Advertisement
Penulis: Gufran Ar Rifai (Pemred GazanaPublika.com
GazanaPublika.com – Seorang tokoh baru yang muncul di panggung politik Indonesia adalah Jokowi. Awalnya, Jokowi bukanlah figur terkenal; semula ia hanyalah seorang rakyat biasa seperti orang lain layaknya. Mungkin pada awalnya, ia hanya seorang pengusaha kayu atau mebel yang fokus pada usahanya. Suatu hari, dorongan dan saran membawanya menjadi seorang walikota Solo dengan diantaranya atas dasar dukungan dari partai Gerindra.
Advertisement
Setelah berhasil menjabat sebagai walikota, Jokowi kemudian mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta dan berhasil meraih posisi tersebut.
Meski posisinya setelah lebih tinggi dari sebelumnya, Jokowi baru saja selesai menjalani dua tahun masa jabatannya sebagai gubernur. Tak disangka, dari perjuangan dan dorongan, ia diangkat dan ditawari untuk menjadi Presiden. Orang yang awalnya hanya seorang rakyat biasa tanpa latar belakang birokrasi atau darah biru, kini menempati kursi presiden.
Sejak awal karirnya sebagai Walikota Solo, Jokowi dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, menonjolkan kesederhanaan dalam sikapnya. Ia menggagas konsep kerja keras dan fokus pada pembangunan daerah. Keberhasilannya dalam memajukan Solo menarik perhatian publik, terutama partai politik, khususnya PDI Perjuangan. Mereka melihat potensi besar pada Jokowi dan ingin mengalirkan dukungannya untuk langkah berikutnya, termasuk jabatan sebagai gubernur dan kemudian presiden.
Jokowi tak ragu-ragu untuk melakukan blusukan ke tengah rakyat, berinteraksi dengan mereka, bahkan masuk ke dalam gorong-gorong demi melihat secara langsung realitas sosial di masyarakat. Dialah Jokowi yang mencerminkan kesederhanaan, semangat hidup, kerakyatan, dedikasi untuk perubahan, dan pembangunan yang berlandaskan pada nilai-nilai kepribadian yang etis serta sopan santun terhadap semua pihak. Meskipun awalnya hanya seorang rakyat biasa, Jokowi, saat menjabat sebagai presiden, telah memperlihatkan kecakapan luar biasa dalam kepemimpinan dan progresivitas dalam pembangunan.
Prestasi ini tidak hanya membuatnya dicintai oleh rakyat, tetapi juga dihargai oleh elit politik. Bahkan, tidak terduga bahwa para jenderal di sekitarnya memiliki rasa simpati dan mengikuti instruksi serta arahan yang diberikan oleh Jokowi, memungkinkannya untuk berhasil menjalankan proses politik dengan baik.
Menilai apakah Jokowi layak menjadi simbol ideologi kepemimpinan merupakan subjek penilaian yang kompleks. Ideologi umumnya muncul dari pemikiran yang terdokumentasi, baik dalam bentuk karya ilmiah atau dihasilkan melalui gerakan tertentu. Sebagai contoh, Marxisme terdokumentasikan dalam karya ilmiah Karl Marx. Namun, ada juga ideologi seperti Nazi yang muncul tanpa kriteria ilmiah tetapi menjadi suatu ideologi yang terkenal pada zamannya.
Menggambarkan kepemimpinan sebagai ideologi biasanya terkait dengan pemikiran dan aksi seorang individu atau gerakan tertentu. Apakah Jokowi akan menjadi simbol ideologi kepemimpinan atau “Jokowisme” tergantung pada sejauh mana gagasan dan tindakan kepemimpinannya yang tercermin dan diterima oleh masyarakat serta apakah ideologi ini memiliki kriteria dokumen yang jelas atau terbentuk secara alami. Keputusan untuk memberikan label ideologi biasanya melibatkan proses penilaian mendalam dan penerimaan oleh masyarakat.
Ideologi, jika diartikan dari etimologi, berasal dari kata “idea” yang berarti pikiran, konsep dan “logos” yang berarti pengetahuan. Meskipun pada awalnya hanya ide atau gagasan, keberlangsungan ideologi melibatkan banyak orang yang menganutnya.
Melekat dalam Jokowi sebuah identitas sebagai seorang makhluk sosial, pengusaha, dan politisi, bahkan pergerakannya sebagai seorang pemimpin, kepala daerah dan presiden. Dia dikenal memiliki gagasan brilian dalam strategi politik dan pengambilan keputusan yang tepat. Selain itu, Jokowi juga mempromosikan nilai dan etika dalam kepemimpinan, sopan santun dalam menghargai rekan politik dan lawan politik, serta mengajarkan sistem nilai-nilai demokrasi.
Banyak orang memuja dan mengidolakannya sebagai seorang pemimpin yang sangat baik. Namun, apakah Jokowi layak dijadikan sebuah ideologi baru dalam sebuah kepemimpjnan dengan sebutan “Jokowisme”. Itu tergantung pada sejauh mana gagasan dan nilai-nilai yang dia anut menjadi landasan ideologinya dan diterima oleh masyarakat. Yakni keberlanjutan serta peranannya sebagai simbol kepemimpinan yang dapat diikuti banyak orang. Keputusan untuk menyematkan label “Jokowisme” melibatkan penilaian mendalam tentang dampak dan penerimaan gagasan dan nilai-nilainya.
Ideologi adalah suatu rangkaian ide dan nilai yang idealnya dapat diwujudkan menjadi sistem tertentu, baik dalam konteks sosial maupun kenegaraan.
Dalam bahasa Inggris, terkadang tidak ada perbedaan antara ideologi dan keyakinan, dan seringkali semua term tersebut dihubungkan dengan kata “ism,” seperti kongfusianisme, pragmatisme, hegelianisme, humanisme, hingga marxisme. Semua ini dapat dikategorikan sebagai ideologi dan bisa juga nilai keyakinan.
Jokowi, sebagai seorang pemimpin, telah menanamkan sejumlah nilai dalam kepribadiannya yang mempengaruhi negara dan rakyatnya. Ia adalah sebuah contoh dan tauladan. Beberapa nilai yang melekat pada Jokowi termasuk kesederhanaan, kerakyatan, progresivitas, dan kerja keras. Keempat nilai ini menjadi dasar bagi Jokowi dalam membangun sistem politiknya. Seperti halnya Mahatma Gandhi dan Soekarno, Jokowi juga menunjukkan nilai kesederhanaan, sehingga menjadi salah satu tokoh ideologis yang diangkat.
Dengan merangkum komponen nilai tersebut, Jokowi berhasil memberikan kontribusi besar untuk perubahan di Indonesia dan merancang sebuah sistem kenegaraan yang berkemajuan sebagai gagasan utama. Ini menjadi landasan dan penguat untuk pengembangan pembangunan Indonesia ke depan. Oleh karena itu, dalam beberapa puluh tahun mendatang, Jokowi kemungkinan akan menjadi standar nilai pembangunan yang progresif. Selain itu, nilai-nilai kesederhanaan dan kerakyatan yang ditanamkan olehnya akan menjadi tolok ukur bagi pemimpin selanjutnya. Jokowi menjadi simbol dari gagasan besar tersebut.
Meskipun mendapat banyak penentangan, namun lebih banyak lagi yang mendukungnya. Bahkan, dalam pengalaman Pemilu 2024, dapat dikatakan bahwa ia mencapai tingkat tertinggi sebagai King Maker Indonesia dengan berbagai taktik politiknya.
Advertisement
