Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Manusia pada dasarnya sangat dekat dengan kebencian. Hanya karena persoalan sepele, seseorang bisa membenci orang lain. Bahkan perilaku kecil yang dianggap biasa oleh pelakunya, bisa memantik kebencian dari orang lain. Ini terjadi karena manusia adalah makhluk yang cenderung cepat menilai, meskipun penilaian itu hanya berlangsung dalam alam pikirannya sendiri.
Advertisement
Ketika seseorang menilai orang lain dengan kacamata atau standar nilai yang ia anut, lalu mendapati bahwa orang lain tidak sesuai dengan standar tersebut, maka secara otomatis muncul penilaian — entah itu positif, entah negatif. Namun kenyataannya, manusia lebih cenderung fokus pada sisi negatif. Sementara sisi positif seringkali dianggap biasa, bahkan diabaikan. Padahal, idealnya penilaian terhadap orang lain haruslah seimbang: melihat kelebihan dan kekurangannya secara adil.
Masalah muncul ketika penilaian yang tidak sesuai dengan standar pribadi berkembang menjadi label atau cap negatif. Lalu muncullah gambaran dalam pikiran: “Oh, ternyata orang ini begini.” Penilaian ini kerap berubah menjadi bentuk justifikasi.
Padahal, kecenderungan untuk menjustifikasi adalah bagian dari bibit-bibit kebencian — terlebih jika didorong oleh hawa nafsu. Dan sifat semacam ini sulit dihindari oleh kebanyakan orang. Perbedaannya hanya terletak pada tingkat intensitas di masing-masing individu.
Dalam konteks tasawuf, salah satu tujuan utama adalah bagaimana menghilangkan kebencian dari hati. Ini tidak mudah, sebab manusia cenderung ingin menyamakan warna orang lain dengan warna dirinya sendiri. Padahal, perbedaan warna sikap dan tindakan adalah bagian dari sunnatullah — sebuah ketetapan Tuhan yang justru menampakkan keindahan dalam keragaman.
Lantas, bagaimana agar kita tidak mudah berprasangka, menilai secara berlebihan, atau membentuk citra negatif terhadap orang lain?
Jawabannya satu: kita perlu membesarkan rasa pemakluman terhadap keunikan dan warna-warni kepribadian orang lain, bahkan sekalipun kita menganggap mereka keliru. Kita tidak bisa — dan tidak boleh — memaksakan pakaian yang kita kenakan untuk juga dipakai oleh orang lain.
Menilai orang lain memang tidak dilarang, tetapi harus berdasarkan kapasitas. Misalnya, orang tua kepada anak, atau guru kepada murid. Jika kita ingin menyampaikan masukan kepada orang lain, lakukanlah dengan cara yang baik — dengan kata-kata yang tidak menyakitkan, tidak merendahkan, dan tetap menjaga martabatnya. Dalam kapasitas tertentu, seperti antara orang tua dan anak atau guru dan murid, teguran memang dibolehkan sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk membimbing.
Namun di luar kapasitas itu, kita hanya bisa memperluas pemahaman dan pemakluman.
Jika ditelisik lebih dalam, pemakluman yang sejati berakar pada sikap memaafkan, bahkan sebelum orang lain kita nilai bersalah. Dengan membesarkan rasa maklum, kita juga sedang membuka pintu agar orang lain pun bersikap serupa terhadap diri kita. Karena pada akhirnya, sikap ini bersifat timbal balik. Yuk, kita hindari memaksakan baju yang kita gunakan untuk digunakan kepada orang lain.
Dan pemakluman sejati hanya bisa muncul dari kelapangan jiwa. Maka belajarlah untuk berbesar hati atas kekurangan orang lain, sebab kita pun — jika jujur terhadap diri sendiri — menyadari bahwa kita juga menyimpan banyak kekurangan.
Advertisement
