Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Tentang Dzikir

Tentang Dzikir

Opini Selasa, 17 Maret 2026 2:38 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis : Haidar Widodo Ch

GazanaPublika.com — Manakala kita ingin selalu dekat dengan sang maha khaliq, tentu ada kaidah dan anjuran pelaksanaannya. Adalah Dzikir, sebagai salah satu media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dzikir ini bisa membentengi hati untuk tetap terjaga kepadaNya. Karena hanya dengan mengingat Allah lah hati akan terbangun dalam ketenangan. Alaa’ bidzikrillahi tathmainnul qulub (QS: Ar Radu : 28)

Advertisement

Hanya saja dalam hal ini hendaknya kita mempelajari ilmu dzikir terlebih dahulu sebelum mengamalkan dzikir, tentunya dengan bimbingan guru yang telah melalui dan menjalankan ilmu dzikir tersebut. Intinya, Dzikir mengajarkan agar sedetik pun kita tidak lalai dengan Sang Pencipta. Karena bagaimana pun hidup kita ini hanya menghabiskan umur yang cuma sedikit ini.

Andai guru kita membimbing pada suatu dzikir, maka bacalah dzikir itu sesuai ilmu dzikir yang diketahui, meski kita belum faham, apalagi merasakan ketunggalan dzikir itu, pembaca dzikir (dzakir) dan yang didzikirkan (madzkur).

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS al-‘Alaq ;1), dan “Yang memberitahukan pada manusia tentang apa yang tidak diketahui manusia” (QS: Al-‘Alaq ;5)

BACA JUGA:  MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Dalam hal ini pokok pentingnya, lakukanlah dzikir itu dengan bertujuan mutlak hanya pada Dzat Allah, jangan memaksakan akal logika untuk memahami dalam lingkar ini. Biarkan Allah yang memahamkan pada kita, bukan atas semangat dan kecerdasan diri, karena setiap harap adalah nafsu.

Selanjutnya cukup tenangkan diri dalam berdzikir, tak usah sibuk berfokus halusinasi, biarkan pemikiran berputar di alamnya, yang penting dapat mengheningkan cipta pada bacaan dzikir yang di lafal, lalu dengarkan suara dzikir kita sendiri, dan awasi lah dari mana suara dzikir itu muncul.
Jika saat bergiat dzikir di relung batin terdengar banyak suara, hingga diri bingung suara mana yang akan didengar, maka bantulah suara dzikir kita itu dengan suara lahir yang keras sembari menggerakkan sebagian badan, dan teruslah seperti itu.

Akan tetapi, jika mampu mendengar suara dzikir yang khas muncul dari dalam, meski suara dzikir yang lain mengecohnya, maka aktifkan seluruh komponen tubuh supaya ikut bersuara, turut berdzikir menyebut asma Tuhan, sembari mulai membukakan pendengaran batin untuk menelisik, suara dzikir mana yang tanpa dorongan apapun, suara dzikir itu tetap bersenandung?

BACA JUGA:  Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Hal ini dilakukan guna menemukan esensi dzikir itu sendiri, bahwa : selain untuk mengingat asma, af’al dan sifat-Nya, dzikir juga merupakan sebagai pembangkit dan penyempurna semua amal ibadah, bahkan ada yang mengatakan “Bernilai atau tidaknya suatu amal kebaikan, itu terletak pada kadar dzikir/ingat pada yang Empunya Dzikir,”.
Seorang sufi mashur berkata:

“Manakala kamu diberi taufik melakukan dzikir pada Allah, berarti kamu benar-benar telah dikarunia penunaian masuk dalam ranah undangan kemaha-tunggalan-Nya,”. Subhanallah.

Akhirnya, apapun pemahaman kita tentang perilaku dzikir yang kita tunaikan, ataupun dzikir tafakur lainnya, tentunya kita hanya mampu berharap, semoga kita selalu diberi taufik dalam menunaikan undangan-Nya, mulai di tiap hembusan nafas hingga nafas yang penghabisan. (*)

(Penulis adalah Jurnalis, penyuka kajian tasawuf dan pengajar di UNMA Banten)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

BERITA TERBARU

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

Pemerintah Azerbaijan Larang Hijab di Sekolah, Gelombang Protes Pecah

KPK Tetapkan Sejumlah Tersangka Terkait OTT di BNPB

Lari dari Proses Hukum, Kakak Ipar Pemerkosa Adik di Binuang Serang Jadi Buronan Polisi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version