakan, namun jejak sunyi nya menyimpan nilai adi luhung.

Mengapa…?

Di sini muncul pertanyaan-pertanyaan, mengapa Gebar? Mengapa Seni dan mengapa Sunyi? Tentunya ini bukan sekadar untuk menggugah rasa ingin tahu penonton, tetapi juga untuk mengajak kita membaca ulang relasi antara seni dan kekuasaan, tubuh dan trauma, diam dan perlawanan. Film itu bukan sekadar rekonstruksi fiktif atas satu tokoh, melainkan rekreasi batin atas lanskap sejarah kultural kita sebuah lanskap yang kerap diselimuti kabut sensor, represi, dan marginalisasi.

BACA JUGA:  OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Trailer film itu dengan jelas menampakkan bahwa SAS bukan film yang bermain-main di permukaan. Juga bukan tentang kisah heroisme dalam bentuk konvensional. Sebaliknya, film tersebut menawarkan ruang refleksi yang dalam tentang keberanian dalam kesunyian tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap berdiri, meski tak bersuara. Tentang bagaimana seni menjadi jalan untuk bertahan bukan lewat kemarahan, tapi melalui keutuhan jiwa.

Maestro dari Ruang Sunyi

Gebar Sasmita bukan sekadar nama dalam dunia seni rupa Indonesia; ia simbol ketangguhan. Lahir di Pandeglang, Banten, Gebar mengalami penderitaan sejak usia muda sebagai tahanan politik Orde Baru. Ia di penjara di usia 14 tahun tanpa pengadilan yang adil. Pengalaman pahit itu menjadi bahan bakar bagi karya-karyanya yang sarat ekspresionisme, sebagaimana tercermin dalam pameran tunggalnya, Perjalanan Panjang.

BACA JUGA:  Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

Lukisan dan patungnya dengan warna-warna cerah dan bentuk ekspresi tak hanya menampilkan estetika, tetapi menjadi luapan emosi atas ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan yang disaksikannya. Pertemuannya dengan pelukis legendaris Hendra Gunawan memperkaya visinya, menjadikan seni sebagai medium untuk merekam sejarah dan menyuarakan kebenaran.

Cuplikan trailer SAS menjanjikan narasi yang menggali perjalanan hidup Gebar, meski dalam balutan fiksi. Fragmen visualnya penuh warna dan suasana emosional menangkap esensi perjuangan Gebar: kesepian, kemarahan, keindahan semuanya membaur dalam karya. Film tersebut tak hanya menuturkan kisah seorang individu, tapi juga menunjukkan bagaimana seni menjadi katup pengaman bagi jiwa yang terluka dan alat perlawanan terhadap keheningan yang dipaksakan oleh kekuasaan.

Dalam denyut sejarah yang kerap dibungkam rezim, kerap ada suara-suara kecil yang terus bertahan. Mereka tak meledak seperti petasan, melainkan mengendap seperti api dalam sekam. Mereka tak tampil di panggung sejarah, tapi justru menyala dari ruang marjinal. Suara-suara inilah penggerak perubahan sejati tak gaduh, namun menggugah.

Advertisement

1 2
Kajian
Bung Eko Supriatno

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.