Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Tirani Mayoritas

Tirani Mayoritas

Opini Sabtu, 24 Agustus 2024 14:53 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Iyang Bahtiar

Advertisement

Penulis: Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com – Adalah fenomena dimana mayoritas dalam masyarakat menggunakan kekuasaan untuk menindas hak-hak minoritas atau individu yang berbeda pandangan. Adapun kata Tirani menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang atau Negara yang diperintah oleh seorang Raja atau penguasa yang bertindak diktator.

Advertisement

Pada zaman Yunani Kuno, Aristokrat bertindak sebagai penguasa tunggal di Polis, peringainya kerap bertindak mematahkan gerakan kelompoknya. Kelompok ini awalnya netral, lalu mendapatkan konotasi negatif di Athena sejak pemerintahan Hippias. Sekarang kata ini dikaitkan dengan penguasa tunggal yang memerintah secara brutal dan menempatkan diri dan golongannya diatas kepentingan rakyat banyak.

Konsep awal konstitusi di kota Athena diawali oleh Jhon Locke, Montesquieu, dan Rousseau, ini tujuan awal untuk membatasi kekuasaan Raja. Adapun konstitusi modern pertama kali disahkan oleh para pendiri Amerika Serikat (AS) pada 1787 paska Kemerdekaan AS pada 1776.

Revolusi Prancis (1789-1799) tidak saja berhasil meruntuhkan monarki absolut yang telah bertahan berabad-abad, tetapi juga mendorong terciptanya tatanan baru bernegara yang dilandasi konstitusi. Inggris sebetulnya telah meletakkan dasar-dasar negara konstitusional melalui Magna Charta 1215, namun dokumen tersebut baru sebatas mengatur hubungan raja dan kaum bangsawan.

BACA JUGA:  Diplomasi Sepak Bola Iran di Tengah Ketegangan Politik Iran–AS

Perkembangan sejarah konstitusi didorong oleh Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis yang mengubah kerajaan menjadi negara konstitusional. Konsep kedaulatan rakyat yang dilahirkan oleh teori kontrak sosial dan teori negara hukum telah mengubah tatanan politik Eropa pada abad XIX sehingga melahirkan gelombang demokrasi pertama pada 1828-1926.

Beberapa waktu terakhir perdebatan tentang demokrasi sering muncul, segelintir orang mempertanyakan dan menggugat esensi demokrasi. Apakah pantas demokrasi untuk untuk kemajemukan Indonesia? dan apakah ada demokrasi memberikan kesempatan bagi warga negara untuk memilih dan dipilih?

Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu menggantung hingga titik ekstrim jelang Pemilu 2024. Contohnya demokrasi dikaitkan dengan tirani mayoritas, dalam konteks Indonesia ada yang berpendapat bahwa pemimpin harus Jawa dan beragama Islam. Ini menjadi sebuah persoalan, selalu diperdebatkan tanpa henti, bahkan tidak menemukan titik terang ujung kesimpulan. Padahal dalam sebuah demokrasi apalagi kontestasi politik, semua warga negara Indonesia harus memiliki kesempatan yang sama, tidak bergulir pada suku atau kelompok tertentu.

Sebagai warga negara yang memiliki hak setara, orang Aceh, Papua, Minahasa, Timor, Manggarai, Sunda, Minang hingga Madura, yakni dari Sabang sampai merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote itu mempunyai hak politik yang sama. Kalau menurut bapak demokrasi liberal, John Locke, Bahwa demokrasi bicara tentang kesetaraan. Kesetaraan yang dimaksud menurutnya adalah mencegah penindasan antar kelompok satu dengan yang lain.

BACA JUGA:  Andai Pengelolaan MBG Swakelola Kantin Sekolah, Bagaimana?

Bukti realitas politik Indonesia, hanya saja terkadang berada dalam posisi yang tidak ideal. Faktor antropologis sering menjadi kambing hitam, bahkan argumentasi ini selalu menjadi pembenaran sejumlah pihak yang setuju, bahwa seorang pemimpin harus orang berlatar Suku Jawa saja.

Sayangnya berkaca pada Pemilu 2004 dulu, trend positifnya tidak berlanjut. Sistem pemilihan langsung dengan menekankan suara mayoritas membuat demokrasi di Indonesia, dipenuhi oleh para petualangan politik, yang hanya memikirkan kekuasaan sesaat. Kadang mereka memilih jalan paling pragmatis, dengan diangkatnya isu-isu yang sangat sensitif berbau etnisitas maupun agama.

Dengan adanya mengangkat pragmatisme politik identitas Suku dan Agama, kian hari tentu semakin kencang, perlu dihindari terus dikritik dalam diskursus politik. Di Indonesia, demokrasi harus lebih cerdas dan bernas pelaksanaannya, memang perkara ini memicu kegaduhan. Akan tetapi kegaduhan kalau itu dipicu oleh reaksi perdebatan yang substantif, biasanya tak akan berdampak parah.

Tokoh demokrasi Robert Dahl dalam Democracy and its Critics menyebut bahwa terlepas dari kritik dan kekurangannya, bagaimanapun demokrasi harus diakui sebagai sarana politik yang tidak menghendaki eksistensi kekuasaan tunggal atau Tirani Mayoritas. (*)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.