Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Mengenali Sifat Membangkang dalam Diri: Refleksi dari Kisah Iblis

Mengenali Sifat Membangkang dalam Diri: Refleksi dari Kisah Iblis

Tasawuf Elegan Minggu, 29 Juni 2025 18:14 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Sumber Foto: Tafsiralquran.id

Advertisement

 مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Proses mengenal diri bukanlah sesuatu yang instan. Ia membutuhkan waktu yang panjang, ketekunan, dan kejujuran dalam melihat sisi positif maupun negatif dalam diri kita. Terlebih, dalam konteks hubungan kita dengan Tuhan, proses ini menjadi semakin penting. Kita tidak cukup hanya mengenali karakter secara umum, tetapi juga perlu memahami sifat-sifat khusus yang mungkin tersembunyi di balik perilaku kita sehari-hari.

Salah satu sifat khusus yang penting untuk dikenali adalah sifat membangkang. Apakah sifat ini ada dalam diri kita?

Sejarah mencatat bahwa sifat membangkang pertama kali muncul dari iblis, ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan memerintahkan iblis untuk bersujud kepadanya. Iblis menolak. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah, yang dianggapnya lebih rendah. Sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al-A’raf [7]:12:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ

“Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab: ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’”

Akibat kesombongannya itu, Allah murka dan mengusir iblis dari surga. Ia pun menjadi makhluk terkutuk, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an.

Namun yang menarik adalah bahwa sifat membangkang ini ternyata juga ada dalam diri manusia. Mungkin tidak tampak secara kasat mata, tetapi bisa hadir dalam bentuk penolakan dalam hati terhadap kebenaran yang datang dari Allah, Rasul, guru, orang tua, atau pemimpin. Inilah bentuk pembangkangan paling awal dan paling halus—sebuah penolakan batiniah terhadap kebaikan atau perintah yang seharusnya ditaati.

Tingkatan membangkang pun beragam. Ada yang menolak ajakan salat dengan ucapan sinis, seperti “Ngapain salat? Orang yang salat juga bisa masuk neraka.” Ungkapan seperti ini bukan hanya sinis, tapi juga menunjukkan perlawanan terhadap nilai-nilai kebenaran. Ini adalah bentuk pembangkangan spiritual yang membahayakan.

Sifat ini juga bisa muncul dalam relasi murid dan guru, anak dan orang tua, bahkan karyawan dan atasan. Penolakan diam-diam, sikap masa bodoh, atau perlawanan pasif adalah bentuk pembangkangan yang sering kali tidak disadari. Bahkan saat seseorang merasa gajinya tidak sesuai dan menolak bekerja dengan benar, itu pun merupakan bentuk membangkang. Dalam situasi seperti itu, langkah bijak bukanlah melawan, tetapi mengundurkan diri dengan baik dan mencari jalan lain yang halal serta berkah.

Pembangkangan juga kerap terjadi dalam hubungan antara rakyat dan pemimpinnya. Mencaci, menghina, atau menghujat pemimpin adalah bentuk perlawanan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dan adab. Jika memang ada kebijakan yang keliru, seharusnya disampaikan dengan santun dan solusi yang konstruktif. Jika tidak mampu menyampaikan, maka diam adalah bentuk kesadaran diri bahwa mungkin kita belum cukup pantas untuk menasihati, dan lebih baik berbenah diri terlebih dahulu. Inilah ajaran tasawuf: berhikmah dalam sikap, bukan reaktif dalam amarah.

Kritik tentu diperbolehkan, bahkan dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi kritik berbeda dari hujatan. Kritik lahir dari dasar kriteria nilai yang benar, sedangkan hujatan lahir dari amarah dan ego. Kritik adalah upaya meluruskan, bukan menjatuhkan atau memberontak.

Maka, penting untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah dalam diri kita masih ada sifat membangkang? Jika iya, mari tingkatkan kesadaran dan lakukan introspeksi, sebagaimana yang dianjurkan oleh para sufi, perbaikan diri dimulai dari pengakuan akan kelemahan diri sendiri, bukan dari menyalahkan orang lain. Mari kita bertaubat jika sifat itu masih melekat sebab hal ini akan menghambat hubungan kita kepada Allah.

Semoga refleksi ini menjadi bahan perenungan dan bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini, semuanya dikembalikan kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Mengetahui. ***

Advertisement

Kisah Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.