Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Santri Tidak Meminta Jabatan, Bukan Berarti Untuk Direndahkan

Santri Tidak Meminta Jabatan, Bukan Berarti Untuk Direndahkan

Opini Selasa, 14 Oktober 2025 20:09 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: M. Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com – Ada-ada saja sebentar lagi 22 Oktober Hari Santri Nasional (HSN), oknum salah satu media ternama berani mengekspos, seolah-olah merendahkan Santri juga Kyai-nya. Tujuan mereka, adalah, didasari dengan penuh kebencian, apalagi yang di viralkan tersebut Santri dan Kyai Nahdlatul Ulama (NU).

Advertisement

Lantas apa tujuannya membenci, bahkan merendahkan tersebut. Pertama ingin menaikan jam tayang, seolah-olah tidak akan tersakiti, padahal itu suatu tayangan yang belunder. Bahkan merugikan perusahaan medianya, bisa jadi dicabut izin penyiaran, karena, kaum Nahdliyin sudah bergerak menempuh jalur hukum.

Padahal, santri tidak merugikan negara, apalagi meminta-minta jabatan. Dulu Santri/Kyai NU melawan Penjajah, atas dasar mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sampai keluar ajakan melawan, yaitu, resolusi jihad. Digembor-gemborkan oleh KH. Hasyim Asy’ari Jombang, sekaligus pendiri NU.

Secara haqiqiyah di dalam Al Qur’an Allah SWT berpirman:

وما كان اللّه ليعذبهم وأنت فيهم

“Dan Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau (Muhammad) berada diantara mereka,” (surah Al-Anfal ayat 33).

Melihat ayat diatas, apabila menggunakan kalimat isim artinya tetap. Maka sesuai definisi kalimat fi’il menunjukan selalu berubah dan bertambah secara kesinambungan, karena, di dalam al-qur’an kita sering menemukan kalimat fi’il digunakan dalam persoalan yang menunjukan perubahan dan pembaharuan, seperti masalah hakikat dunia, nikmat, azab, amal shaleh dan lainnya.

BACA JUGA:  Membuka Sakelar Transendental: Anatomi Karakter Mistik dalam DNA Nusantara

Nah, disini Allah menggunakan kalimat fi’il (ليعذبهم), mengandung arti Allah tidak akan menyiksa mereka, selama masih tetap bersama Rasulullah, juga para Sahabat, Ulama, Auliya dan Santri. Berarti, kalau sudah para Sahabat, Ulama, Auliya dan Santri sudah tiada, alam dunia pasti hancur lebur.

Jadi adanya Ulama, Auliya, Kyai dan Santri, adalah, sebuah jaminan dari Allah dunia ini masih kokoh bertahan, belum di hancur leburkan. Makanya, kami selaku orang awam bersyukur masih adanya orang-orang yang mulia di hadapannya itu, masih bisa menghirup udara bebas, pengajian, tabligh akbar dan acara positif lainnya.

Santri diajarkan tata krama oleh gurunya masing-masing, diantaranya cara berhadapan dengan orang tua atau guru tidak boleh mengangkat kepala harus menunduk, jalan di hadapan guru badan merunduk, ketika bersalaman cium tangan, bahkan bolak balik dan membantu apa yang guru perintahkan kepada santrinya.

Juga santri diajarkan cara berkhidmat, mengharap keberkahan. Ada yang bersedekah, baik dengan materi, tenaga bahkan ucapan. Contoh soal, ada pembangunan pondok membantu dengan uang atau bersama-sama gotong royong, itulah cara santri satu-satunya menghibahkan jiwa raga terhadap gurunya.

Bukan berarti santri, ketika guru membutuhkan pertolongan itu seakan-akan memperbudak, akan tetapi santri tau sabab wasilah ilmu manfaat dan keberkahan. Karena, di Ahlussunah wal Jamaah santri harus menyakini, karomah, ma’unah, berkah dan lainnya.

BACA JUGA:  Budiman Sudjatmiko dan Penanggulangan Kemiskinan (Refleksi Defisit Kesadaran)

Selalu dipandang sebelah mata, masa depannya, pola berfikir dalam segala bidang. Namun, itu tergantung orangnya. Justru sekarang ini, mendunia dalam peradaban tidak hanya dikancah Nasional saja. Apa? Karena, ingin bebas di dunia akhirnya kalian membuli santri dan kyai kami, oh tidak! Walaupun santri sudah tiada, tetap masih ada Tuhan.

Perlu diketahui. Santri tidak meminta-minta jabatan, bukan berarti Sumber Daya Manusia (SDM) nya rendah. Tetapi kami tau diri, diperintahkan untuk merangkul seluruh umat. Ya, tidak aneh apabila ada dikalangan santri jadi pejabat, pengusaha dan lainnya, maka itu sesuai kemampuan masing-masing siap mengabdikan diri.

Santri diajarkan untuk bersabar, tawakal dan apa adanya ridho atas pemberian ketentuan dari Allah SWT. Sudahlah jangan mengusik kalau tidak mau terusik, satu saja sakit hati, jutaan akan turun membantu. Kekuatannya dipertaruhakan, jangan jadikan santri dan kyai sebagai alat kendaraan politik, bisa duduk di macam bidang. Namun, ketika direndahkan dan dihinakan kalian semua diam, seakan tidak tau saja.

Penulis adalah Sekretaris MWC NU Kecamatan Malingping dan  Santri Muda Lebak Selatan

Advertisement

Indonesia Nahdlatul Ulama Politik
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.