Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Rasa Maklum dan Maaf

Rasa Maklum dan Maaf

Tasawuf Elegan Senin, 7 Juli 2025 6:49 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Manusia pada dasarnya sangat dekat dengan kebencian. Hanya karena persoalan sepele, seseorang bisa membenci orang lain. Bahkan perilaku kecil yang dianggap biasa oleh pelakunya, bisa memantik kebencian dari orang lain. Ini terjadi karena manusia adalah makhluk yang cenderung cepat menilai, meskipun penilaian itu hanya berlangsung dalam alam pikirannya sendiri.

Advertisement

Ketika seseorang menilai orang lain dengan kacamata atau standar nilai yang ia anut, lalu mendapati bahwa orang lain tidak sesuai dengan standar tersebut, maka secara otomatis muncul penilaian — entah itu positif, entah negatif. Namun kenyataannya, manusia lebih cenderung fokus pada sisi negatif. Sementara sisi positif seringkali dianggap biasa, bahkan diabaikan. Padahal, idealnya penilaian terhadap orang lain haruslah seimbang: melihat kelebihan dan kekurangannya secara adil.

Masalah muncul ketika penilaian yang tidak sesuai dengan standar pribadi berkembang menjadi label atau cap negatif. Lalu muncullah gambaran dalam pikiran: “Oh, ternyata orang ini begini.” Penilaian ini kerap berubah menjadi bentuk justifikasi.
Padahal, kecenderungan untuk menjustifikasi adalah bagian dari bibit-bibit kebencian — terlebih jika didorong oleh hawa nafsu. Dan sifat semacam ini sulit dihindari oleh kebanyakan orang. Perbedaannya hanya terletak pada tingkat intensitas di masing-masing individu.

Dalam konteks tasawuf, salah satu tujuan utama adalah bagaimana menghilangkan kebencian dari hati. Ini tidak mudah, sebab manusia cenderung ingin menyamakan warna orang lain dengan warna dirinya sendiri. Padahal, perbedaan warna sikap dan tindakan adalah bagian dari sunnatullah — sebuah ketetapan Tuhan yang justru menampakkan keindahan dalam keragaman.

Lantas, bagaimana agar kita tidak mudah berprasangka, menilai secara berlebihan, atau membentuk citra negatif terhadap orang lain?

Jawabannya satu: kita perlu membesarkan rasa pemakluman terhadap keunikan dan warna-warni kepribadian orang lain, bahkan sekalipun kita menganggap mereka keliru. Kita tidak bisa — dan tidak boleh — memaksakan pakaian yang kita kenakan untuk juga dipakai oleh orang lain.

Menilai orang lain memang tidak dilarang, tetapi harus berdasarkan kapasitas. Misalnya, orang tua kepada anak, atau guru kepada murid. Jika kita ingin menyampaikan masukan kepada orang lain, lakukanlah dengan cara yang baik — dengan kata-kata yang tidak menyakitkan, tidak merendahkan, dan tetap menjaga martabatnya. Dalam kapasitas tertentu, seperti antara orang tua dan anak atau guru dan murid, teguran memang dibolehkan sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk membimbing.

Namun di luar kapasitas itu, kita hanya bisa memperluas pemahaman dan pemakluman.

Jika ditelisik lebih dalam, pemakluman yang sejati berakar pada sikap memaafkan, bahkan sebelum orang lain kita nilai bersalah. Dengan membesarkan rasa maklum, kita juga sedang membuka pintu agar orang lain pun bersikap serupa terhadap diri kita. Karena pada akhirnya, sikap ini bersifat timbal balik. Yuk, kita hindari memaksakan baju yang kita gunakan untuk digunakan kepada orang lain.

Dan pemakluman sejati hanya bisa muncul dari kelapangan jiwa. Maka belajarlah untuk berbesar hati atas kekurangan orang lain, sebab kita pun — jika jujur terhadap diri sendiri — menyadari bahwa kita juga menyimpan banyak kekurangan.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.