Advertisement
GazanaPublika.com – Asal mula kebohongan sering kali berakar dari dalam diri seseorang. Hanya saja, bentuk kebohongan itu sangat beragam. Ada orang yang secara sadar mengetahui bahwa dirinya sedang berbohong. Ketika ditanya oleh orang lain mengenai sesuatu, ia memberikan alasan yang tampak masuk akal—dan bahkan memaksakan alasan itu kepada orang lain—untuk menutupi kebohongan tersebut. Inilah yang disebut alibi.
Namun, ada juga orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berbohong—baik kepada orang lain apalagi kepada dirinya sendiri. Contoh misalkan, seorang ahli agama yang juga berprofesi sebagai politisi. Antara peran politik dan statusnya sebagai tokoh agama, sering kali terjadi benturan di dalam kesadarannya. Suatu saat, ia mengumumkan bahwa dirinya sedang bersedekah kepada anak yatim. Ia meyakinkan orang lain, bahkan dirinya sendiri, bahwa sedekah itu dilakukan secara ikhlas demi kepentingan anak-anak yatim. Padahal, tanpa disadarinya, di balik tindakan tersebut tersembunyi motif politik—misalnya untuk menarik simpati publik demi kepentingan pencalonannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Seberapa pun banyaknya pembenaran yang ia buat, tetap saja ia tidak menyadari bahwa motivasi utama dari sedekah itu adalah demi ambisi politik. Bahkan ada yang sampai berani bersumpah atas nama Tuhan bahwa tindakannya murni karena dorongan agama.
Advertisement
Dari sudut pandang ini, orang seperti itu termasuk dalam kategori pembohong besar, meskipun tidak menyadari kebohongannya. Ini adalah kondisi yang cukup serius. Apa penyebabnya? Sederhana saja: ia tidak pernah mau jujur terhadap dirinya sendiri dan selalu merasa benar dalam setiap tindakan. Ketika ditanya orang lain tentang motif perbuatannya, ia akan memberi alibi—dan parahnya, ia sendiri tidak sadar bahwa itu adalah alibi. Rasa merasa benar dan dominasi hawa nafsu telah menutup mata hatinya dari kebenaran. Orang seperti ini sangat sulit dinasihati, karena ia selalu mencari pembenaran atas setiap tindakan yang dilakukannya.
Fenomena seperti ini tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, bisa jadi kita sendiri pun sedang atau pernah mengidap penyakit hati semacam ini. Oleh karena itu, kita perlu bersikap jujur di hadapan Allah dan rajin melakukan introspeksi diri. Kita harus bertanya dengan jujur: apakah yang kita lakukan benar-benar tulus karena Allah, ataukah masih terselip kepentingan diri dan hawa nafsu yang tidak kita sadari?
Allah SWT tetap akan mengadili setiap manusia, meskipun orang itu tidak menyadari kekeliruannya. Sebab kesadarannya yang dikendalikan oleh hawa nafsu akan membuat kebohongan terasa sebagai kebenaran.
Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi pada tokoh agama atau politisi. Ia juga bisa muncul di berbagai bidang, seperti dunia usaha, kegiatan sosial, bahkan profesi apa pun. Ketika seseorang sudah terbiasa hidup dalam kepura-puraan, ia akan menyangka bahwa motif tersembunyinya adalah benar.
Karena itu, kenalilah diri kita dengan jujur. Tanyakan kepada hati kita sendiri: seperti apa sebenarnya diri kita ini? Jika ditemukan kesalahan, luruskanlah di hadapan Allah dan wujudkanlah perbaikannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Sebab, benar atau salahnya suatu perbuatan pada akhirnya bergantung pada keikhlasan dan kemurnian niat di dalam hati kita sendiri.
Advertisement
