Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Dua Jempol Buat Guru Gembul

Dua Jempol Buat Guru Gembul

Opini Minggu, 13 Oktober 2024 7:15 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Gufran Arrifai Kharisma

GazanaPublika.com –  Pada Rabu, 9 Oktober 2024, Aula Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia menjadi arena perdebatan terbuka bertema “Bisakah Keshahihan Akidah Islam Dibuktikan Secara Ilmiah?”. Diskusi ini diselenggarakan oleh Penerbit Keira dan dipublikasikan melalui kanal YouTube Kaifa Channel pada keesokan harinya. Fokus utama acara ini adalah untuk menjawab pertanyaan mendalam tentang apakah akidah Islam bisa dibuktikan secara ilmiah, suatu topik yang selama ini menjadi perdebatan panjang di kalangan pemikir dan cendekiawan Muslim.

Advertisement

Diskusi tersebut mempertemukan dua tokoh dengan latar belakang yang berbeda. Ustadz Muhammad Nuruddin, Lc., MA., seorang sarjana jebolan Universitas Al-Azhar yang dikenal luas melalui tulisan dan dakwahnya, berhadapan dengan Guru Gembul, seorang tokoh publik yang aktif di media sosial, terkenal karena pemikirannya yang kritis dan menantang pandangan-pandangan mapan. Guru Gembul sebelumnya menantang debat ini melalui kanal YouTube-nya, dan akhirnya debat tersebut terwujud di Universitas Indonesia.

Dipandu oleh Faiq Falahi, acara ini menarik perhatian banyak audiens yang antusias. Dalam debat tersebut, Ustadz Nuruddin mengemukakan bahwa akidah Islam, sebagai fondasi keimanan, melampaui batasan ilmu empiris. Menurutnya, meskipun ada aspek rasionalitas yang bisa dipahami melalui akal, kebenaran tertinggi dalam akidah hanya bisa dijangkau melalui wahyu, yang berada di luar jangkauan metode ilmiah yang terbatas pada pengalaman empiris.

Di sisi lain, Guru Gembul menekankan pentingnya pendekatan rasional dan ilmiah dalam memahami keyakinan. Ia merujuk pada tradisi filsafat dan metode ilmiah modern, mengusulkan bahwa setiap keyakinan, termasuk akidah, seharusnya bisa diuji secara logis dan empiris. Dalam pandangannya, integrasi antara akal dan wahyu harus melibatkan pengujian terhadap keyakinan, termasuk menggunakan metode ilmiah.

Debat ini mencerminkan perbedaan pendekatan antara keduanya: Ustadz Nuruddin yang lebih mengedepankan peran wahyu dan spiritualitas yang fapat di-ilmiahkan sedangkan Guru Gembul yang mendukung pendekatan yang lebih rasional dan metodologis bukan pada persoalan akidah dan ketauhidan. Statmen ini pernah diungkapkan guru Gembul saat berdiskusi di Rabithah Alawiyah.

Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang pertarungan gagasan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk merenungkan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi atau bahkan bertentangan dalam upaya memahami akidah Islam.

Dengan latar belakang pemikiran yang berbeda, acara ini memberikan wawasan yang kaya tentang bagaimana akidah bisa dipandang dari berbagai sudut, baik yang mengedepankan aspek wahyu maupun pendekatan ilmiah.

Dalam tulisan ini penulis ingin mengungkapkan persepsi ‘ilmiah’ dalam berbagai pemahaman akademis, teologus dan kultural. Tampaknya Ustafz Nuruddin tidak bisa memilah persepsi-persepsi tersebut.

Pemahaman tentang istilah “ilmiah” memiliki variasi tergantung pada bahasa dan tradisi yang melingkupinya. Ada perbedaan signifikan antara pengertian ilmiah dalam bahasa Arab, ilmiah dalam bahasa Indonesia, dan konsep scient atau scientific (saintifik) dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan pemahaman ilmu pengetahuan modern yang lahir di Barat (Westernisme). Perbedaan ini tidak hanya soal bahasa, tetapi juga menyangkut sejarah, tradisi filosofis, serta cara pandang terhadap pengetahuan.

Ilmiah dalam Bahasa Arab

Dalam bahasa Arab, istilah ilmiah berasal dari kata dasar ‘ilm’ yang berarti ilmu atau pengetahuan. Konsep ilmiah dalam tradisi keilmuan Arab dan Islam memiliki cakupan yang luas. Ilmu (‘ilm) tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan empiris yang bisa dibuktikan melalui eksperimen atau observasi, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan batin dan keagamaan, dipahami melalui pengalaman akal dan batin. Dengan kata lain, ilmu dalam tradisi Islam mencakup dua aspek utama:

a. Ilmu Zahir

Ini adalah ilmu yang bisa diamati dan dipahami dengan indra atau pemikiran rasional yang logis. Contoh ilmu zahir ini meliputi bidang-bidang seperti sains, matematika, dan filsafat, di mana pengetahuan dapat dibuktikan melalui observasi dan akal. Sebuah diskusi warung kopi pun bisa dipandang ilmiah apabila bisa memberikan pemahaman, informasi dan pengetahuan. Itu berarti ilmu.

BACA JUGA:  Menggali Sumber Pendanaan Negara, Ini Dia!

b. Ilmu Batin

Ini adalah jenis ilmu yang sifatnya lebih spiritual, termasuk pengetahuan tentang dimensi metafisik atau non-empiris. Dalam tradisi tasawuf (sufisme), pengetahuan batin bisa diperoleh melalui pembersihan jiwa dan amalan-amalan spiritual seperti pembacaan hizib atau doa-doa tertentu. Meskipun tidak dapat dibuktikan secara empiris, pengetahuan batin ini diakui valid dalam tradisi Islam dan dianggap memiliki hikmah (kebijaksanaan) yang mendalam.

Dalam tradisi keilmuan Arab dan Islam, pemahaman tentang ilmiah mencakup apa yang bisa dibuktikan melalui akal (aqliyah) maupun pengalaman batin. Bahkan, praktik-praktik spiritual seperti hizib—bacaan tertentu yang diyakini memiliki kekuatan spiritual—dianggap sebagai bagian dari praktik ilmu walaupun tidak bersifat empirik sepanjang pengetahuan tersebut bisa dijangkau. Oleh karenanya ilmu kalam pun ilmu berbasis akal (aqliyah) dan adalah suatu keabsahan melakukan penalarsn tersebut tetap disebut ilmiah namun tidak disebut scient atau tidak bersifat scientifik. Oleh karenanya, pengetahuan agama lebih tetap disebut logika teologus karena memggunakan penerapan logika secara khusus dan khas. Corak logika yang digunakan seperti logika murni, logika analogis dan sebagainya

Scientific dalam Bahasa Inggris

Di sisi lain, istilah scient atau scientific dalam bahasa Inggris merujuk pada konsep ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Barat, terutama sejak zaman modern. Pemahaman tentang scientific atau ilmiah dalam konteks ini sangat terkait dengan metode ilmiah yang berbasis pada observasi, eksperimen, dan pembuktian empiris. Proses ini berkembang melalui beberapa fase penting dalam sejarah filsafat, dimulai dari filsafat metafisika hingga metode ilmiah modern.

Sejarahnya sangat panjang, namun mencoba diringkas sedikit menjadi fase-fase tersebut meliputi:

a. Filsafat Metafisika

Pada awalnya, filsuf seperti Plato dan Aristoteles–bahkan jauh sebelum itu di zaman Thales–menggali pertanyaan mendasar tentang eksistensi. Apa yang disebut ada? Dalam filsafat metafisika, filsuf berusaha memahami hakikat realitas, baik yang kasat mata maupun yang tidak terlihat. Aristoteles, misalnya, memperkenalkan konsep “substansi” dan “esensi” sebagai bagian dari usaha memahami dunia fisik dan non-fisik. Pemikiran ini mendasari banyak konsep dalam sains dan filsafat Barat.

b. Filsafat Teologis

Perkembangan pemikiran teologis yang mengintegrasikan akal dan wahyu sudah dimulai sejak zaman para teolog awal seperti Origenes, Tertullianus, dan Santo Agustinus dan sebagainya. Mereka berusaha memahami bagaimana kebenaran ilahi dapat dijelaskan dan dihubungkan dengan pemikiran rasional. Pemikiran mereka menjadi fondasi bagi upaya selanjutnya dalam menyatukan filsafat dan teologi.

Pada fase ini, muncul tokoh besar seperti Thomas Aquinas yang berusaha secara sistematis mengintegrasikan filsafat dengan teologi. Aquinas berargumen bahwa manusia bisa menggunakan akal untuk memahami sebagian kebenaran Tuhan, meskipun tidak semua kebenaran ilahi dapat dijangkau oleh akal manusia. Ada kebenaran yang hanya bisa dipahami melalui wahyu, tetapi Aquinas menekankan bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi.

Thomas Aquinas menggabungkan ajaran Aristoteles, khususnya konsep tentang substansi, kausalitas, dan logika, dengan teologi Kristen. Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai skolastik, sebuah metode yang menggunakan rasionalitas untuk mendalami dan menjelaskan doktrin-doktrin keagamaan. Skolastik menekankan pentingnya menggunakan akal budi sebagai alat untuk mendekati pemahaman teologis, sekaligus mengakui keterbatasan akal dalam menjangkau kebenaran mutlak tentang Tuhan..

3. Logika Murni

Filsuf seperti René Descartes kemudian memperkenalkan pendekatan logika murni. Dalam karyanya Meditations on First Philosophy, Descartes memperkenalkan metode skeptisisme radikal di mana dia meragukan segala sesuatu kecuali hal-hal yang jelas bisa dibuktikan oleh akal. Descartes menyatakan, “Cogito, ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada) sebagai dasar dari semua pengetahuan. Dengan ini, ia menekankan pentingnya rasionalitas dalam mencari kebenaran, meskipun pada tahap awal filsafat ini belum sepenuhnya empiris.

BACA JUGA:  Diplomasi Sepak Bola Iran di Tengah Ketegangan Politik Iran–AS

d. Empirisme

Pada fase ini, pemikiran ilmiah berkembang lebih lanjut melalui empirisme, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Francis Bacon dan John Locke. Bacon memperkenalkan metode induktif, yang mengutamakan pengamatan dan eksperimen sebagai sumber pengetahuan. Locke menekankan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi. Pemikiran ini menjadi dasar dari metodologi ilmiah modern, yang menekankan pentingnya pembuktian empiris dan uji coba berulang untuk menghasilkan kebenaran ilmiah.

Melalui fase-fase ini, metodologi ilmiah modern (scientific method) lahir, yang menekankan langkah-langkah sistematis dalam memperoleh pengetahuan: mulai dari observasi, hipotesis, eksperimen, hingga verifikasi. Kebenaran ilmiah hanya diakui jika bisa dibuktikan melalui metode ini, dan itulah yang membedakan scientific dari bentuk pengetahuan lainnya.

Ilmiah Dalam Istilah Masyarakat Indonesia

Dalam konteks Indonesia, istilah “ilmiah” tidak hanya dipengaruhi oleh tradisi ilmiah Barat, tetapi juga oleh berbagai pendekatan agama Islam yang menjadi agama mayoritas maupun tradisi lokal dan kultural. Pemahaman tentang ilmiah dalam masyarakat Indonesia sering kali dihimpit oleh beberapa perspektif terminologis tersebut yakni baik tradisi modern Barat, Islam, maupun tradisi lokal.

a. Ilmiah Dipahami dalam Perspektif Modern Barat

Dalam dunia akademis Indonesia, istilah “ilmiah” sering kali merujuk pada konsep scientific seperti yang berkembang di dunia Barat. Ini berarti bahwa ilmu pengetahuan yang dianggap ilmiah harus melalui metode ilmiah yang ketat, mencakup observasi, eksperimen, dan pembuktian empiris. Penelitian-penelitian di universitas dan lembaga riset di Indonesia umumnya mengadopsi metode ini sebagai standar.

Dalam perspektif ini dipahami bahwa agama tidak ilmiah karena pendekatannya atas dasar keyakinan dan kepercayaan lalu apabila di dalamnya terdapat pendekatan-pendekatan logis atau nalar atau aqliyah bahwa hal tersebut digunakan secara khas dalam ruang Kepercayaan dan keyakinan bukan ruang ilmiah di dalam perspektif saintifik.

b. Ilmiah Dipahami Dalam Pendekatan Teologis Islam

Namun, di Indonesia, konsep “ilmiah” juga sering dikaitkan dengan tradisi keilmuan Islam, seperti ilmu fiqih (hukum Islam) dan ilmu kalam (teologi). Dalam konteks ini, ilmiah diartikan sebagai pengetahuan yang dihasilkan melalui pendekatan rasional dan berdasarkan dalil-dalil agama. Meski tidak selalu empiris seperti dalam sains modern, ilmu fiqih dan kalam dianggap ilmiah karena mengikuti metode rasional yang sistematis.

c. Ilmiah Dalam Pendekatan Kultural

Selain itu, istilah “ilmiah” dipahami sebagai ilmu, dalam masyarakat Indonesia juga sering digunakan untuk merujuk pada pengetahuan dan praktik yang bersifat tradisional atau kultural, seperti ilmu gaib, ilmu kebatinan, dan ilmu kedikjayaan. Meskipun ilmu-ilmu ini tidak sejalan dengan metode ilmiah modern, banyak masyarakat yang tetap menganggapnya sebagai bagian dari ilmu yang sah, terutama dalam konteks budaya lokal.

Dalam masyarakat Indonesia, konsep ilmiah mencakup spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan pemahaman ilmiah dalam tradisi Barat. Ini menunjukkan adanya interaksi antara berbagai tradisi keilmuan—baik yang bersifat empiris, teologis, maupun kultural—yang berkembang dan saling mempengaruhi dalam konteks lokal.

Pemahaman tentang istilah ilmiah berbeda antara bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Dalam bahasa Arab, ilmiah mencakup ilmu zahir dan batin yang bisa dijangkau oleh akal maupun pengalaman spiritual. Dalam bahasa Inggris, ilmiah (scientific) adalah proses metodologis yang melalui berbagai fase filsafat hingga melahirkan metode ilmiah modern yang berbasis pada observasi dan eksperimen empiris. Sementara itu, dalam konteks Indonesia, ilmiah dipengaruhi oleh tradisi Barat, Islam, dan kultural, mencakup ilmu empiris, teologis, dan bahkan pengetahuan tradisional seperti ilmu gaib dan kebatinan.

Penulis adalah pemerhati dunia ilmiah dan filsafat

Advertisement

Guru
Gufran Al Rifai Kalijabbar

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.