Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Bicara Banten, setiap orang Banten akan selalu teringat tentang Sultan Maulana Hasanudin. Wajar, mungkin hal itu karena efek masa keemasan Banten di masa lalu. Dan sebetulnya itu bukan masa keemasan, tetapi masa pendirian Kerajaan Islam Banten, atau yang terkenal disebut Kesultanan. Lalu, ketika menjelajahi sejarah tersebut, sebagian orang mungkin lupa sejarah masa lalu Banten sebelum era Kesultanan. Atau mungkin ini letupan keberpihakan karena sejarawan atau penyuka sejarah merasa muslim lalu tidak mau tahu soal di luar itu.
Padahal di luar sana, orang Indonesia itu sifatnya bangga dengan cerita Mataram Hindu yang telah berhasil membangun Candi Borobudur. Kadang, imajinasi kita liar, berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun itu.
Advertisement
Kita juga bangga soal Kejayaan Majapahit. Majapahit dipandang Kerajaan Nusantara yang mencapai masa kejayaan untuk menyatukan nusantara. Walau yang sinis akan berkata: “Majapahit tidak lebih sebuah kerajaan invasif.” Namun, kebanggaan tetap ada.
Kita tidak memilah apakah kerajaan tersebut, berkeyakinan apa, dan beragama apa? Pada dasarnya, walaupun itu kerajaan Hindu, kita adalah bagian warisan sejarah sekaligus turunan dari masa lalu.
Nah, kembali kepada Banten, apakah kebanggaan Banten itu hanya Kesultanan Banten dan tidak ada sebelumnya? Apakah Sultan Hasanudin itu bersifat a historis dan terpisah dari rangkaian kerajaan sebelumnya?
Kalau logika berpikirnya seperti itu, maka Sultan Maulana Hasanudin itu tidak bersifat historis. Tidak demikian, meskipun dari pihak Bapak adalah bukan orang Banten karena Sunan Gunung Jati adalah orang Cirebon dan klaim historis Sultan Maulana Hasanudin adalah anak dari ibu yang berasal dari tanah Banten, yakni Nyi Kawung Anten. Artinya, Sultan Hasanudin adalah pribumi Banten dari pihak ibu. Namun, dukungan atas sejarah berangkat atas logika berpikir bahwa ia adalah anak seorang Waliyullah, yakni Sunan Gunung Jati. Bukan sejarah yang salah, namun keberpihakan yang muncul dari penyuka sejarah sehingga meng-elukan soal itu dan mengabaikan sisi Banten lainnya.
Di Serang, Provinsi Banten, sebelumnya sudah ada Kerajaan Banten Girang. Walau pun seorang sejarawan Banten, katakanlah Yadi Ahyadi mengatakan itu kerajaan Islam, tetapi banyak sejarawan yang mengatakan itu kerajaan Hindu. Sebetulnya mau itu kerajaan Hindu atau Islam, tetap Kerajaan Banten Girang adalah bagian dari sejarah Banten. Kerajaan ini hancur akibat peperangan dengan Fatahillah yang lebih dulu datang sebelum Sultan Hasanudin mendirikan kerajaan bersama Bapaknya Sunan Gunung Jati.
Kerajaan Banten Girang adalah salah satu kerajaan Banten yang masih ada sebelum Kolonial. Menurut sejarawan, Kerajaan Banten Girang tunduk pada penguasa Pajajaran pada abad 14. Selang 200 tahun, pada abad 16, Kerajaan ini mulai bangkit kembali menemukan jati dirinya, dan tak lama Penguasa dari Demak melancarkan aksinya, menggempur kerajaan Banten Girang hingga luluh lantak. Barulah Kerajaan Sultan Maulana Hasanudin didirikan di Banten bagian utara dekat Pelabuhan Karang Hantu. Sekarang masuk di Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Jadi, menurut fakta ini, Kerajaan Maulana Hasanudin pun didirikan dengan pertempuran.
Kontroversi sejarahnya adalah Sunan Gunung Jati telah menikahi Nyi Kawung Anten sebelumnya dan melahirkan putra bernama Sultan Hasanudin. Artinya, kalau pun tesis ini disepakati, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Kawung Anten terjadi sebelum Banten dikuasai. Meskipun ada beragam pendapat, seperti ada yang mengatakan bahwa Sultan Hasanudin lahir dari ibu yang berdarah Demak, menurut Caruban Nagari, Sunan Gunung Jati bertemu dengan Nyi Kawung Anten di tanah Pasundan.
“Asal usul Nyi Kawung Anten masih menjadi perdebatan. Sebagian peneliti menyebut jika istri Sunan Gunung Jati ini adalah adik Bupati Banten saat itu. Namun literatur lain menyebut jika ia adalah cucu raja Pakuan, adik dari Prabu Mandi Pethak atau Dipati Cangkuang.
Dalam Naskah Kuningan dikisahkan pertemuan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Kawung Anten terjadi dalam kondisi yang unik. Ketika sedang berjalan-jalan ke Pakuan, Sunan Gunung Jati menemukan sebuah istana yang terlihat telah ditinggalkan oleh penghuninya.” (Mengutip dari Historia)
https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/agama/articles/enam-istri-sunan-gunung-jati-vYeeN
Jauh sebelumnya akar kerajaan Banten yang paling masyhur adalah Salakanagara dan Salaka Negara mewariskan genetikanya ke seluruh kerajaan di Tanah Jawa, mulai dari Tarumanagara hingga Majapahit. Walaupun klaim ini masih berdasarkan Naskah Wangsakerta dan belum ada penelitian yang mendalam dan hereustik.
Namun faktanya, selain Banten Girang, Kerajaan Banten telah ada saat itu seperti yang berada pada Kerajaan Pulosari di Pandeglang, Kerajaan Madala Sari di Pandeglang. Yang tersisa sekarang adalah Pemangku Adat yang dikenal adalah “Kaolotan”. Kaolotan pada zaman dahulu pun sebetulnya adalah Kerajaan-Suku yang bertugas memelihara kepercayaan dan adat istiadat. Namun, kerajaan di Banten tidak bersifat ekspansif seperti kerajaan di Jawa karena Kerajaan-Suku itu sifatnya tentram dan menyatu dengan masyarakat.
Sebetulnya ciri kerajaan asli (pribumi) itu selalu berada di pedalaman jauh dari laut, bahkan ada yang pada posisi naik ke lereng gunung, sedangkan kerajaan yang bersifat ekspansi biasanya tidak jauh dari laut. Kaolotan memenuhi kriteria tersebut, yakni Kerajaan Asli sehingga tugas kerajaan tidak lebih hanya sebuah pengayom atas masyarakat yang merupakan sekumpulan orang yang terikat dalam budaya kesukuan. Sedangkan para kerajaan ekspansi mengubah visi kerajaan menjadi kekuasaan atas segala aspek.
Penulis:
Fran Son-gaha
Pemerhati Sejarah Banten
Advertisement
