Advertisement
Penulis: Iyang Bahtiar
GazanaPublika.com – Ketika pendirian Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 1926 Masehi atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriyah selanjutnya disusul kelahiran badan otonom (Banom) NU, yakni Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada tahun 1934. Itu semua dilandasi semangat perjuangan nasionalisme yang berkembang pada tahun 1928 saat awal sumpah pemuda.
Advertisement
Dari sana terlahir pula semi Banom dari tubuh Ansor, yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS-RA), organisasi ini lahir pada tanggal 2 Juni 2012 lalu, sejak estafet kepemimpinan sahabat Ketua Umum Nusron Wahid. Sampai saat ini tertata rapi pergerakannya berdasarkan Peraturan Organisasi (PO) dan Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/RT).
Adapun tujuan berdirinya MDS RA, tidak lepas dari instruksi dan program kerja GP Ansor sebagai implementasi visi revitalisasi nilai dan tradisi misi internalisasi nilai-nilai ke Aswajaan an-Nahdliyah, karena dibawah naungannya, sesuai PO GP Ansor Nomor: 02/KONBES-XVIII/VI/2012.
Pemuda memiliki tanggung jawab besar bagi bangsanya sendiri, oleh karenanya merupakan aset terbesar bangsa, sekaligus sarat harapan yang akan menegakan cita-cita bangsa. Maka pemuda memiliki peran besar demi menjaga keberlangsungan dan kemajuan Indonesia.
Tampuk peran itu memiliki, bahwa pemuda sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan sekaligus menjadi agen of change. Agar bisa tercapai semuanya itu, selain pendidikan pesantren dan sekolah, dipikirkan pula wadah untuk mengembangkan diri nilai-nilai kemasyarakatan, wawasan kebangsaan atau nasionalisme yang kuat, dan secara rohani tampil kepemudaan Ansor yang religius.
Salah satunya semi otonom yang memiliki antusias di kalangan masyarakat dan pemerintah adalah MDS-RA, bukti ke antusiasan bisa diterima keberadaannya oleh kalangan masyarakat, diantaranya di wilayah Banten. Bahkan peran para santri muda pun amat hebat terhadap pola pikir untuk tampil di kemasyarakatan.
Namun, tentunya MDS-RA mesti mempunyai agenda program, sehingga dituntut memberikan kontribusi positif untuk mengembangkan dakwah keislamannya secara moderat, berdasarkan paham Aswaja an-Nahdliyah. Hal ini harus difahami jangan sampai berseberangan, dalam kesuksesan dengan beragam metode dakwah yang dilakukan.
Begitu pentingnya metode dalam berdakwah, sehingga Allah menganjurkan umatnya berdakwah dengan cara metodelogi retorika dan komunikasi, diantaranya penyampaian pesan yang baik. Sebagaimana termaktub dalam firmanNya, QS An Nahl Ayat 125:
“Serulah manusia terhadap jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalannya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam firman tersebut, jelas bahwa ketika seseorang berdakwah mengajak dan menyeru kepada orang lain, agar mudah dimengerti dan dipahami, harus dakwah bil hikmah. Diantaranya dengan cara pendekatan komunikasi persuasif, menyajikan materi strategi yang efisiensi atas dasar luasnya ilmu pengetahuan dan pengalaman berdakwah.
Mengapa demikian, dengan adanya MDS-RA tersebut, bisa menjadi tulang punggung ormas keagamaan yang sangat penting dan berpengaruh di Indonesia. Sebab peran pemuda apalagi di zaman sekarang, merupakan cikal bakal menjadi generasi negara dan agama di masa mendatang.
Dengan kata lain, bahwa perkumpulan pemuda amat memiliki kekuatan untuk memberikan perubahan terhadap lingkungannya. Karenanya, untuk mendapatkan kesuksesan tersebut, maka Indonesia berhak mempunyai perkumpulan golongan pemuda yang memiliki potensi, kekuatan, tanggung jawab, kemauan dan perbuatan untuk mencapai tujuan kebangkitan umat dari tidur dan kemalasannya.
Selain itu, dzikir merupakan upaya manusia agar selalu mengingat Allah. Dzikir juga merupakan amalan yang utama, yang wajib dilakukan oleh umat Muslim, karena dengan berdzikir manusia tersebut lebih dekat dengan Tuhan dan mendapatkan ridha nya. Hal ini bisa dibuktikan melalui janji Allah pada firmanNya:
“Karena itu, ingatlah kalian kepadaku, niscaya aku akan mengingat kalian. Serta bersyukurlah kepadaku dan jangan mengingkari nikmatku.” (QS: 2 ayat 152).
Selanjutnya, dzikir bukan hanya sekedar hiasan lisan belaka. Namun, harus bisa menggerakkan hati dengan sesungguhnya, walaupun hal ini sulit dilakukan, tetapi jika sering dilakukan akan memberikan pengaruh terhadap pembacanya yang luar biasa, kapanpun dan dimanapun ia berada.
Dzikir, juga boleh dilakukan bersama (berjamaah), baik sesudah shalat lima waktu maupun di waktu-waktu hal tertentu. Sebagaimana sabda Nabi Rasulullah:
“Dari Anas RA ia berkata. Rasulullah SAW bersabda: Apabila kalian melewati taman surga, maka berdzikirlah bersama mereka. Mereka bertanya: Apa yang dimaksud taman surga wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: Kumpulan orang-orang yang berdzikir.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Al-Tirmidzi).
Selain itu, sholawat merupakan pujian dan sanjungan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, begitu mulianya seorang muslim selalu membacanya, bahkan dianjurkan. Karena sholawat wujud rasa cinta dan kasih sayang kita terhadap baginda Rasulullah SAW. Tidak hanya orang Islam saja yang dianjurkan, bahkan Allah beserta para Malaikat ikut melantunkan dzikir, seperti tertera dalam Al Quran Surat Al Ahzab Ayat 56.
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bersholawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersholawat lah.”
Oleh karenanya, berdasar pada konteks diatas itu penulis simpulkan bahwa Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor itu yakni semi Banom yang memilki arti khas. Pada bahasa lainnya adalah Pasukan Langit Rijalul Ansor. Penjabaran tersebut hanya sekelumit yang penulis fahami, tentunya banyak keliru pada kata dan tulisan, semoga maklum adanya. (*)
Penulis adalah seorang santri di Kabupaten Lebak bagian selatan.
Advertisement
