Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Oligarki dan Hegemoni: Ancaman bagi Masyarakat Bawah

Oligarki dan Hegemoni: Ancaman bagi Masyarakat Bawah

Opini Kamis, 8 Agustus 2024 0:54 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Iyang Bahtiar

Advertisement

Penulis: Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com –  Berbicara tentang oligarki tak lepas dari lingkungan kekuasaan, karena itu merupakan sistem pemerintahan di mana kekuasaan politik dan ekonomi dikuasai oleh sekelompok kecil individu, atau trah keluarga yang memiliki kekayaan dan pengaruh besar dalam masyarakat.

Advertisement

Adapun hegemoni, kehadirannya akan selalu mendominasi kekuasaan berdasarkan kesepakatan kelompok tertentu, sehingga akan semakin memunculkan model kekuasaan otokrasi, aristokrasi hingga monarki.

Dalam model kekuasaan seperti itu, kendati kelompoknya minoritas, mereka akan mampu mencengkeram kaum mayoritas yang mudah dipecah belah karena kesadaran politik yang lemah. Sehingga keberadaan wadah sosial kontrol dan media akan mudah dibungkam.

Mengutip dari buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’: “Semakin rendah kesadaran politik rakyat di desa atau kota, semakin mudah mereka dimanipulasi oleh elit penguasa yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya,” kata Paulo Freire.

Keputusan penting yang mempengaruhi negara acapkali dibuat oleh segelintir elit yang memiliki akses ke sumber kekuasaan yang lebih besar daripada mayoritas penduduk. Jika kita netral dalam situasi ketidakadilan itu, berarti kita memilih berada di pihak yang menindas.

Ya, kekuasaan kerap menyebabkan ketidaksetaraan yang signifikan, baik dalam distribusi kekayaan maupun akses terhadap peluang ekonomi dan sosial. Sedangkan di negeri kita, semua peluang ada, kita punya kebebasan penuh, baik dalam kontestasi perpolitikan maupun kedudukan, yang penting kita mumpuni dalam hal tersebut.

BACA JUGA:  Menyingkap Rahasia di Balik Bakat: Bagaimana DNA Merancang Keahlian Manusia

Kontrol yang lebih besar terhadap ekonomi penting seperti industri, keuangan, dan media memungkinkan oligarki untuk mempertahankan kekuasaannya dan memanipulasi opini publik sesuai seleranya. Kelompok ini bisa berbagi menurut kekayaan, keluarga, pendidikan, agama, maupun militer. Sepanjang sejarah, oligarki seringkali bersifat tirani dan mengandalkan kepatuhan atau penindasan publik.

Oligarki hanya menguntungkan segelintir orang yang berada di puncak kekuasaan, merugikan masyarakat luas serta mempertajam peningkatan ketidakadilan sosial dan ekonomi. Mengutip dari Soe Hok-Gie yang populer adalah, “Saya jijik melihat orang ambisius, yang rela menginjak kepala teman-temannya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.”

Dalam suasana kekuasaan seperti itu, kelompok perubahan harus berani mengambil risiko dan memperjuangkan perubahan yang positif bagi masyarakat. Cita-cita perubahan itu bukan omong kosong, tetapi harus benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul dari akar sejarah bangsa kita sendiri.

Karenanya, kaum yang memahami kondisi suatu desa, kota, atau negara tentu adalah masyarakat bawah, hanya saja mereka kerap selalu disamarkan menjadi senyap, karena ruang gerak ditutupi dan semua peluang dipagari supaya tidak bisa menduduki kekuasaan. Mereka telah mengatur kebebasan dan ruang terbuka untuk kepentingan mereka saja, dan masa depan negeri itu jadi termarjinalisasi.

BACA JUGA:  Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Di sini diperlukan sosok-sosok kaum pembebasan. Pembebasan dari penjajahan oligarki dan hegemoni. Mulai dari penjajahan ekonomi, sosial, politik hingga pembodohan masif, dengan menjegal berbagai informasi yang bisa membuka peluang hak kaum akar rumput.

Ya, kondisi tersebut tentu harus terus diimbangi dengan karya gagasan melalui berbagai saluran, tentunya harus secara terus-menerus agar mampu membentuk basis kekuatan untuk perubahan. Sehingga bisa mewujudkan pembebasan untuk kaum lemah.

Karena oligarki dan hegemoni kalau berada di negara monarki itu dianggap lumrah, namun kalau wabah oligarki dan hegemoni itu hinggap di negara demokrasi ini tentu ada yang keliru. Bisa jadi wabah tersebut masuk melalui pasal aturan yang lentur, atau datang mengatasnamakan hak asasi, bisa pula ini masuk dibonceng kekuatan kapitalisme, selanjutnya disambut kalangan ambisius untuk membangun klan.

Satu hal, membuat kekeliruan adalah sifat manusiawi, namun tidaklah baik untuk terus mempertahankannya, karena dampaknya akan dirasakan golongan kecil yang selalu tertindas. Tentunya, berbicara oligarki dan hegemoni kekuasaan itu akan selalu menjadi perbincangan panjang kalangan pecinta demokrasi sejati. Dirgahayu Negeriku!

Penulis adalah warga Nahdiyin dan pegiat Rijalul Anshor di Banten Selatan

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.