Advertisement
GazanaPublika.com – Pada saat ini, banyak orang memprediksi bahwa Pemilihan Umum 2024 akan berlangsung dalam satu putaran. Hal ini dikarenakan survei menempatkan Prabowo, kisaran di angka 43% – 50% (angka di bagian bawah tulisan ini). Capaian angka minimum dan maksimum yang disebutkan di atas mencerminkan kondisi dukungan signifikan terhadap Prabowo-Gibran, dan kemungkinan besar pada saat pemilu angka tersebut bisa melampaui 50%, berkat efektivitas mesin politik mereka.
Tidaklah mustahil bagi Prabowo-Gibran untuk mencapai angka di atas 50%, karena grafik dukungan mereka terus meningkat. Hal ini terlihat dari manuver politik yang secara langsung atau melalui media berhasil memengaruhi preferensi pemilih. Dengan sederhana, raihan suara saat ini menurut survei berada di kisaran 43% lebih, dan bagi mereka yang condong Prabowo-Gibran akan meyakini lebih dari 50% dan bukanlah sesuatu yang sulit diwujudkan, faktanya hal tersebut sangat mungkin terjadi.
Advertisement
Sebaliknya, bagi lawan politiknya, baik Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo, dikatakan sangat mustahil untuk meningkatkan dukungan mereka dari kondisi saat ini untuk mencapai lebih dari 50%. Oleh karena itu, sangat wajar apabila pendukung Prabowo-Gibran meyakini bahwa Pemilu 2024 akan berlangsung dalam satu putaran saja, meskipun lawan politik mereka mengusulkan kemungkinan adanya dua putaran.
Namun, di luar semua itu, semua kemungkinan tetap terbuka. Mari kita analisis bagaimana konfigurasi peta politik akan terbentuk ketika terjadi dua putaran.
Pertama, dalam skenario dua putaran, contoh jika pasangan Anies Baswedan-Cak Imin mengalami kekalahan, dapat diantisipasi bahwa partai Nasdem dan PKB akan segera mendukung kubu Prabowo-Gibran, bergabung dengan partai koalisi yang mendukung Prabowo-Gibran. Keputusan ini berangkat dari kedekatan NasDem dengan Jokowi, baik secara personal maupun dari segi kepentingan, dan Jokowi menjadi faktor pengikat utama bagi keikutsertaan NasDem dalam TKN (Tim Kampanye Nasional).
Meskipun Partai Nasdem melakukan manuver membentuk kubu sendiri dan merekrut Anies Baswedan sebagai capres, ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan persepsi negatif Surya Paloh terhadap Jokowi atau menciptakan konflik dengan Jokowi. Sebaliknya, keberadaan NasDem dengan Anies diarahkan untuk memanfaatkan peluang politik, mencapai puncak dukungan politik, atau memperbesar basis suara partainya melalui momen kontestasi pemilu.
Perlu ditekankan bahwa strategi NasDem ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan ketegangan dengan Jokowi; sebaliknya, partai tersebut berupaya mengoptimalkan situasi politik dengan memanfaatkan momentum dan dukungan terhadap Anies Baswedan.
PKB, meskipun tidak tergolong dekat dengan Jokowi, dikenal sebagai partai yang cerdas dalam memanfaatkan peluang politik. Dengan demikian, kemungkinan besar PKB juga akan memilih untuk bergabung dengan TKN. Sebagai konsekuensinya, PKS akan memilih untuk menjadi partai oposisi.
Dalam posisi ini, PKS akan ambigu dan tidak akan bergabung dengan TKN maupun TPN. PKS memiliki kepribadian yang idealis, namun juga dipengaruhi oleh faktor gengsi. Oleh karena itu, PKS enggan bergabung dengan kubu TKN yang didominasi oleh Jokowi, dan juga menolak untuk bergabung dengan TPN yang memiliki hubungan masa lalu yang kurang baik dengan Megawati Soekarnoputri.
Dalam konteks ini, jika Ganjar Pranowo bertarung langsung dengan pasangan Prabowo-Gibran, akan sulit bagi Ganjar untuk mencapai kemenangan karena kurangnya penambahan dukungan yang signifikan dalam situasi tersebut.
Kedua, apabila kubu pasangan Ganjar Mahfud mengalami kekalahan, kemana dukungan partainya akan beralih? Untuk PPP, sudah pasti akan membuang dukungannya kepada TKN karena memiliki kedekatan dengan Golkar. Namun, bagaimana dengan Megawati Soekarnoputri?
Megawati Soekarnoputri terkenal sebagai sosok yang jarang mendengarkan nasihat dari anggota partainya. Tradisinya menempatkan otoritas penuh pada dirinya sebagai pemutus kebijakan. Sebagai pemimpin PDIP, Megawati sangat dihormati dan ditaati, baik di dalam struktur baru PDIP maupun di masa militan PDIP yang didominasi oleh nasionalis fanatis yang sangat setia pada bendera berkepala banteng.
Meskipun pada masa lalu Megawati menunjukkan ketegasannya dengan menarik dukungannya dari Jokowi ketika ia hendak mendukung Prabowo Subianto, namun dengan militansi yang kuat dari basis PDIP, dukungan kemudian dialihkan kepada Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.
Dalam dinamika politik saat ini, dari berbagai pernyataan politik dan isyarat yang muncul, terlihat adanya kemungkinan koalisi antara PDIP dan Prabowo-Gibran. Meskipun saat ini Megawati tampaknya merasa tidak puas dengan manuver Jokowi, namun kondisi tersebut mungkin hanya sementara dalam momentum politik yang ada. Jokowi bisa saja melakukan manuver dengan mendatangi Megawati dan pada saat itu Megawati dapat menunjukkan dukungannya kepada Prabowo-Gibran. Di sisi lain, Megawati sebenarnya memiliki kedekatan dengan Prabowo Subianto yang mungkin tidak terlihat di permukaan.
Jika kondisi ini terjadi, pertarungan antara TKN yang mengusung Prabowo-Gibran akan berhadapan dengan Timnas Anies Baswedan dan Cak Imin. Seandainya terjadi riak-riak dari massa PDIP yang tidak setuju dengan bergabungnya partai tersebut dengan TKN, sebagian dari PDIP mungkin akan bergabung dengan kubu Anies Baswedan-Cak Imin. Namun, perpindahan massa PDIP ke kubu Cak Imin tidak akan terjadi sepenuhnya, karena sebagian besar dari mereka akan tetap setia dengan dukungan pasangan Prabowo-Gibran.
Demikianlah analisis politik ini, semuanya akan menjadi jelas ketika telah menjadi kenyataan. Prediksi ini akan terbukti benar atau tidaknya saat kenyataan tersebut terwujud.
Sumber-sumber survei adalah sebagai berikut:
1. Lembaga survei asing, Roy Morgan, merilis hasil jajak pendapat terbaru untuk Pemilu 2024 di Indonesia. Elektabilitas Prabowo mencapai 43%, diikuti oleh Ganjar dengan 30%, dan Anies dengan 24%. Berdasarkan data ini, Pilpres 2024 diprediksi dua putaran, dan Prabowo diyakini bisa memenangkan putaran pertama dengan syarat mendapatkan 50 persen suara plus satu suara. (Sumber: CNBCIndonesia.com)
2. Hasil survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia Denny JA menunjukkan elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran unggul dengan 46,6%, sedangkan pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud bersaing ketat dengan elektabilitas masing-masing 22,8% dan 24,8%. Meskipun demikian, belum dapat dipastikan apakah pemilihan presiden akan berlangsung satu atau dua putaran. Survei dilakukan dengan metode tatap muka pada 3-11 Januari 2024 terhadap 1.200 responden di seluruh Indonesia, dengan margin of error sebesar 2,9 persen. (Sumber: Kompas.com)
3. Hasil pemungutan suara oleh IPS menunjukkan Prabowo-Gibran berada di puncak dengan 51,8%, diikuti Anies-Muhaimin 21,3%, dan Ganjar-Mahfud 19,2%. Sebanyak 7,7% masyarakat masih belum membuat keputusan. Peneliti IPS, Alfin Sugianto, menyebut hasil ini dipengaruhi oleh debat capres pada 7 Januari 2024, di mana kinerja Ganjar-Anies menjadi bumerang, menciptakan simpati terhadap Prabowo.(Sumber: Bisnis.com)
Advertisement
Advertisement
