Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Alibi dan Kebohongan Tak Sadar

Alibi dan Kebohongan Tak Sadar

Tasawuf Elegan Minggu, 1 Juni 2025 7:15 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com –  Asal mula kebohongan sering kali berakar dari dalam diri seseorang. Hanya saja, bentuk kebohongan itu sangat beragam. Ada orang yang secara sadar mengetahui bahwa dirinya sedang berbohong. Ketika ditanya oleh orang lain mengenai sesuatu, ia memberikan alasan yang tampak masuk akal—dan bahkan memaksakan alasan itu kepada orang lain—untuk menutupi kebohongan tersebut. Inilah yang disebut alibi.

Namun, ada juga orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berbohong—baik kepada orang lain apalagi kepada dirinya sendiri. Contoh misalkan, seorang ahli agama yang juga berprofesi sebagai politisi. Antara peran politik dan statusnya sebagai tokoh agama, sering kali terjadi benturan di dalam kesadarannya. Suatu saat, ia mengumumkan bahwa dirinya sedang bersedekah kepada anak yatim. Ia meyakinkan orang lain, bahkan dirinya sendiri, bahwa sedekah itu dilakukan secara ikhlas demi kepentingan anak-anak yatim. Padahal, tanpa disadarinya, di balik tindakan tersebut tersembunyi motif politik—misalnya untuk menarik simpati publik demi kepentingan pencalonannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Seberapa pun banyaknya pembenaran yang ia buat, tetap saja ia tidak menyadari bahwa motivasi utama dari sedekah itu adalah demi ambisi politik. Bahkan ada yang sampai berani bersumpah atas nama Tuhan bahwa tindakannya murni karena dorongan agama.

Advertisement

Dari sudut pandang ini, orang seperti itu termasuk dalam kategori pembohong besar, meskipun tidak menyadari kebohongannya. Ini adalah kondisi yang cukup serius. Apa penyebabnya? Sederhana saja: ia tidak pernah mau jujur terhadap dirinya sendiri dan selalu merasa benar dalam setiap tindakan. Ketika ditanya orang lain tentang motif perbuatannya, ia akan memberi alibi—dan parahnya, ia sendiri tidak sadar bahwa itu adalah alibi. Rasa merasa benar dan dominasi hawa nafsu telah menutup mata hatinya dari kebenaran. Orang seperti ini sangat sulit dinasihati, karena ia selalu mencari pembenaran atas setiap tindakan yang dilakukannya.

Fenomena seperti ini tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, bisa jadi kita sendiri pun sedang atau pernah mengidap penyakit hati semacam ini. Oleh karena itu, kita perlu bersikap jujur di hadapan Allah dan rajin melakukan introspeksi diri. Kita harus bertanya dengan jujur: apakah yang kita lakukan benar-benar tulus karena Allah, ataukah masih terselip kepentingan diri dan hawa nafsu yang tidak kita sadari?

Allah SWT tetap akan mengadili setiap manusia, meskipun orang itu tidak menyadari kekeliruannya. Sebab kesadarannya yang dikendalikan oleh hawa nafsu akan membuat kebohongan terasa sebagai kebenaran.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi pada tokoh agama atau politisi. Ia juga bisa muncul di berbagai bidang, seperti dunia usaha, kegiatan sosial, bahkan profesi apa pun. Ketika seseorang sudah terbiasa hidup dalam kepura-puraan, ia akan menyangka bahwa motif tersembunyinya adalah benar.
Karena itu, kenalilah diri kita dengan jujur. Tanyakan kepada hati kita sendiri: seperti apa sebenarnya diri kita ini? Jika ditemukan kesalahan, luruskanlah di hadapan Allah dan wujudkanlah perbaikannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Sebab, benar atau salahnya suatu perbuatan pada akhirnya bergantung pada keikhlasan dan kemurnian niat di dalam hati kita sendiri.

Advertisement

Tasawuf
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.